Cinta Monyet pada Bebek

31 Januari 2012 § 3 Komentar

Ini buat kamu, bek.

Kamu dipanggil Bebek. Mungkin karena kamu cerewet.

Waktu itu aku baru masuk SMP, umurku tiga belas dan katanya yang aku rasakan saat itu adalah cinta monyet. Bahkan baru tau aku kalau monyet memiliki hati yang dapat mencinta. Katanya akulah si monyet. Monyet yang mencinta Bebek.

Yang jelas semua hal kecil tentangmu selalu kuingat, setiap hari aku tuliskan tentangmu dalam buku harian. Jika buku itu bisa bicara mungkin akan mengeluh dan menolak kutuliskan tentang Bebek. Terlalu penuh seluruh garis dalam buku itu tentang Bebek. Kakak kelas idolaku.

Cinta monyet itu akan terkenang selamanya. Bahkan aku ingat kapan pertama kali aku jatuh cinta padamu, 16 Desember 2004. Itu hari Kamis. Aku sedang mengamati kamu dari pinggir lapangan basket. Kamu sibuk sekali mencuri bola dari teman-temanmu. Hingga tiba-tiba bola basket itu mendarat di wajahku dan itu karenamu. Kamu meminta maaf sementara aku hanya dapat terdiam membisu. Lucu memang, seperti dalam novel Dealova tapi itu nyata. Sejak hari itu aku suka sama kamu. Bebek, padahal kamu teman baik kakakku.

Tiga tahun aku mencintai dalam diam. Hanya sibuk memerhatikanmu dari radius yang cukup jauh. Mengintip ketika melewati kelasmu. Memelankan jalan ketika ada kamu di depanku. Berupaya duduk disebelahmu saat makan di kantin pada jam istirahat. Semuanya konyol.

Saat kamu lulus, aku menangis. Otakku masih pendek kala itu, berpikir bahwa tidak mungkin bertemu lagi denganmu. Hingga hari-hari di sekolah kujalani dengan uring-uringan. Hanya dapat menatap lapangan basket yang tidak pernah lagi terlihat sosokmu. Tidak ada lagi Bebek yang mencuri-curi waktu jajan di kantin setiap pukul 10 pagi. Juga tidak terlihat lagi sosokmu yang lari terburu-buru karena takut terlambat. Padahal, saat beranjak SMA kita lagi-lagi satu sekolah.

Di SMA aku masih mengagumimu dan mengingat kelakuanku dulu. Dan saat ini kita sudah berteman. Aku masih menyembunyikan kisah cinta monyetku itu, takkan pernah kubocorkan pada kamu. Biarlah yang tau hanya hatiku dan juga buku harianku.

Bebek yang dulu sering main basket, sekarang justru jadi atlet baseball. Hihihi, cinta monyet memang konyol. Terlalu banyak hal yang dilakukan tanpa sempat berpikir, tapi semuanya tidak akan lekang dimakan usia. Sampai nanti aku tuapun, aku yakin masih mengingatnya.

Sekian tentangmu. Bebek, cinta monyetku.

Tagged:

§ 3 Responses to Cinta Monyet pada Bebek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cinta Monyet pada Bebek at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: