Mi Rebus

28 Agustus 2012 § Tinggalkan komentar

“Tidur?” tanyamu barusan. Aku sudah pulas tadi, saat kamu pergi. Tadi hujan dan aku menunggumu hingga tertidur di bawah buku.

“Kalau Tan Malaka menulis dengan judul Dari Penjara ke Penjara. Kamu menulis dari tidur ke tidur. Dan saya menulis dari chaos ke chaos.”

“Wah? Memang serajin itu saya tidur?” Bahkan aku baru ingat kau pengingat yang baik dan mampu sangat detil mengamati. “Kenapa chaos?” karena aku tidak sepertimu.

“Karena suka bikin chaos kehidupan orang. Lalu rajin apa?” Aku memutar mata dan memutar otak. Aku tidak menemukan jawabannya.

“Rajin memalaskan diri, nggak baik ya.”

“Latihan, biar nanti biasa dengan chaos.” senyummu mengembang, jidatku mengerut. Tidak paham sama sekali.

“Latihan? Di?”

“Di kehidupan saya.”, aku bisu tiga belas menit.

“Saya mau mi rebus. Tidak pedas.” empat menit setelahnya kau menggosokkan kedua telapak tanganmu.

“Harus pedas, biar kamu berkeringat. Makan yang kenyang, biar sehat.”

Ah. Betapa kamu, selalu dapat dengan sangat mudah saya tuliskan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mi Rebus at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: