Ronggeng Dukuh Paruk, Sumber Sang Penari

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Sang Penari yang Harus Memilih

 

            Ronggeng Dukuh Paruk merupakan trilogi novel karya penulis yang lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948 yaitu Ahmad Tohari. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976). Ia pernah bekerja di majalah terbitan BNI 46, Keluarga, dan Amanah. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995). (sumber: Wikipedia)

Sejumlah karyanya selain Ronggeng Dukuh Paruk yang terkenal di kancah Sastra Indonesia ialah Kubah (novel, 1980), Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985), Jantera Bianglala (novel, 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986), Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989), Bekisar Merah (novel, 1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995), Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000), Belantik (novel, 2001), Orang Orang Proyek (novel, 2002), dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004).

Novel ini merupakan novel Ahmad Tohari yang saya baca karena sebelumnya hanya membaca beberapa cerpen karyanya, seperti Senyum Karyamin dan Dilarang Mencintai Bunga-bunga. Novel Ronggeng Dukuh Paruk sendiri telah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari (The Dancer) yang baru-baru ini tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Sebelum digabung menjadi satu, buku ini tadinya terpecah menjadi tiga judul, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan terakhir Jantera Bianglala. Namun karena saran penerbit dan penulis akhirnya buku ini digabung menjadi satu, agar memudahkan pembaca yang masih mencari koleksi Ahmad Tohari.

Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang kehidupan Srintil yang sejak kecil berteman dengan Rasus. Hingga dewasa mereka saling jatuh cinta, kemampuan Srintil yang pandai menari telah diketahui dan lewat berbagai proses hingga ia menjadi ronggeng di desa terpencilnya itu, Dukuh Paruk. Namun, langkah terakhir untuk menjadi ronggeng inilah yang membuat hati Srintil dan Rasus mengawali pergolakan di dalam novel. Pada akhirnya Sang Penari ini diharuskan memilih dan pilihannya jatuh untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk guna memajukan kesejahteraan desa tempatnya tinggal.

Srintil akhirnya menjadi ronggeng yang terkenal setelah ritual buka klambu dilaksanakan. Tak kuasa melihat Srintil yang telah menjadi ronggeng, Rasus pindah dari Dukuh Paruk ke Dawuhan dan menjadi tentara. Setelah menjadi ronggeng, justru Srintil menyadari bahwa ia mencintai Rasus. Ia mengajak Rasus menikah, tetapi Rasus menolak karena lebih memilih menjadi tentara. Disaat ia tengah jenuh meronggeng malapetaka menyerang Dukuh Paruk, Dukuh paruk dituduh menjadi anggota partai komunis setelah terlibat dengan oknum partai tersebut. Setelah ditahan, Srintil menjadi pribadi yang berbeda dan tertutup hingga akhirnya bertemu dengan Bajus. Namun, ternyata Bajus berniat jahat. Di samping itu Srintil mendengar bahwa Rasus sedang kembali ke Dukuh Paruk. Srintil sangat terpukul karena ia telah begitu percaya pada Bajus. Namun Bajus justru merupakan lelaki yang jahat. Karena itu, Srintil mengalami gangguan jiwa dan menjadi gila. Melihat kondisi Srintil yang memrihartinkan, Rasus merasa iba. Ia akhirnya membawa Srintil ke rumah sakit jiwa. Ia juga menyadari bahwa sesungguhnya ia masih mencintai Srintil.

Dalam novel ini banyak menceritakan tentang konflik batin yang dialami oleh tokoh Srintil. Seperti pada saat ia ragu untuk menjadi ronggeng, saat-saat ia jenuh menjadi ronggeng, hingga ia ditahan dan kepribadiannya menjadi berubah tertutup. Akhirnya pergolakan batin Srintil menjadi gangguan jiwa pada dirinya, namun tokoh Rasus dalam novel ini menjadi sesosok pahlawan. Karena takdapat dipungkiri bahwa memang Rasuslah yang menjadi belahan jiwa Srintil.

Selain tentang cinta, novel ini juga mengangkat tema-tema sosial yang mengangkat cerita dan derita kehidupan rakyat kecil. Ahmad Tohari mampu berkisah dengan latar desa dengan menarik bahkan tak jarang sangat menarik. Ia berhasil mengungkapkan berbagai persoalan kemanusiaan seperti kejujuran, kemunafikan, keiklasan, kesewenang-wenangan, ketertindasan, dan keterpaksaan.

 

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ronggeng Dukuh Paruk, Sumber Sang Penari at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: