Bukankah Kita Mengada?

28 Agustus 2012 § Tinggalkan komentar

Kala itu, kita bukan saling bercerita dan mengupas perlahan tentang aku, tentangmu.
Kita hanya saling mengada dan meneror ruang-ruang hati untuk tetap berdenyut saat mulai melafalkan kata-kata pembius itu.
Ia berdenyut dan mengisi dengan senada lembut, ujarnya “Aku ada” tanpa bata.
Bukannya kau yang berisi penuh dengan tanya, kini kuuraikan seluruh “mengapa” menjadi “karena”, seluruh “bagaimana” berubah “demikian”, dan seluruh “benarkah” terjawab “benar”?
Aku menyatakan tanyamu, untuk mengubah abumu.
Aku menyatakan tanyamu, untuk menyitakan cintamu.
Aku menyatakan tanyamu, untuk mengadakan apamu.
Akhirnya aku merasikan rasa dan mengubahnya dalam kalimat tanya:
Bukankah kita kembali mengada?

 

Jatinangor, menuju penghujung April 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bukankah Kita Mengada? at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: