Fajar

12 Juli 2012 § Tinggalkan komentar

Fajarku tengah kalut, ia memikirkanmu yang sudah tenggelam dengan larut. Suara tikus kecil dan suara angin saling bersahut-sahut, taksadar menggema hingga bunyi suara perut. Ia merengut, melapis kalut yang beringsut.

Fajarku semakin keruh ulah kera-kera berkulit lusuh, enggan disuruh. Maunya hanya membuat rusuh. Panda akhirnya bertaruh agar burung mengeluarkan suara dari paruh. Mau ia mengeluh, baginya tak ada pengaruh.

Fajarku akan menggeliat, menyerupai bayi-bayi cokelat. Ada garis hijau dan merah dan biru membentuk urat. Ia kurawat dan kupeluk dengan erat. Hingga ibunya paksa pun ku tantang matanya lekat-lekat. Tak sudi fajarku bersiap berangkat, tiap senti menuju akhirat.

Jatinangor, kamar nomer lima yang merah delima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Fajar at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: