(Ceritanya) Ulasan Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

12 Desember 2014 § Tinggalkan komentar

11 Desember 2014,

Adalah salah satu hari di tahun ini yang paling saya tunggu karena isu Supernova akan diangkat menjadi film sudah terdengar setahun lalu, saat film Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (TKVDW) tayang. Film TKVDW buat saya sendiri (yang nggak baca novelnya tapi tahu isi ceritanya) adalah film yang menakjubkan dan berhasil menutup tahun 2013 dengan sangat luar biasa! Berbekal dari kekaguman saya akan suksesnya Soraya Films mengalihwahanakan 5cm dan TKVDW, tentu ekspektasi saya terhadap Supernova cukup tinggi. Ditambah, novel yang akan diangkat adalah Supernova, yang menjadi gebrakan baru pada 2001 karena pada saat itu belum (banyak) ada penulis yang berani menulis dengan bahasa sains yang njelimet. Serta, Dee, dikenal lebih dulu sebagai penyanyi tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku. Pada tahun itu, saya masih SD dan pernah mendengar bahwa Supernova memang meledak di pasaran. Tapi, sebagai anak SD, saya tak peduli dan berpikir “Ah, paling terkenal karena penulisnya adalah penyanyi.”

Pada 2012, Supernova Partikel terbit dan cukup ramai dibicarakan di Twitter. Saya awalnya tetap tidak tertarik membeli dan membaca, tetapi seorang teman yang bernama sama dengan saya mengatakan bahwa karya Dee sangat layak untuk dibaca. Dia pun terus menerus menekan saya untuk mencoba membaca karya Dee. Akhirnya saya mencoba jajal dengan Perahu Kertas dahulu (yang saat itu juga difilmkan) dan buat saya buku tersebut bisa membuat saya jatuh hati pada Dee. Kemudian, saya pun mencoba membaca Partikel. Hasilnya? Waw. Di Goodreads saya beri 5 bintang untuk buku tersebut. Selanjutnya, saya pun satu per satu baca dari KPBJ, Akar, dan Petir.

Hasilnya? Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) membuat saya jatuh cinta dengan semua tokoh di dalamnya, terlebih pada Diva dan Gio. Setelah membaca itu, saya bertanya sendiri dalam hati “Apa mungkin ini bisa diangkat jadi film? Kayaknya akan sulit mencari sosok Diva. Dia harus lebih dari spesial dan istimewa.” dan di akhir 2014 pun pertanyaan saya terjawab. Film Supernova rilis, kemarin.

*

Ferre

Dalam 3 tahun, 3 kali melihat Herjunot Ali sebagai pemeran utama pria, cukup bosan tapi memang harus diakui bahwa aktingnya sangat bagus. Tetapi Junot buat saya tidak berhasil menjadi Ferre yang jatuh cinta pada Rana, Ferre di film ini tidak saya lihat sebagai Ferre yang merasa tertekan karena Rana memiliki suami, dan adegan bersama Rana tidak ada yang terlihat klik. Namun, berbeda ketika Ferre bertemu Diva. Buat saya Junot lebih berhasil ketika beradegan dengan Diva. Akting Junot di Supernova masih di bawah ketika dia bermain di TKVDW dan 5cm. Saya membaca atau mendengar entah dari mana saya lupa, Junot memang memiliki kontrak 6 film bersama Soraya Intercine Films, jadi ini sudah setengahnya. Apakah film Soraya selanjutnya kembali menampilkan Junot sebagai pemeran utama? Kita tunggu saja tahun depan.

Rana

Rana yang diperankan oleh Raline Shah menurut saya kurang dapet dari sisi seorang jurnalisnya. Kurang nerd dan Rana di sini terlalu cantik. Dalam bayangan saya ketika membaca novel ini, Rana adalah perempuan berkaca mata yang tidak doyan dandan dengan rambut kuncir kuda. Tetapi pada filmnya, Rana terlihat sangat berkelas. Tak ada adegan Rana-Ferre yang menyatu, tetapi ketika Rana berkomunikasi dalam hati itu baru saya dapatkan feel-nya. Adegan terbaik Raline dalam film ini ialah ketika dia menangis tersedu-sedu saat dipeluk Arwin, ketika akan melepaskannya. Ketika membaca novelnya, saya menangis, dan di film ini pun demikian.

Arwin

Saya pribadi belum menikmati setiap peran yang pernah Fedi Nuril perankan dalam film, sampai ke Supernova. Menjadi seorang suami yang sangat mencintai istri, sukses, dan berasal dari keluarga terpandang, mungkin bagi saya pribadi Fedi tidak sesuai untuk kriteria Arwin. Saya melihatnya seperti banyak tatapan kosong saja. Tetapi, ada dua adegan yang membuat saya kagum dengan Fedi Nuril dan saya akui sangat baik. Adegannya ialah saat Arwin emosi dan akan menembak Ferre dalam mimpi Rana. Adegan kedua ialah ketika Arwin mengetahui istrinya selingkuh dan memeluk Rana serta berkata bahwa dia merelakan Rana dengan Ferre. Sepertinya seisi bioskop juga melelehkan air mata, begitu juga dengan saya. Kalimat yang Arwin ucapkan di sana sangat indah dan diperankan Fedi Nuril dengan sangat baik.

Diva

Ketika disebutkan bahwa Paula Verhoeven yang akan memerankan Diva di film ini, saya langsung mencari tahu siapa dia. Setelah melihat, saya menurunkan ekspektasi saya karena saya tahu ini adalah film pertamanya. Ketika membaca komentar miring dari beberapa komentar tentang peran Paula, saya justru semakin menantang diri untuk berekspektasi lebih tinggi. Akhirnya sepanjang saya menyaksikan film itu, saya rasa Paula Verhoeven cukup berhasil menjadi Diva. Tidak terlalu memukau memang, tapi tidak seburuk yang orang komentari, khusus untuk saya. Diva yang saya bayangkan terjelma sempurna dalam bentuk visual akhirnya. Di bayangan saya Diva memang dingin, kaku, dan tidak banyak bicara tetapi sekali bicara menjadi sangat dalam maknanya. Paula Verhoeven berhasil membuat Diva benar-benar misterius sebagai Supernova.

Dimas

Siapa yang akan menyangka seorang Hamish Daud menjadi Dimas? Dalam bayangan saya tidak ada yang kebule-bulean. Saya mengunderestimate Hamish dalam menjalankan peran sebagai Dimas, saya juga tidak berharap Dimas memukau karena fokus cerita ialah Diva. Ternyata? Waw, di luar dugaan! Hamish Daud sangat berhasil. Cara dia berperan sebagai gay jenius dengan tatapan dalamnya berhasil membuat penonton di dalam bioskop berteriak ketika mengetahui bahwa Dimas dan Reuben penyuka sesama jenis. Saya puas dengan peran Dimas di sini!

Reuben

Saat disebut bahwa peran Reuben akan diambil oleh Arifin Putra, saya langsung berkomentar dengan kesal dan gemas, “Kenapa gak jadi Ferre aja siiiiih?!” Berdasar film yang pernah dia perankan, Arifin memang membuktikan bahwa aktingnya sangat baik. Maka dari itu, rasanya sampai sekarang masih gemas bahwa bukan Arifin Putra yang menjadi Ferre. Tetapi, Reuben yang sangat jenius pun diperankan sangat baik dan chemistry antara pasangan gay ini terasa sekali. Nerd-nya ada, dialog antara Reuben-Dimas berisi, emosi cinta homoseksual, dan gairah saat menulis ceritanya pun luar biasa!

Dari segi visual, seperti pada 5cm dan TKVDW, dalam Supernova pun pengambilan gambar dilakukan tidak main-main. Pemandangan laut, tebing, perkotaan, disajikan dengan sangat indah. Pemilihan tempat yang berkelas, furnitur-furnitur yang terdapat di dalam film hingga ke pensil yang digunakan Ferre-Rana pun baik sekali. Audio dengan suara menggelegar membuat emosi naik turun, was-was, dan jantung deg-degan pun sangat patut ditepuktangani dengan keras, dan lagu-lagu Nidji (meskipun saya sudah bosan 3 film Soraya Intercine Films soundtrack­nya Nidji lagi, Nidji lagi) masuk ke dalam film dan melebur menjadi cerita.

Hal yang menarik dari film ini, berhubung bergenre sci-fi, terdapat animasi-animasi yang dibuat seperti pada saat Dimas-Reuben mengalami badai Serotonin dengan animasi burung-burung terbang, atau molekul-molekul kecil. Animasi terbaiknya ialah saat diceritakan mengenai dongeng kesukaan Ferre kecil, yaitu Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Saya sangat senang karena animasi seperti itu dapat dihadirkan di dalam film. Sangat. Sangat. Senang!

Film ini dibuka dengan sangat baik melalui prolog dari Supernova, dari awal pertemuan Reuben-Dimas menarik, berlanjut dengan percintaan terlarang Ferre-Rana agak menjenuhkan tapi beruntung karena diselamatkan dengan sinematografi sempurna, ketika konflik menuju puncak baru terasa kembali tegang dan puncak konflik tervisualkan dengan begitu apik. Diteruskan menuju akhir cerita yang buat saya alurnya menjadi agak aneh antara terlalu diburu-buru atau justru beku karena ending film ini dibuat agak berbeda dari cerita pada novel. Untungnya tidak merusak cerita.

Secara keseluruhan, Supernova sangat layak untuk disaksikan. Penonton di sebelah kiri saya sepanjang film berlangsung terus berkomentar “Supernova itu siapa? Ferre bukan sih? Eh apa Diva? Ih ini kok aneh banget deh.” yang buat saya itu tandanya film ini berhasil membuat penonton berpikir karena keluar dari bioskop masih akan mencari tahu, penasaran, bertanya-tanya, akhirnya tidak akan sulit untuk dilupakan. Dari skala 1-10, saya beri 8.3 untuk Supernova.

Pertanyaannya: Apakah seri Supernova akan diangkat ke layar lebar juga? Saya tidak ingin berekspektasi. Apalagi Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang mengambil latar yang sangat banyak di negara lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan sih, karena KPBJ saja bisa, kan?

Terima kasih untuk Dee yang telah melahirkan Supernova, terima kasih Soraya Intercine Films yang telah membuat para pembaca Dee menyaksikan sosok Ferre-Rana-Diva dalam bentuk visual. Meskipun sedikit kecewa karena tidak ada Gio. Semoga proyek film selanjutnya akan kembali meledak seperti sebelumnya. J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading (Ceritanya) Ulasan Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: