Keruk

28 Agustus 2012 § Tinggalkan komentar

Aku ingin membicarakan kita.

Jadi, sampai mana tadi aku berkata?

Oh ya, aku ingat. Tadi kau permisi dahulu, menyematkan keduamu untuk mengisi ke auramu. Kemudian merenggangi peluh dengan usapan senja. Taukah saat malam abadi nanti, ia akan kembali? Menyerupai kunciran-kunciran belati dan mengamali sebungkus tungku api.

Takar sedemikian, tidak ada warna lain tanpa ilusi rahasia. Katanya, semua yang diselesaikan telah dikunyah geraman-geraman salut. Entah, rupa kita masih terbakar dengan perisai delapan atau telah berjamur karat mur. Biar tuts-tuts hilang tetapi sisanya berjejas di lengkungku. Ia merengkuh semalaman, membisikkan ocehan bias, ia berkamuflase menjadi gurita, senang katanya. Kau melengos, menulikan hati dan merapikan muntahan-muntahan udara kembali ke pelosok jemari. Bagaimana benarnya? Akukah yang kelak akan hapus getahannya? Menelan duri panas, menginjak bolongan terowongan dan menutupi bekasnya? Bisakah kuserahkan padamu, agar kau saja yang meneruskan garis alis, membentuk inversi, dan kembali mendramakan boneka burung hantu. Saat kemarin, pada sebuah laci kutemukan tusukan dari angin yang sia-sia disimpan, lalu kubuat kubangan pada daun pintu dan kubangun gundukan. Kukunya menghitam sembari dicucikan oleh kesemaran jernih, padahal tempo hari mengilap ungu dan motifnya bintik putih-kuning-cokelat. Sebelum berpulang, pukang-pukang juga menguntitimu. Memberi salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Keruk at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: