Pendendam

23 April 2012 § Tinggalkan komentar

Pernahkah kau bicara tapi tak didengar? Tak dianggap sama sekali?

Jawabanku untuk pertanyaan itu adalah: ya, pernah. Sering.

Kemudian aku akan diam. Seperti mereka yang hanya diam. Jika ada diam yang mendengar, aku ‘kan tau. Juga tau bagaimana diam yang tak mendengar. Entah apa alasannya tidak mendenger, tidak maukah atau karena merasa asingkah?

Bukannya aku selalu mendengar, seasing apapun cerita darimu? Ketika aku tidak mengerti, aku akan bertanya. Bukannya senang ketika seseorang bertanya tentang ceritamu?

Matamu berbinar cerah. Namun saat kubercerita, melihat pun tidak. Kausibuk dengan urusanmu. Atau saat aku ingin mulai bercerita, “Si anu tuh begini.” dan sebuah suara menjawab: “Aku tidak mengenalnya.”

Aku sedih. Sensitif. Mungkin itu yang membuat inginku membalas, menjadi pendendam yang sensitif. Bahkan aku tak tega saat membalasnya. Karena aku tau bagaimana sakitnya sunyi. Dan aku tidak mau menyakiti.

Sekarang, masihkah kau tidak mendengar?

Sebuah hati yang menangis dengan mata kering.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pendendam at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: