Jalan Pulang

27 Januari 2012 § 2 Komentar

Sejurus aku memahat perangaimu,
terlihat misteri terpendam yang menyesakkan.
Benarkah?

Cemerlang. Rupanya kau terkelabui lagi
lewat perisai berupa garis wajahku.
Takusah kauputar otak lagi. Jilid selanjutnya punyamu.

Jangan kautambahkan lagi sentimeter
di hidung mungilmu. Aku paham.
Bait kata tadi meninggalkan pertanda luka padamu,
bisikkanlah. Aku memaksa.

Ini bukan paradoksal yang berseri layaknya opera sabun,
kesemuan itu menjadi topeng setiap insan.
Nanti lepas tengah malam akan kubuka,
kau akan tahu.

Kulihat minusmu itu pada laram,
bukan tentang paradoks. Berjalanlah di pelipir
agar kauselamat. Jangan melulu tutup kuping.
Malam akan begitu lambat, tetapi cepat.

 

Jangan merisau,
kedua kakiku belum lelah untuk menyusuri jalan asing.
Sesaat lagi ‘kan tiba,
beriaplah dahulu sebelum kau dengar.

Kalau taklelah kauperlu berlari.
Sayup-sayup dingin akan menikammu perlahan,
jaga matamu jangan sampai redup. Aku tengah
menerka sesepi apa dekatmu.

Kau merasa tergesa? Kopinya sudah
kautegak habis? Jangan dihabiskan, ampasnya untukku.
Nanti kuracik menjadi adonan yang kausuka.
Aku aman.

Takpamit tadi, hanya sepotong kertas
yang kautinggalkan. Masihkah kau di sana?
Bunyi televisi tidak lagi akrab malam ini,
hanya hawa dingin dan derap langkahmu yang kupikir.

Belokan ke tempatmu membuatku pusing,
lain kali  berikan arah biar cepat sampai. Nanti kubantu.
Ah, aku terhunus dingin.  Semoga tidak flu.
Angin tadi menegurku agar tidak melamunimu.

 Bohong, kauletih. Mari aku hangati lewat pelukan.
Jangan dulu bergerak, aku rindu dengan aromamu.
Lagi-lagi maskaramu luntur dan membekas
di garis mata bawah. Itu sungguh mempesona.

Wajahmu  beku namun dekapanmu hangat.
Masih kaugunakan kaos sore tadi, tidak mandi?
Kumis itu juga belum dicukur, tadi kan sudah kuperingatkan.
Ada yang terselip di bibirku satu. Jangan pura-pura taktahu.

Akhirnya aku menyesalkan ini hanya imaji
tentangmu. Aku merindumu lagi,
seperti malam-malam kemarin dan malam-malam berikutnya.

Sisa-sisa mimpi tadi masih membekas,
terlalu berjejas hingga takkuasa kutahan.
Jadi, kapan lagi kita bertemu?
Tempatmu terlampau jauh.

Tagged:

§ 2 Responses to Jalan Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jalan Pulang at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: