Jantung

25 Januari 2012 § Tinggalkan komentar

Aku tengah mencoba mendengar detak jantungku sendiri.

Di antara orkestra kebisingan yang memiliki bunyi-bunyian tidak senada.

Di antara detik jam berpadu suara kelaparan cicak yang mencari seekor nyamuk.

 

Aku sedang menguping degup jantungku yang ada di sebelah kiri.

Di antara persaingan motor beroli nomor satu dan suara bel penjaja roti.

Di antara sendok yang berdenting menyuarakan tukang baso dan kepulan asap bersuara dari penjual putu.

 

Aku sibuk mencari muasal hentakan bunyi yang tiada henti dalam  diri.

Di antara kumandang adzan dari mesjid yang bersamaan dering ponsel di dalam tas.

Di antara volume TV dengan keriuhan tayangannya serta desauan hujan angin di luar sana.

 

Aku menjelajahi suara jantung yang tidak lagi terperi.

Di antara petikan gitar klasik dari jemari manusia yang mengalun diiringi suara mendayu yang menyanyi dengan halus.

Di antara ceracau manusia yang tiada habisnya saat dentuman besar itu terdengar.

 

Aku masih meyakini tiap denyut jantungku yang terasa nyeri.

Di antara kecipak darah yang mengalir dari tubuh bugar.

Di antara lubang yang terus menganga melumuri sekujur badan.

Jantung ini menyelesaikan tugasnya sembari menangisi semua kejinya perbuatan manusia di sebuah negeri.

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jantung at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: