Perdebatan Antar Burung Kondor dalam Naskah Drama Mastodon dan Burung Kondor Karya WS. Rendra

26 Desember 2011 § 1 Komentar

Perdebatan Antar Burung Kondor

dalam Naskah Drama Mastodon dan Burung Kondor Karya WS. Rendra

 

Sandiwara ini dipentaskan pertama kali oleh

Bengkel Teater Yogyakarta pada 13 Oktober 1973 di Yogyakarta

berdasarkan naskah yang belum diterbitkan dan tersimpan di Bank

Naskah Dewan Kesenian Jakarta

Naskah ini belum pernah diterbitkan dalam bahasa Indonesia

tetapi edisi bahasa Inggrisnya sudah diterbitkan di India.

            Mastodon dan Burung Kondor (1972) merupakan karya WS Rendra yang telah mencapai kelas Internasional, seperti yang tertera dalam cover naskahnya di atas. Naskah drama Mastodon dan Burung Kondor merupakan salah satu karya sastrawan besar di jagat Sastra Indonesia, yakni W.S Rendra (Willibrordus Surendra Bawana Rendra; lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967.

 

Naskah ini menceritakan tentang orang-orang pemikir di suatu negeri. Dalam suatu negara, terdapat dua lapisan yang berperan penting dalam pembangunan negara, yakni pemerintah dan rakyat. Pemerintah yang memegang andil penting, yang dipercaya oleh rakyat, dan mengapresiasikan keinginan rakyat. Sementara rakyat sendiri merupakan sekelompok manusia yang menjalankan kebijakan pemerintah atas aspirasinya. Dalam Mastodon dan Burung Kondor sendiri terdapat sekat yang sangat kontras antara pemerintah dan rakyat, sehingga Rendra yang gerah akan pergerakan pemerintah dan kelakuan rakyat mengapresiasikannya lewat drama ini. Mastodon sebagai sosok pemerintah pada saat itu dan burung kondor sebagai rakyat. Namun, pada hakekatnya pemerintah ialah bagian dari rakyat itu sendiri.

Konon, melalui sandiwara ini turut memicu terjadinya aksi massa besar-besaran di Jakarta tahun 1974 menentang modal Jepang yang berujung kerusuhan, yang kemudian dinamai Malari (Malapetaka limabelas Januari). Belum dikonfirmasi pada para pelaku sejarah, seberapa besar pengaruh pertunjukan tersebut terhadap peristiwa Malari.

 

Saya sendiri menganalisis pengertian-pengertian yang di atas tadi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut KBBI, mastodon adalah binatang purba, mamalia raksasa. Pemerintah sekelompok orang yg secara bersama-sama memikul tanggung jawab terbatas untuk menggunakan kekuasaan atau badan tertinggi yg memerintah suatu negara (spt kabinet merupakan suatu pemerintah. Kemudian burung kondor merupakan burung buas besar di pegunungan Andes dng leher dan kepala tidak berbulu. Yang terakhir adalah pengertian rakyat, yakni penduduk suatu negara.

 

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa segala konflik atau masalah yang terjadi dalam sistem tatanan negara bersumber dari hal yang sama, yakni rakyat. Hanya bedanya dari kedudukan sebagai pemerintah atau kah sebagai rakyat. Di drama ini, mastodon-mastodon menganggap telah berhasil melakukan pembangunan untuk rakyat, sementara rakyat-rakyatnya mempertanyakan untuk apa pembangunan itu dibuat yang nyatanya tetap saja tidak berbekas pada mereka. Pemerintah dalam naskah ini hanya mementingkan pembangunan besar pada negara, bukan mengabdi pada rakyat. Oleh karena itu, Juan Frederico yang berinisiatif untuk melakukan revolusi pada pemerintah.

 

Gerakan-gerakan yang dikerahkan oleh para mahasiswa yang dipimpin oleh Juan Frederico bernama ”Revolusi Semesta Berencana”. Menurut saya pada dasarnya niat yang dilakukan oleh Juan Frederico ini sudah baik, tapi caranya saja yang kurang berkenan. Seperti yang dikatakan oleh Jose Karosta bahwa aksi tidak harus dilakukan dengan kekerasan. Apabila ditilik lebih dalam sebenarnya spesifikasi drama ini merupakan sentilan dari Rendra untuk pemerintahan pada saat itu, yakni pemerintahan Soeharto. Dan Jose Karosta merupakan sosok Rendra yang juga merupakan seorang penyair, persis seperti yang dilakukan oleh tokoh Jose.

 

Apabila suatu negara terdapat dua lapisan yang sangat penting yakni rakyat dan pemerintah, juga pemerintah di sini ialah bagian dari rakyat. Maka apabila dilampirkan dalam drama Rendra ini bahwa semuanya adalah burung kondor, sehingga suatu negeri ini merupakan kumpulan burung-burung kondor. Burung kondor yang terbagi dalam tiga pihak, yaitu pihak Max Carlos, pihak Juan Frederico, dan Jose Karosta. Gerakan revolusi yang dicetuskan oleh Juan Frederico ini ternyata terbagi menjadi dua, di mana Valdez yang merupakan sahabat dari Jose juga bagian dari gerakan ini sangat menjunjung tinggi persahabatan mereka. Jadi, para penggerak ini sebenarnya saling berdebat untuk menuju aspirasi mereka.

 

Juan Frederico dan kawan-kawannya menghendaki perubahan revolusioner. Berguru dari Profesor Topaz, mereka menggalang kekuatan di kampus dan kemudian menyusun berbagai lapisan masyarakat untuk melancarkan perlawanan dan merebut kekuasaan dengan tingkat kematangan yang sangat apik. Namun upaya mereka terhalang oleh Jose Karosta yang cukup berpengaruh di kalangan pemuda umumnya.

Jose Karosta digambarkan sebagai penyair yang, seperti Juan Frederico, kritis terhadap kekuasaan Kolonel Max Carlos. Namun ia menolak revolusi, karena menurutnya akan melahirkan sikap fanatik dan ekstrim seperti yang dinilainya dari sosok Juan Frederico.

“…Katakan kepada Juan Frederico, aku tidak mau mengikuti jejak orang fanatik. Aku percaya pada jalannya perubahan berdasarkan perkembangan kematangan kesadaran. Perubahan yang mendadak yang ditimbulkan oleh revolusi hanya akan menghasilkan perubahan semu.”

 

Tentu saja dengan pernyataan yang demikian mengundang kejengkelan di pihak Juan Frederico dan pasukan revolusionernya, sehingga mereka memanfaatkan kepengaruhan Jose sebagai batu lompatan menuju revolusi yang dicita-citakan. Namun, Jose telah mengetahui akal-akalan mereka sehingga berdampak pada penangkapan Jose Karosta. Hingga pada akhir drama ini selesai, Jose Karosta tetap pada pendiriannya dan kedudukannya untuk tak berpihak pada Juan Frederico maupun Max Carlos yang dipandangnya sebagai pejuang. Seperti pada kutipannya:

” …Aku tidak usah menunggu hukuman sejarah untuk melihat kekeliruan di dalam pendapatku. Aku mengandalkan kemampuanku untuk mengkritik diriku sendiri, untuk meneliti ke dalam diriku sendiri.”

 

Jose Karosta menyimpulkan perbedaannya dengan kaum revolusioner adalah pendasarannya pada “pribadi”, sedangkan kaum revolusioner pada “lembaga”. Namun, jelaslah, bahwa ia takbisa membantahkan—bahkan bagi para seniman, dan ketidakbebasan si “pribadi” dari kontrol sosial, seperti yang diungkap Padre Alfonso dalam salah satu dialog. Ia juga tidak akan dapat memadamkan api revolusi menjalar ke seantero negeri dan mulai memastikan kemenangan.

 

Terlepas sementara dari pertanyaan di atas, sandiwara Mastodon dan Burung Kondor memang sarat dengan kritik sosial. Kontradiksi langsung jelas tergambar dari bait pertama dialog yang disampaikan oleh Jose Karosta:

“…Kemudian hatinya pilu melihat jejak-jejak yang sedih dari tani buruh yang terpacak di atas tanah gembur namun tidak memberikan kemakmuran bagi penduduknya. Wahai, tanah airku, alangkah subur lembah-lembahmu namun alangkah melarat kehidupan rakyatmu…”

 

“…Bagaikan para pangeran di zaman pra ilmiah, para pangeran baru bersekutu dengan cukong asing, memonopoli alat berproduksi dan kekuatan distribusi.”

 

Meskipun diceritakan dengan latar Amerika Latin, namun orang dapat menangkap maksud Rendra dalam konteks waktu itu. Pendapat-pendapat tentang penindasan struktural dan ‘cacat budaya’ tersampaikan lugas melalui karya ini.

Saya pribadi apabila mengambil peran dalam drama ini tidak memungkiri kepandaian dari sosok Juan Frederico untuk mengentaskan krisis negara karena memang Juan dapat mengambil hati rakyat dengan kepiawaiannya dalam berorasi. Namun, tindakan yang paling tepat adalah dengan mengakari dari pemerintahnya itu sendiri dengan tidak menggunakan kekerasan. Idealis memang hal yang semacam demikian tanpa menerapkan sebuah realitas yang terjadi. Untuk itu, pada hakikatnya masalah ini tak akan lepas sebagai “pekerjaan rumah” bagi seluruh negara. Jadi, harus ada yang ditangguhkan, aspirasi rakyat atau kebijakan pemerintah?

Tagged: , ,

§ One Response to Perdebatan Antar Burung Kondor dalam Naskah Drama Mastodon dan Burung Kondor Karya WS. Rendra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perdebatan Antar Burung Kondor dalam Naskah Drama Mastodon dan Burung Kondor Karya WS. Rendra at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: