Sementara

7 Agustus 2012 § 1 Komentar

Aku belajar darinya bagaimana mengacuhkan laki-laki supaya dia makin mencintai. — dia tetap dengan keputusannya, perempuan di depannya berusaha mencerna.

Lantas bagaimana kamu tau perasaannya? — perempuan di depan tadi mengoreksi kata-kata temannya, perempuan penuh gengsi.

Dari perasaanku. — perempuan yang mendengarkan tertawa, tidak mencerna perkataan temannya.

Dia hanya menatap perempuan di depannya.

Dia seorang perempuan, diajari menjadi perempuan tepatnya. Sebelum ini, dia merasa seorang wanita. Sampai suatu hari seorang perempuan berkata padanya, Jangan mau menjadi wanita. Wanita itu gampang diperbudak. Lalu dia mengernyitkan keningnya, tak paham. Perempuan itu kembali berucap, Kau pilih menjadi perempuan atau wanita? Dia diam, mencoba mencari jawaban yang baik tapi tidak menemukannya, dia menjawab: Bukankah lebih halus wanita daripada perempuan? Perempuan itu sebutan yang tidak baik, ya kan? Dia mencari perlindungan lewat pernyataan terakhirnya. Seorang perempuan tadi tersenyum menang, Justru itu! Kau terpengaruh oleh guru dan pelajaran. Wanita memang dibilang halus, tapi ia begitu penurut. Mau memang kau selalu menurut apapun termasuk yang kau takmau? Aku pilih menjadi perempuan, biar terdengar kasar, perempuan bisa memperjuangkan keinginannya. Singkatnya, perempuan lebih merdeka dari wanita. Mengerti?

Laki-laki juga ingin tau bagaimana pergerakan seorang perempuan, coba saja dulu. Biar tidak lagi kamu penasaran — saran temannya. Saran kesekian.

Dia hanya mengangkat bahu, taktahu menahu. Bagaimana pun, dia adalah perempuan. Sudah hukum alam bahwa laki-laki yang mendekati, perempuan yang memberi tanda. Dia bimbang, benar kata temannya, dia penasaran.

Entahlah, aku jalani saja dulu. — keputusannya menggantung. Kesekian kali.

**

 

Sudah malam, tidur. — Pesan yang begitu ragu-ragu dikirimkan, akhirnya.

Nanti, dua jam lagi. Kamu dulu saja. — Dibalas. Dia tersenyum. Sementara di tempat lain seorang laki-laki mulai terbiasa dengan pesan ini.

Aku masih belum ngantuk. — Dia membentuk kalimat itu dengan segenap perjuangan.

Besok jadwalmu pagi. Tidur saja. — Tersirat sebuah perhatian dari kata-kata itu, yang di sana seperti memaksa dan dia senang dipaksa dengan cara itu.

Kamu juga jangan tidur larut. — Ada rasa bimbang dalam pesannya, begitu ingin terikatkah? Di sana pun terbersit perasaan aneh, bentuk sebuah perhatian atau sekadar menimpalikah?

**

Aku datang. Terlambat. Aku jalan lurus. Tiba-tiba aku temukan matanya dalam ruangan itu, seperti dapat membacanya, dari ekor mataku dapat kulihat matanya terus mengikuti langkahku. Aku ingin tersenyum, tapi dalam hati saja.

Ah, aku ini berlebihan.

**

Benar saja dia terlambat. Saya perhatikan dari ujung kepala ke ujung kaki. Mana mungkin perempuan seperti ini bisa seperti malam tadi? Bahkan jauh dari perkiraan. Saya terlalu jauh memperhatikan, ini tidak baik.

 

**

Jangan terlalu dalam saat kamu jatuh hati agar saat kamu terluka, tidak terlalu sakit. — Dia kembali mendengar suara itu. Salah jatuh cinta? Bisa sebentar saja merasakan indahnya jatuh cinta?

Ketika kamu memutuskan jatuh cinta, kamu harus siap dengan segala resikonya. — Dia mantap, rasanya aku siap.

§ One Response to Sementara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sementara at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: