Pendengar di Balik Dinding

28 Agustus 2012 § Tinggalkan komentar

Setibanya kamu di kamar, aku akan mendekatkan telingaku dengan dinding. Merapatkan telinga serapat-rapatnya untuk mendengar percakapanmu dengan orang itu. Aku bukan lagi seorang gadis kecil berumur sebelas tahun setiap lewat pukul sepuluh malam. Sebelum kedatanganmu, hanya ada suara detik jarum jam di sini yang hampir bersamaan dengan detak jantungku. Aku selalu berdebar selepas pukul sepuluh malam. Di sini, cahaya yang ada hanya lampu tidur berwarna api yang begitu redup, tidak ganas, yang dapat membuat orang ingin cepat terlelap saat memandangnya. Tidak denganku, cahaya itu semakin membuat aku terjaga, untuk menunggumu, membka pintu kamarnya, dan aku mendengarkan seluruh yang aku ingin tau.

Aku pendengar di balik dinding dan banyak sekali hal yang kudengar. Pertama, aku akan mendengar ia menyambutmu dengan menyebutkan sebuah nama, namamu, setelahnya kau selalu berkata: aku rindu kau, padanya. Dapat kudengar kalian berperlukan dan kemudian berciuman dengan begitu hangat seakan sebuah kata rindu itu dapat ditebus melalui kecupan dari bibir-bibir kalian. Suara televisi kemudian nyala dari kamarmu, suara pembaca berita malam terdengar dan volume suara itu agak dibesarkan. Tetapi aku masih dapat mendengarmu, kalian tidak sedang menyaksikan siaran televisi, kalian saling bercerita mengenai hal-hal di luar sana, hal yang ia tidak tahu tentangmu. Tapi tidak semua. Kadang-kadang aku juga mendengar suara tawanya yang ingin berusaha lepas tapi ditahan, mungkin kamu takut tawanya akan mengganggu orang lain, mungkin termasuk aku.

Jika aku bosan mendengarkan kalian, aku akan menjauhkan telingaku sebentar, pergi ke toilet dengan segera, dan kembali mendengar obrolan kalian. Bahkan, perbincangan yang kalian lakukan setiap malam aku tau bahwa durasinya lebih kurang empat puluh lima menit. Dan pada menit ke empat puluh dua baru aku akan dengan saksama mendengar suaramu.

Sasaranmu selanjutnya adalah penghuni di lantai tujuh, kamar nomer satu. Tepat pukul 1.50 nanti kau akan mulai. Aku bernapas lega, setidaknya bukan giliran aku dan ibuku yang besok akan mati kaubunuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pendengar di Balik Dinding at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: