Saya dan Buku

2 April 2012 § 3 Komentar

Pukul 2:56 pagi menurut waktu bagian notebook saya. Masih terjaga, masih berjibaku dengan layar di depan mata ini. Semula berniat untuk istirahat. Namun, ada keinginan mempersolek sedikit blog ini. Akhirnya jadilah begini. Tidak lebih baik, tapi membuat lebih nyaman. This is temporary.

Dalam dua hari ini, saya berhasil membaca tiga buku. Dalam empat bulan ke belakang, merampungkan kurang lebih 13 buku. Kebanyakan untuk tugas. Ya, hobi membaca saya menjadi berguna karena kuliah di jurusan ini. Dan saya selalu ingin memiliki banyak buku!

Buku-buku yang banyak saya baca lebih dari 50% adalah pinjaman. Pinjam ke teman, pinjam ke kakak senior, pinjam ke famili, dan pinjam ke perpustakaan. Selebihnya memfoto kopi atau mencari buku elektroniknya di internet. Sebenar-benarnya ingin sekali bisa membeli banyak buku, membaca banyak buku, dan menatanya rapi di rak. Namun, waktu dan finansial saya terbatas. Waktu saya tersita untuk hal lain di luar membaca dan harga buku itu mahal. Hal kedua yang lebih saya sesali. Untungnya nyali saya untuk selalu meminjam tidak pernah ciut dan untungnya pula banyak rekan saya yang bersedia meminjamkan bukunya untuk saya baca.

Belenggu – Armijn Pane

Kemarin saya menyelesaikan Belenggu karya Armijn Pane; novel sastra yang populer di masanya saat itu berhasil membuat saya menguap setiap membaca 5 halamannya. Tidak tebal, hanya 150 halaman tetapi dipadu dengan tulisan yang rapat dan ruang kertas (margin kali ya?) yang sempit rasanya saya baru saja menyelesaikan 300-an halaman. Ceritanya mengenai perselingkuhan, kedudukan wanita modern, dan cinta buta. Sedikit diulas mengenai politik (ini yang makin membuat saya mengantuk) dan bahasanya yang masih-pada-zamannya memadukan bahasa Belanda dan Indonesia yang harus dicerna beberapa waktu. Saya membacanya mulai dari posisi duduk di kasur, tengkurep, terlentang, pindah ke meja belajar, duduk di lantai, hingga berdiri dan jalan mengitari kamar saya.

Madre – Dewi Lestari

Hari sebelumnya, saya menyelesaikan Madre sebuah kumpulan fiksi karya Dewi Lestari dan juga kembali membaca Kana di Negeri Kiwi, sebuah teenlit karya Rosemary Kesauly yang pernah menjadi kado ulang tahun dari teman saya sewaktu kelas 1 SMP. Rupanya “Madre” membuat saya lapar dan ingin mengunyah roti, tidak lama selesai dari membacanya saya memesan roti bakar keju cokelat dan susu murni cokelat. Alhasil, nafsu makan saya teratasi dan semangat saya kembali lagi. Saat membaca “Bukan Layang-layang” saya seperti membaca sebuah novel metropop sealiran dengan Antologi Rasa dan Perhaps You yang dipersingkat, tetapi sungguh manis Dewi Lestari memuat cerpen itu. Walau ada cerpen “Guruji” yang menurut saya agak ‘maksa’ tapi tetap saja manis.

Kana di Negeri Kiwi – Rosemary Kesauly

Malamnya saat rampung membaca Madre dan berniat untuk istirahat, rupanya mata saya ingin merasakan kesegaran dalam Kana di Negeri Kiwi dan tidak sampai 2 jam saya berhasil menyelesaikan 145 halaman teenlit itu. Lagi-lagi novel tahun 2005 tersebut mampu membuat saya kembali ingin meneruskan impian untuk ke Selandia Baru. Soal sekolah, pacar, sahabat, dan keluarga memang menjadi pokok dari novel tahun 2000-an saat itu tetapi Kana di Negeri Kiwi memiliki keistimewaan dari ceritanya yang berbobot dan ditambah dengan mengangkat deskripsi geografi, kultur, keadaan masyarakat, dan masalah soal pelecehan seksual. Pantaslah Rosemary Kesauly menang dalam penulisan teenlit tahun itu.

Film Biola Tak Berdawai

Baru saja beberapa jam yang lalu juga saya menyaksikan sebuah film yang disutradaraioleh Sekar Ayu Asmara, yaitu “Biola Tak Berdawai” diperankan oleh Ria Irawan, Nicholas Saputra, dan Jajang C. Noer. Durasi 90 menit yang cukup hemat, hanya saja opening nya cukup membuat ngantuk. Isi ceritanya sangat luar biasa, Renjani (Ria Irawan) yang merawat anak-anak cacat begitu menyayangi Dewa seorang anak yang tidak dapat bicara dan sistem otaknya terganggu. Renjani sangat mencintai Dewa walau pun bukan anak kandungnya, dipertemukan dengan Bisma (Nicholas Saputra) seorang mahasiswa yang mencintai seni dan bermain biola. Film ini penuh cinta. Cinta terhadap anak-anak, cinta terhadap seni, cinta terhadap hidup yang dipilih, dan cinta untuk dirinya sendiri. Yang menarik ialah Mbak Wid (Jajang C. Noer) yang menjadi seorang peramal dengan kartu tarotnya sekaligus dokter anak, sangat bergantung pada kisah Mahabharata. Sekar Ayu Asmara mengambil nama-nama tokohnya juga lewat tokoh perwayangan, seperi Dewa, Renjani, dan Bisma.

Pukul 3:34 saya akhirnya menyelesaikan postingan ini dan beranjak istirahat. Semoga tidak usang.

Tagged:

§ 3 Responses to Saya dan Buku

  • selfbeside mengatakan:

    pasti jurusan sastra indonesia…iiih ngeri tugas baca novelnya
    aaah untung gue cuma anak linguistik…gak tahan kalo sastra sama tugsanya…
    salam kenal, sesama anak sastra (kalo gak jg gpp-hehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Saya dan Buku at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: