Jatuh Cinta itu Rumit

14 April 2012 § Tinggalkan komentar

“Aku sedang jatuh cinta. Menyenangkan!”

“Apa ada yang lebih menyenangkan selain ketika kita sedang jatuh cinta?”

Aku sedang jatuh cinta yang tidak menyenangkan. Awalnya ya, senang. Dengannya. Namun, semakin ke sini, semakin jauh dari menyenangkan. Jatuh cinta itu rumit. Ketika jatuh pada hati yang lebih dari satu. Ini langka dalam sejarah ke-jatuh cinta-an hidupku. Baru kali ini aku tidak jatuh pada satu hati, melainkan, hmmm.. aku juga tidak tau pasti. Mungkin dua, tiga, empat, pada waktu yang relatif sama. Aku rasa pada dua saja. Makin rumit kan?

Jatuh cinta ini rumit karena sebuah perbedaan. Perbedaan antara dua orang yang aku jatuhi perasaan. Entah ini perasaannya disebut “jatuh cinta” atau bukan, tetapi aku ingin mengatakannya demikian. Aku jarang jatuh cinta dan butuh waktu yang sangat lama untuk menyatakan bahwa aku jatuh cinta. Apakah ini sebuah jatuh cinta sesaat atau akan bertahan lama, aku belum memikirkan ke sana, yang penting dan ingin kurasa ialah sekarang aku sedang jatuh cinta.

Jatuh cinta yang pertama ini menyenangkan dalam sebuah candaan. Awalnya aku tentu tidak langsung jatuh cinta padanya, hanya saja karena suatu malam aku dapat memutuskan bahwa aku jatuh cinta. Tidak seperti biasanya, malam itu yang seharusnya biasa dibuatnya menjadi istimewa. Mungkin ia sedang dipengaruhi suatu perasaan menyenangkan sehingga ingin juga menyenagkan aku, tetapi pada kesempatan itu aku juga ingin mendapat kesenangan. Jadilah suatu interaksi singkat yang membuatku jatuh cinta, ia merayu dan aku dirayu. Hal yang biasanya sangat biasa ini memang saat itu cukup menggetarkan. Sejak malam itu, aku selalu menunggu malam lekas datang agar aku dapat berinteraksi singkat lagi dengannya.

Jatuh cinta yang kedua seharusnya sudah lama kurasakan, tapi waktu itu aku sedang tidak ingin merasakan. Aku jatuh cinta karena hal yang sama yang membuat aku kagum padanya sejak awal. Aku sempat kagum, tapi tidak jatuh cinta. Beberapa hari yang lalu aku jatuh cinta padanya dan tatapanku tidak pernah lepas darinya, seperti dihipnotis mataku akan selalu menuju ke arahnya. Kemudian, seperti masa-masanya jatuh cinta lainnya semua yang kulihat dapat menyerupai parasnya. Ketika aku benar-benar di depannya, bertatap dan bicara padanya maka mataku akan menatap matanya. Tidak seperti dahulu hanya melihatnya selewat dan memalingkan muka. Kali ini aku akan memberi senyum untuknya di setiap akhir percakapan.

Dengan sederhana, jatuh cinta itu membuatku rumit. Membagi rasa antara keduanya, membagi penyitaan waktu untuk menunggu satu di antara dua, membagi kapasitas otak untuk memikirkannya, dan membagi ruang di hati untuk mereka singgahi. Untungnya, aku menikmati kerumitan ini, tidak dengan sebuah harapan, dengan mengharap balasan dan sebuah kepastian. Aku hanya ingin berjalan dan merasakan kenyamanan seperti saat ini. Jatuh cinta itu memang jauh dari menyenangkan, tapi sangat dekat dengan kenyamanan walau sedang kerumitan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jatuh Cinta itu Rumit at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: