Perasaan yang Tiba-tiba.

27 April 2014 § Tinggalkan komentar

Hai, selamat sore.

Saya menulis ini di luar dari self project ya..

Mungkin hampir di setiap bulan, ada saatnya saya benar-benar melankolis. Perasaan saya bisa tiba-tiba sensitif, menjadi begitu perasa. Saya tidak mengiyakan pun menolak bahwa sekarang sedang melankoli. Sesungguhnya, perasaan seperti ini ada baiknya serta tidaknya. Baiknya, saya bisa memanfaatkan untuk produktif menulis (berhubung saya sudah lama sekali tidak menulis dan membaca karena pikiran saya sedang fokus ke skripsi). Tidak baiknya, saya terlalu mengeruk perasaan saya hingga ke daging dan tulangnya. Membiarkan perasaan ini menjadi tangis dan sakit sendiri. Alasan dari itu semua apa? Adalah entah.

Awalnya, pernah saya kira bahwa saya sedang dalam masa sindrom pra-menstruasi. Namun, sampai saat ini saya rasakan.. Toh, ternyata waktunya tidak pas. Kemudian saya berasumsi bahwa karena hubungan saya dengan orang-orang sekitar sedang tidak begitu baik. Entah saya sedang bertengkar dengan seseorang atau pun sedang merindukan seseorang. Pernahkah kamu merindukan seseorang hingga kamu marah sendiri dibuatnya? Saya pernah. Maka, anggapan itu saya simpan terlebih dahulu. Kemudian saya berpikir lagi tentang faktor apa yang membuat perasaan keperempuanan saya begitu memancar. Saya menemukan bahwa situasi alam sangat berpengaruh. Saya mungkin pemerhati alam, saya penikmat panorama, saya pemuja matahari (seperti dalam beberapa posting saya). Saya mengamati hari ini, sedari pagi matahari tidak begitu cerah, awan pun abu, menjelang siang pun turun hujan. Kemudian saya menutup jendela sehingga kamar menjadi agak remang. Tiba-tiba perasaan saya meremang juga.

Lalu saya mengikuti perasaan yang tiba-tiba ini, saya ikuti dengan membuka linimasa di Twitter, membuka laman di Tumblr, membaca sebuah posting yang memang agak menyentuh.. Kemudian mata saya membasah. Semakin membaca tulisan lain, air mata saya membendung di ujung, dan pada akhirnya tumpah. Lalu saya menangis. Karena apa? Karena Entah.

Saya biarkan diri saya menangis, saya tidak memberhentikannya. Hingga air mata saya mengering. Hingga mata saya merasa cukup untuk menumpahkan terjunnya, dan terutama hingga perasaan saya lega. Ketika menangis tadi, memang saya merasa sakit hingga menggores tulang belulang, mengoyakkan daging, dan mengelupaskan kulit. Namun setelah berhenti, perasaan yang tiba-tiba tadi meremang menjadi tenang. Saya tutup mata saya dan menarik napas dalam-dalam…. Kemudian ada potongan-potongan gambar sendu entah tentang apa dalam pikiran saya. Menahan nafas sampai tak kuat lagi untuk menahan. Lalu saya embuskan dengan perlahan sambil membuka mata. Perlahan, potongan gambar-gambar sendu menjadi silau dan berganti dengan matahari. Hingga embusan napas saya habis, saya kembali memejam. Ketika memejam, sebuah gambar muncul dalam benak saya. Gambar tersebut adalah padang rumput yang hijau membentang sangat luas, dengan bukit di ujungnya, kemudian langit biru begitu indah, awan putih begitu terang, saya mendengar kicauan burung yang diikuti suara angin yang meniupkan rerumputan. Matahari, di atas sana seolah menghangatkan saya, melindungi saya. Ia menjaga. Saya tersenyum. Perasaan saya membaik seketika.

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perasaan yang Tiba-tiba. at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: