Ringkasan

22 Januari 2012 § Tinggalkan komentar

“Ringkasan itu ringkas, tidak akan sepanjang ini. Ngerti nggak maksudnya ringkas?” iya, itu kata seorang ibu yang berbicara dengan anaknya, nadanya tinggi. Si anak mengangguk pelan dengan tatapan mata kosong. Sedang berpikir, apa tadi ibu asuhnya berkata.

Hampir empat puluh delapan menit ibu asuhnya berbicara dengan nada tinggi, hingga ada beberapa orang yang melintas menengok dan mendengar ceracaunya. Selama setiap empat menit, anak laki-laki tadi menggunakan waktunya untuk berpikir. Ia tidak peduli terlihat seperti anak nakal yang sedang dimarahi ibunya.

“Ibu, ini kan yang diajari ibu. Kalau meringkas itu yang penting-penting saja. Aku catat yang penting kok, bu.”

Si ibu muda melotot, mencoba melotot seperti raut wajah pemain sinetron yang berperan sebagai tokoh antagonis, tapi ia gagal karena matanya sipit. Baru saja akan memarahi, si anak malah berbalik senyum pada si ibu. Selanjutnya si ibu mencubit lengan kanan atas anak laki-laki itu, berbekas merah. Anak laki-laki ini diam saja.

“Lengan sebelah kanan atas sudah pernah ibu cubit, yang sebelah kiri belum. Nanti malam tambah berwarna nih lenganku.” tukas anak laki-laki ini sambil merapikan lengan kemejanya seperti semula. Si ibu berkacak pinggang.

“Kalau semua kamu kira penting, bukan meringkas namanya. Nak, ibu sudah berulang kali mengajarimu tentang pelajaran ini. Kamu gak capek begini terus?” lalu ibu ini mencubit lengan sebelah kiri atas anak asuhnya, seperti anak tadi bilang.

“Tidak, bu. Aku senang. Hanya sama ibu aku merasakan diperhatikan. Ayah tidak pernah menjengukku sih. Nanti ibu mau cubit bagian mana lagi?” jelas anak ini.

Harus sekasar apa lagi aku biar dia bosan aku ajari? Ayahnya kan sudah berkeluarga lagi. Terdengar dalam suara hati ibu ini.

Di menit ke enam puluh, si anak berseru, “Bu, sudah satu jam! Mari kita pulang.”

“Nak, kamu pulang sendiri ya. Hari ini ibu dijemput suami ibu.”

“Aku ikut!” pinta si anak dengan antusias.

“Jangan. Suami ibu itu ayahmu, kamu tidak boleh bertemu!”

Anak ini merajuk, lalu dengan gontai meninggalkan ibu asuhnya. Ia pergi ke balik tirai. Lalu ibu tadi juga mengikutinya.

“Sudah lebih baik, bu?” tanyanya.

“Belum, mukamu masih datar saja. Maaf ya ibu menyakiti lenganmu lagi.” kata si ibu muda sambil mengipas-ngipas menggunakan kertas naskah drama yang dua minggu lagi akan mereka tampilkan.

“Ibu juga, melototnya masih belum berhasil.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ringkasan at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: