Bayangan Terakhir

31 Agustus 2012 § Tinggalkan komentar

Bayanganmu adalah hal terakhir yang kulihat. Itulah pertemuan terakhir kita.. terakhir dari satu juta kali pertemuan kita, kau dan aku.

Satu-dua hari kemarin tampak begitu berat, untukku, ya untukku. Ada bagian yang janggal, surya menyapaku ramah tapi masih dengan anginnya yang dingin. Ini sungguh janggal, biasanya ada peringatan khusus kalau ia berubah, katamu. Tapi ku jalani dan semuanya tetaplah biasa.. Bahkan saat ku tatap dengan sinis, ia tetap saja memamerkan biasannya yang kemilau. Jadi kau salah.

Tiga-empat jam yang lalu, hujan mengguyur tanah depan rumahku dengan pasukannya yang menggunung. Tapi tadi, ia sungguh berbudi, bahkan hanya permisi. Pernah ku dengar, kalau hal ini terjadi biasanya akan turun sesuatu yang sangat ajaib diluar akal pikiran kita. Kuperhatikan seksama tanah basah itu, tapi takada yang turun. Hanya seekor kucing yang tengah mencari temannya. Itu katamu dan kau keliru.

Lima-enam bulan setelah ini akan ada nada baru dalam sebuah ruangan tua di pojok sana. Nah, itu dia, coba kau lihat! Simponi manjanya kan membuai kita. Aku, kau, dan mereka. Tapi itu dulu, ku tahu angan kita ini takkan tergapai. Ruang tua itu kan tetap suram, karena kau pergi.

Tujuh-delapan tahun lagi seharusnya malam tidak sepekat kemarin, di mana cahaya bulan telah berupaya menjadi penerangku dan semilir angin malam menyelimutimu dengan mesra. Tapi detik ini sudah tidak berarti karna kau tertidur pulas dalam timbunan tanah merah yang baru saja ku datangi.

Sembilan-sepuluh jam lagi berbondong-bondonglah manusia mendatangiku, menyalamiku, menyemangatiku karena kau telah tiada. Harusnya saat ini kita sedang menikmati tawa bersama sambil menyeruput teh buatanku dan roti panggang Pak Diman di serambi rumah kita.

Sebelas-duabelas menit lalu akhirnya ku ketahui semuanya, dering telepon genggamku membawa kabar yang menyambar perasaan. Kau benar-benar pergi bahkan tertutup tanah. Padahal kau berjanji kan membawa sesisir pisang untukku saat pulang, kali ini kau salah lagi dan kau ingkar janji.

Tigabelas-empatbelas orang yang datang ke tempatmu tadi, termasuk aku, baru saja. Mengapa aku yang mendapat berita terakhir? Persetanlah semuanya, kini aku hanya membisu. Sendiri, sambil memandangi potret kita kemarin. Kita yang terdiri aku dan kau. Sekarang hanya aku, tanpa kau. Takada lagi kita.

Limabelas detik barusan adalah benar-benar saat terakhir kita bertemu dari sejuta pertemuan kita dan yang terakhir kulihat adalah bayanganmu.

Desember, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bayangan Terakhir at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: