Nyamuk!

10 Januari 2012 § 3 Komentar

            Peringkat kedua dalam daftar sesuatu yang kubenci adalah nyamuk. Hewan bising ini berhasil menjadi runner-up setelah dibawahi hujan. Dari banyak aspek yang membuatku benci hewan mungil ini, alasan terbesar ialah: ia menyedot darahku. Tentu saja aku keberatan dengan hal ini, darah bagiku sesuatu yang kubutuhkan. Nyamuk itu begitu egois, dalam raganya padahal sudah diberikan sdemikian banyak darah untuknya tapi tetap saja memburu darah-darah manusia agar dia kenyang. Rupanya ia bersaingan dengan vampire menurutku. Bagaimana jika aku mulai menulis sebuah naskah film tentang vampire dan nyamuk? Mungkin bisa menjadi film box office yang ratingnya menjadi tertinggi, tapi bukan di negaraku. Negara ini lebih menyukai mengonsumsi sebuah tayangan yang memperlihatkan bagian tubuh wanita tapi masih bergenre horror katanya. Ah, vampire mungkin bisa menjadi bagian dari horror! Baiklah, setelah ini aku akan mencoba merangkainya menjadi suatu cerita. Tapi kuselesaikan yang ini dulu….

            Kuralat pernyataanku tadi, alasan terbesar mengapa aku sangat anti dengan hewan terbang ini adalah ia membuatku gatal. Ia juga meninggalkan bekas berupa titik merah dikulitku. Aku ingin tau nyamuk yang biasa menggigitku itu wanita atau pria, kalau pria mungkin aku bisa mewajarkannya. Pria otomatis akan menyukai wanita, berarti ia menyukaiku. Namun, kalau dia adalah seorang wanita –eh tidak pantas dengan sebutan wanita; betina saja – ia pasti iri denganku. Harusnya ada pengertian antar sesama yang berkromosom XX bahwa merawat tubuh itu penting (ya pasti jumlahnya berbeda, aku payah dalam pelajaran Biologi). Aku sudah mengocek tabungan untuk membeli hand body dan lulur yang bermerk agar tubuhku selalu terawat. Bintik merah pada kaki sangat mengganggu pemandangan, apalagi di sekitar lutut. Oh, sungguh itu adalah bagian kesukaan para nyamuk sepertinya. Kalau dilihat, seperti anak kecil yang tidak terawat saja, untungnya kulitku masih cerah.

            Takhanya bagian lutut ke bawah yang menjadi sasaran, nyamuk-nyamuk itu usil menggerayangi tubuhku. Tidak sedikit juga ia menggigit paha, perut, serta dadaku. Kurang ajar memang! Belum ada pria yang bisa menjamah tubuhku, tapi nyamuk-nyamuk genit itu sudah berhasil menyedot sedikit darahku ketika terlelap. Saat tidur, semua orang tidak sadar akan sesuatu yang menimpa dirinya, maka ketika si nyamuk sedang beraksi spontan tangan kita akan berusaha mengusiknya. Dengan kata lain, nyamuk ini menjadi pengadu domba untuk bagian tubuhkita, bahwa dengan tidak sengaja kita akan melukai tubuh kita sendiri dengan tamparan pada tubuh kita. Sistem syaraf kita toh tidak akan berhenti bekerja meskipun kita tertidur, bahkan si serangga tengil ini senantiasa membangunkan secara paksa dari tidur! Jelas ia hewan pengganggu! Harusnya mereka musnah!

            Ah, andaikata aku memiliki jurus ampuh untuk melawan sesuatu, tentulah yang akan kumusnahkan pertama kali adalah nyamuk! Ada suatu pertanyaan yang membenaki perasaanku: ada berapa banyak populasi nyamuk di bumi? Takperlulah di bumi, di Indonesia saja! Oh, Indonesia terlalu luas, populasi nyamuk di rumahku! Di kamarku! Apa perlu seminggu sekali rumahku di fogging?

 

            Semua hal yang berkaitan dengan nyamuk sungguh tidak mengenakkan. Seperi fogging itu, proses meminta agar difogging saja cukup rumit dan sebelum penyemprotan itu harus kututupi dahulu barang-barang di rumahku menggunakan koran agar tidak lengket dan bau gasnya. Sebelumnya juga aku harus mencari dan mengumpulkan koran-koran lama yang sudah tidak kubaca di lemari bacaan yang tersimpan di gudang, tepatnya di dekat atap rumahku. Untuk ke gudang dan mencari korannya juga aku perlu membawa senter serta menggunakan masker agar tidak terkena virus atau debu yang menggunungi gudang. Aku alergi debu, bisa-bisa batukku kambuh! Coba bayangkan, banyak resiko hanya demi memusnahkan nyamuk!

            Mungkin proses penyemprotan nyamuk, khususnya aedes aegypti, agak memakan waktu lama. Namun, Baygon, Hit, atau obat nyamuk lain juga sama menyebalkannya! Aku tentu menggunakan obat nyamuk di rumahku, terutama bagian kamar. Baunya itu loh yang bisa menyesakkan pernafasan. Itu pun tidak baik bagi kesehatan, yah walaupun sekarang ini sudah ada yang beraroma lavender, jeruk, dan rumput hijau. Coba bayangkan bagi mereka yang tidak mampu membeli obaat antinyamuk semprot! Asap dari TigaRoda juga tidak kalah sesak, obat nyamuk bakar seperti itu juga tidak berfungsi maksimal untuk mengusir nyamuk. Hanya bertahan paling tidak 3 jam, aku tidak begitu percaya yang mampu hingga 8 jam. Apalagi yang otomatis, seperti yang ditempel pada saklar dan katanya bekerja semalaman. Pernah aku mencoba yang seperti itu, hasilnya tetap saja bintik merah dan gatal menghiasi badanku.

            Pertanyaan lain dalam benakku ialah: bagaimana bisa seekor nyamuk menyebabkan gatal? Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak pandai dalam pelajaran Biologi, waktu sekolah dulu aku selalu tertidur. Seharusnya dulu aku mempertanyakan hal ini kepada guruku. Untuk mencari di internet pun enggan sekali rasanya, sok penting sekali nyamuknya dibanding setumpuk tugasku!

            Suara nyamuk itu sungguh mengganggu. Ia tidak merdu, bunyinya monoton dan membuat kesal. Sering sekali aku mendengar bahwa si nyamuk tengah mencoba menarik perhatianku dengan suaranya yang didengungkan sekitar wajahku. Namun saat mencoba menangkapnya, ia menghilang entah ke mana. Nyamuk memiliki satu organ yang sangat membantunya, yaitu sayap. Rasanya kalau ada nyamuk yang berhasil kutangkap, akan kupatahkan kedua sayapnya biar tidak dapat terbang dan tau ia bagaimana rasanya bila bagian badannya sakit! Kejam memang khayalanku, tapi itu toh khayalan. Realitanya, si nyamuk yang lebih senang menjamahku.

            Omong-omong mengenai perihal menangkap nyamuk, akan menjadi sangat bahagia ketika aku berhasil menangkapnya dan mematikannya! Ya, menangkap nyamuk itu sulit. Mungkin jika nanti aku sukses, akan kubuat sebuah ajang perlombaan menangkap nyamuk. Efeknya sungguh positif, selain usaha untuk mengenyahkan nyamuk dari muka bumi, lomba itu juga bermanfaat untuk olahraga lengan. Oh, hampir saja lupa bahwa ada alat khusus untuk membasmi nyamuk yaitu raket listrik. Menurutku raket itu justru memiliki efek yang berbahaya. Belum tentu nyamuk itu akan mendarat tepat di raket, tapi banyak korban oleh raket itu yang menyetrum si pengguna sendiri. Aku bukan konsumen raket listrik tentunya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: berapa kecepatan nyamuk saat ia berusaha melarikan diri dari kejaran tangan manusia?

            Adapula lotion antinyamuk! Memang ini satu-satunya yang agak mendingan, wanginya enak, seperti body lotion umumnya hanya saja berantinyamuk. Aku selalu menggunakan lotion ini jika menginap di tempat lain. Tetap saja, hasilnya nihil. Ketika pagi datang dan aku tebangun, beberapa bintik merah menghiasi kulitku. Kadang pula saat tengah tertidur, aku menyakiti diriku sendiri dengan menamparnya. Di zaman yang serba maju ini harusnya ada pakaian antinyamuk, perlukah aku yang menggagasi? Lagi-lagi aku mengingat jeleknya nilai Biologiku dulu.

            Mosquito namanya cukup indah untuk ukuran nama internasional. Tapi tetap saja dalam bahasa kita ia adalah nyamuk! Hewan berdengung yang doyan kabur setelah menghisap darah mangsanya. Nyamuk itu contoh hewan yang tidak bertanggung jawab! Daritadi aku memang mengambil sisi negatif dari serangga ini, toh sekalipun ada sisi positifnya juga tidak akan mengubah cara pandangku terhadapnya. Sekali benci, tetap benci.

            Tentunya aku tidak akan sampai niat hingga memelihara katak di rumahku, terlebih di kamarku untuk mengusir nyamuk. Aku tau bahwa katak menyukai nyamuk. Satu lagi adalah cicak, seperti di lagu anak-anak itu. Si cicak melahap nyamuk, banyak cicak yang mendatangi kamarku tetapi masih saja nyamuk yang lebih banyak. Mungkin cicak ini lelah sendiri mencari-cari nyamuk. Ibaratnya kami cinta segitiga. Cicak itu menyukai nyamuk, tetapi nyatanya ia menyukai darahku. Tapi jelas, takmungkin aku menaruh hati setitikpun untuk serangga tengil itu.

            Sebenarnya aku heran bagaimana mungkin seekor nyamuk bertelur dan berkembang biak di dalam air. Siapa yang telah menghamilinya? Kemudian pertanyaan seperti itu yang juga ada di benakku. Beginilah isi otak seseorang yang tidak pandai Biologi. Anakku nanti akan kusuruh untuk lebih rajin mempelajari Biologi agar menjadi seorang ilmuwan dan dapat menjawab semua pertanyaan yang aku pikirkan tadi.

            Jadi, setelah aku menyelesaikan tugas-tugasku. Aku akan melanjutan ritualku sebelum tidur. Sudah dua hari aku berhasil membuat para nyamuk mabok dengan diriku. Mungkin di indera penciuman mereka, aku tak sewangi biasanya. Aku tidak membaluri lotion antinyamuk di tangan dan kakiku. Harganyapun mahal, lebih baik aku menggunakan yang lebih praktis dan murah, yang fungsional pula! Sedikit lagi tugasku rampung, setelah itu aku akan membersihkan tempat tidurku dengan sapu lidi. Kemudian sebuah kewajiban dengan menyemprotkan Baygon di sisi-sisi biang nyamuk, di sela-sela lemari serta tempat gelap, di setiap sudut kamar juga. Terakhir adalah membaluri sekujur tubuhku minyak kayu putih! Memang agak pedas, tapi rupanya nyamuk tidak begitu menyukai kayu putih.

            Plakkkk!

            Ah, baiklah serangga hitam ini sekarang memancingku untuk beraksi. Aku ladeni.

            Ada satu aibku yang tidak pernah kuterangkan pada orang banyak, aku tidak tahu apa perbedaan antara nyamuk dan lalat!

Sebelum tidur, 23:41.

Tagged:

§ 3 Responses to Nyamuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nyamuk! at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: