Student Hijo, Sastra Perlawanan!

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Perlawanan Halus dari Mas Marco

            Novel Student Hijo karangan Marco Kartodikromo terbit pertama kali di tahun 1919. Namun sebelumnya terbit pada harian Sinar Hindia pada tahun 1918 sebagai cerita bersambung. Jika pada novel sebelumnya terbitan Balai Pustaka, novel ini yang pada tahun itu terbit oleh N.V Boekhandel en Drukken.

Dari segi cerita memang tidak akan lepas dari kisah percintaan, dalam novel ini kisah cintanya menurut saya tidak terlalu berliku. Padahal seperti di zamannya adat perjodohan memang sering dilakukan dan di novel ini tidak terjadi konflik yang begitu serius. Buktinya perjodohan antara Hijo dengan Wungu serta Biru dengan Wardoyo berjalan lancar didasarkan pada kesukaan antara mereka. Hanya saja di sini terdapat konflik batin saat Hijo di Belanda yang sempat menjalin cinta dengan Betje, juga Biru yang tergoda oleh Wardoyo. Perjodohan yang dilakukan juga sebenarnya di usia yang tergolong sangat muda, bahkan hampir Hijo berjodoh dengan Biru yang statusnya masih satu famili. Oleh karena itu mungkin sampai saat ini di beberapa daerah masih ada perjodohan dengan usia dibawah standar menikah warga Indonesia.

Hal kecil yang menurut saya juga berunsur jenaka terletak pada gaya bahasa dalam cerita ini. Seperti ada beberapa kutipan saat mereka berbincang “seperempat tertawa” secara otomatis saya yang membaca mencoba memikirkan hal tersebut dan mempraktikkannya.

Apabila dibaca keseluruhan tidak ada masalah yang begitu berarti dalam novel ini, menurut saya, karena dari awal hingga ke akhir cerita itu damai-damai saja. Tokoh-tokoh dalam cerita ini juga tidak terlalu menonjol karena masing-masing memiliki adat yang mungkin penurut dan “iya-iya saja”, terlebih tokoh Hijo yang ketika di Belanda ditanya tentang membandingkan negerinya dengan Belanda memilih lebih menyukai Belanda ketimbang di Jawa, walaupun dalam artian ia ingin menjaga kesopanan.

Berdasarkan sumber dari internet, Student Hijo merupakan salah satu novel yang disebut ‘sastra perlawanan’ karena dalam cerita ini penulis, Marco Kartodikrotomo, menyampaikan rasa pembelaannya terhadap kaum bumiputera dan menentang perlakuan Belanda pada saat itu. Ini yang menjadikan Student Hijo berwarna, justru pada tokoh Controleur Walter dalam perjalanannya pergi ke Belanda, ketika bertemu dengan Seargeant Djepris yang pernah menjadi colonial. Disertakan dalam cerita itu sebuah artikel “Bangsa Belanda di Hindia” yang menurut saya itulah inti perlawanan yang dimaksudkan pengarang. Di saat zaman pada saat itu belum merdeka, telah ada keinginan-keinginan rakyat untuk merdeka dan melawan Belanda dengan tulisan ini. Mungkin itu penyebab Balai Pustaka menolak novel ini diterbitkan, sehingga yang menerbitkan jatuh ke penerbit lain.

Dalam artikel itu diberitakan bahwa adat orang Belanda lah yang patut diubah, padahal sebelumnya tokoh Djepris ini menghina Jawa. Kemudian pengarang menghadirkan tokoh Walter sebagai sisi lain dari Belanda menurut saya, karena sebenarnya tidak semua orang Belanda yang benar ingin menguasai Jawa tetapi ada yang mencintai Indonesia. Pengarang merupakan seorang aktivis yang melahirkan Student Hijo dari balik penjara, dalam kutipan berikut terlihat benar bahwa Marco memang secara frontal menunjukkan perlawanannya terhadap bangsa Belanda saat itu.

“Sesudahnya Hijo dan leteraarnya turun dari kapal, terus ke hotel, kedatangannya di situ Hijo dihormat betul oleh sekian budak hotel sebab mereka memikirkannya kalau ada orang yang baru datang dari tanah Hindia, mesti banyak uang, lebih lebih kalau orang Jawa. Dari situ, Hijo tertawa dalam hati melihat keadaan ini, karena ia ingat nasib bangsanya yang ada di tanahnya sama dihina oleh bangsa Belanda kebanyakan” (Student Hijo, halaman 58)

“Kalau negeri Belanda dan orangnya cuma begini saja keadaannya, betul tidak seharusnya kita orang Hindia mesti diperintah oleh orang Belanda,” begitu kata Hijo dalam hatinya. (Student Hijo, halaman 59)

 

Selain perlawanan yang terlihat dalam novel ini, menurut saya ada satu hal lagi yang dipamerkan yaitu masyarakat priyayi Jawa pada saat itu. Jadi, seperti yang diketahui bahwa keluarga Hijo merupakan anak seorang saudagar yang dipandang rendah oleh regent-regent atau pangeran-pangeran setempat. Tetapi, keluarga Hijo termasuk yang berkecukupan dam memperoleh hidup yang layak. Apalagi ketika bertemu dengan keluarga Wungu yang seorang regent, sehingga kesopanan dan tingkah lakunya harus dijaga. Kemudian dari berpakaiannya juga pada Wungu dan Biru selalu terlihat anggun menggunakan kain sutera, kipas bulu, perhiasan zamrud dan berlian itu menunjukkan kemewahan dalam hidup mereka. Terlebih pada saat Wardoyo, Biru dan Wungu berada dalam satu mobil, menyertakan adat kesopanan Eropa bahwa Wardoyo harus duduk di tengah-tengah. Berarti, kebiasaan zaman itu memang hampir sepenuhnya pengaruh dari Eropa (Belanda khususnya). Apalagi saat hendak mengirimkan surat, misalnya Biru, Wardoyo dan Wungu mengirim surat harus saling melihat surat satu sama lain. Itu sebuah kebiasaan yang menurut saya unik, karena harusnya surat yang bersifat pribadi biarkan orang yang dituju saja yang mengetahui. Saat membacanya memang agak aneh dan seperempat ketawa saya, ternyata kehidupan regent di Jawa zaman itu sungguh unik.

Saya memang belum bisa mengkaji novel di luar sudut cerita, tetap setidaknya saya berusaha mencoba. Student Hijo bagi saya novel yang cukup menarik dibanding dengan dua novel sebelumnya. Sisi baik dari novel ini dapat kita ambil yaitu dengan tetap mempertahankan ke-Indonesia-an kita di tanah sendiri serta apabila berada di negeri orang lain, serta menjaga kebiasaan baik yang sudah ditularkan dari para leluhur kita. Semoga untuk kedepannya akan menjadi lebih baik daripada sekarang dan yang lalu. Amin.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Student Hijo, Sastra Perlawanan! at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: