Kembali, Sandiwara dan Memori Hujan

31 Agustus 2012 § Tinggalkan komentar

Tak asing, ini sungguh tak asing. Persis hitungan waktu silam terjadi. Ada yang bilang hidup ini monoton dan hanya perulangan, mungkin benar adanya. Itu yang terjadi.

Kembali, mendungnya kembali tidak dengan sang hujan. Sedikit yang lain adalah rasa yang bermain. Kemudian kilat berkelit sedikit dibalik gemuruh petir yang terasa getir. Tanpa bersuara, ia hanya diam dibelakang. Mengumpat kata-kata sepat yang tak akan sempat terlibat.

Sandiwara, ia melakoni dengan lihai tanpa menyertai rasa. Memang total tetapi tetap saja ada faktor gagal. Mentari seolah tersenyum, senyum di balik runyam. Awan tertawa, tawa di balik duka. Dan batu tetap menjadi dirinya, tanpa perlu sandiwara.

Memori, dulu sekali tentang hari-hari sendiri yang tak sendiri. Merah juga merekah sertakan detak dada. Lari-lari pikirannya kian kemari, hingga pulas menunggu balas. Hangat, kali ini Sang Surya dahsyat karena ia berhasil menyilaukan. Takbisa dusta kalau pandangan beradu lalu melempar ke timur, di tenggaranya sinar Surya akan terasa pada diri.

Hujan, hujan, hujan kemudian turun membasahi. Kering tersulap becek dan hangat tersulap gigil. Petikan nada air bertemu dengan atap. Dulu ada yang berkata, setelah ini akan ada pelangi. Percaya? Terlalu naïf untuk menantinya, tapi terlalu lugu untuk mengharapnya.

 

Desember, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kembali, Sandiwara dan Memori Hujan at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: