Pelajaran Singkat

25 Maret 2012 § Tinggalkan komentar

Hari ketiga dan terakhir di rumah sebelum kembali ke rutinitas kampus. Blog ini sudah lama taksaya kunjungi. Agak merasa bersalah dan berdosa memang, tapi karena aktivitas yang mengambil alih perhatian saya, sehingga jadi mahasiswa (sok) sibuk belakangan ini. Saya mohon maaf.

Siang ini saya menyambangi rumah saudara saya. Ia seorang gadis SMA yang akan beranjak kuliah. Kami juga sudah lama tidak berjumpa. Saya berbagi cerita saat ada di posisinya, menjadi seorang anak kelas 12 SMA yang masih bingung akan meneruskan kuliah ke mana dan di mana. Sembari saya kembali mengingat-ingat perjuangan saya sebelum menetap menjadi mahasiswa rantau seperti sekarang, saya juga memerhatikan kamarnya yang dulu juga sering saya kunjungi.

Saya bercerita, saat itu saya berjuang untuk mendapatkan bangku di universitas negeri. Semua yang membuka tes-tes masuk perguruan tinggi saya ikuti. Saya mencoba ujian di 5 PTN di pulau Jawa dengan hasil nihil, hingga akhirnya saya mendapatkannya di pinggir Bandung. Kemudian selintas, saya mengingat bagaimana kerasnya perjuangan saya yang membanting setir dari yang biasanya berkutat dengan soal-soal eksak ke sosial (yang nggak gue banget), iya saya begitu keras memperjuangkan cita-cita saya untuk diterima di jurusan Psikologi (yang pada akhirnya tidak diterima juga sih, hahahaha).

Saya membayangkan dengan keadaan saya sekarang. Setelah sekeras itu saya berjuang, orang tua saya mencari dana ke mana-mana (dari pinjam uang ke koperasi kantor ibu sampai ayah yang kehilangan pekerjaan ini nyesek banget), saya ngerasa malu, berasa ditampar diri sendiri sama apa yang saya lakukan akhir-akhir ini. Saya malas kuliah hanya dengan alasan: males / ngantuk. Hellooooow! Ke mana diri lo yang dulu? Kalo sekarang nilai lo udah bagus, lo udah pinter, lo udah bisa nyari duit sendiri, udah kerja, ya bisa deh lo males, bisa deh ngantuk. Coba sekarang tatap!

Pinter aja nggak, nilai juga masih ada yang jelek, boro-boro nyari duit, tiap minggu aja cepet banget abis duit dan minta lagi ke ibu. Masih mau males? Hell yeah. Dosa saya mungkin sudah setara dengan volume air di Samudra Pasifik.

Oleh karena itu, saya memberi amanat kepada saudara saya untuk benar-benar berjuang dan menghargai setiap kerja keras. Karena saat-saat yang seperti dialaminya sekarang benar-benar akan menjadi sebuah pelajaran di ke depannya.

Pelajaran untuk: tidak pernah berhenti untuk mencoba dan tidak pernah mencoba untuk berhenti.

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pelajaran Singkat at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: