Terima Kasih, Sayang

27 Mei 2013 § Tinggalkan komentar

Cukup butuh kesabaran untuk dapat kembali ke sini dan menulis di sini. Maaf, sudah terlalu lama saya menghilang dan tidak memberi ‘nafkah’ pada laman ini. Sangat maaf. Kali ini, entah mungkin ini adalah kiriman terakhir atau tidak, aku akan menulis tentangnya. Tentang dia, yang sekarang menjadi pengisi hati.

Entah ini nantinya akan jadi apa, tak peduli kelak aku akan menyesal atau tidak karena menuliskan ini. Tulisan ini kubuat dengan sadar dan penuh rasa rindu,

Kamu, yang jauh beribu mil di sana, yang senantiasa menghubungiku satu kali dalam kurun waktu tujuh hari, terima kasih untuk mencuri waktumu yang hanya tidak sampai tigapuluh menit mengabari aku di sini. Meski zona waktu yang berbeda, kita berbicara di saat aku terbangun dan kamu beranjak tidur. Terima kasih, untuk setiap “Apa kabar?”-mu yang sampai sekarang selalu kamu ucapkan di awal pembicaraan kita. Terima kasih, untuk pembicaraan yang melulu sama saja hingga terkadang aku bosan dan kamu marah, tapi kembali kita perbaiki dengan apapun caraku dan caramu. Dan kita masih tidak bosan. Terima kasih, untuk dirimu yang sabar menungguiku sampai di tempat, hanya untuk bicara dan bertanya “dari mana saja?” dengan nada ketus. Terima kasih, telah mengkhawatirkan dan senantiasa memperingatkan aku dengan “bagaimana dietnya? berhasil?” dan aku menjawab sekenanya. Kemudian, aku bertanya, “akan masih sayangkah kamu jika aku gagal?” dan kamu menjawab, “masih lah.”. Terima kasih, untuk memberiku sejuta harapan indah agar kamu ucapkan ulang tahun terindah, tetapi hanya sebatas “oh iya yah, selamat ulang tahun, sayang. wish you all the best ” di satu hari setelah hari ulang tahunku, dari itu aku tau bahwa harapanku hanya sia-sia dan kamu memberiku pelajaran dewasa.

Terima kasih, atas sifat keras kepalamu yang mengajarkan aku untuk bersabar dan membalik keadaan supaya kamu melunak. Terima kasih, untuk mengalah ketika aku sedang dalam masa pradatang bulan dan memaklumi semua emosiku. Terima kasih, untuk mengingatkan agar aku tidak berlebihan ketika sedang teramat kangen kamu.

Sayang, kamu selalu bilang bahwa tak sabar dan ingin segera pulang. Sabar, Sayang. Bukan hanya kamu yang ingin, aku pun demikian. Aku hanya mengucapkannya dengan “sebentar lagi”. Kamu tau, betapa aku ingin sekali memelukmu, selama mungkin? Aku selalu mengira bahwa kamu sebentar lagi akan datang, aku menganggap 4 bulan ke depan akan terasa mudah, karena kita bisa melewati 4 bulan ini kan? Begini kira-kira percakapan kita kemarin.

“Aku gak sabar, ingin cepat pulang”

“Kapan kamu pulang sih?”

“4 bulan lagi, masih lama ya?”

“Cuma 4 bulan. Ini aja kita bisa, 4 bulan doang mah sebentar. Ya ngga?”

“Iya ya, bener juga kamu.”

“Nantinya nggak terasa kok, sayang.”

Aku menenangkanmu dengan perasaan tak karuan di dalam hatiku, aku ingin kita saling menguatkan, sayang. Kemudian kaulanjut bahwa kamu rindu Bubur Ayam, Lontong Kari, dan Sate Kambing, kita malah berlanjut membicarakan kuliner Indonesia. Hingga akhirnya kamu mengatakan sesuatu itu. Alasanmu ingin segera pulang, adalah menikahiku. Aku kira aku salah dengar, dan kamu bilang itu keinginanmu. Aku hanya bisa mengamininya saja, sayang. Terima kasih.

Terima kasih, untuk segalanya. Sayang, 4 bulan dari sekarang adalah sebentar. Aku sayang kamu, Arga.🙂

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Terima Kasih, Sayang at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: