Krisis Keyakinan dalam Atheis Karya Achdiat K. Mihardja

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Krisis Keyakinan pada Hasan

 

Novel Atheis merupakan karya Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1949. Achdiat Karta Mihardja (lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911 – meninggal diCanberra, Australia, 8 Juli 2010 pada umur 99 tahun [1]), yang lebih dikenal dengan nama pena singkatnya Achdiat K. Mihardja, adalah seorang sastrawan dan penulis Indonesia. Atheis memperoleh Penghargaan Tahunan Pemerintah RI tahun 1969 (R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972) dan Sjumandjaja mengangkatnya pula ke layar lebar pada tahun 1974 dengan judul yang sama, yaitu Atheis. (sumber: Wikipedia)

Atheis menceritakan tentang kebimbangan hidup seorang Hasan akan adanya Tuhan. Padahal, Hasan telah dididik taat beragama oleh orang tuanya namun setelah pindah ke Bandung dan bertemu dengan kawan lamanya, Rusli, yang seorang atheis, kehidupannya berubah. Ini juga dipengaruhi oleh kehadiran Kartini, adik tiri dari Rusli, yang menarik bagi Hasan. Perbincangan dengan Rusli membuat keyakinan Hasan menjadi goyah lantaran persepsi Rusli yang mengatakan bahwa manusia sangat [andai dan akan dapat menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, meski pun awalnya Hasan menolak pernyataan-pernyataan dari Rusli tapi toh dipikir-pikir juga olehnya dan akhirnya ia mulai menunggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai umat Islam dan memilih untuk ikut berbincang mengenai politik. Kemudian hadir sosok Anwar dalam kehidupan mereka, seorang atheis juga. Pilihan Hasan untuk meninggalkan kebiasaan agama Islam berdampak dengan perpisahan ia dengan kedua orang tuanya. Penyakit Hasan kembali sering kambuh saat setelah 3 tahun ia menikah dengan Kartini, penyebabnya ialah kecemburuan Hasan terhadap Anwar yang kerap jalan dengan Kartini. Ditengah kemelut rumah tangganya, kepercayaan Hasan akan adanya Tuhan kembali goyah, lewat penyakit TBC yang sedang dideritanya, ia takut akan datangnya kematian apalagi setelah ia berbincang dengan tokoh “saya”. Terjadi pertengkaran hebat, Kartini minggat, kemarahan Hasan memuncak saat ia akan beristirahat di sebuah hotel ketika bermaksud mencari Kartini dan rupanya dalam daftar tamu ada nama Anwar dan istri. Ia marah besar dan saat ia pergi, ia tertangkap oleh tentara Jepang karena dikira sebagai mata-mata dan meninggal karena tak kuat menahan siksaan tentara Jepang.

Novel ini berbeda dengan 6 novel yang pernah ditugasi, tidak ada unsur kawin paksa, tidak menitikberatkan pada kisah cinta juga, tetapi sangat sensitive karena mengenai agama. Konfliknya juga tidak sederhana, terutama konflik batin yang ditulis oleh Achdiat begitu detail. Saya pribadi yang membacanya sering kesal dengan keyakinan Hasan yang masih labil. Kalau imannya sangat tipis mungkin dapat terpengaruh dengan kata-kata pada novel ini. Karena kata-katanya memang sangat meyakinkan dan memiliki alasan yang kuat. Hal tersebut tampaknya karena didasari oleh latar belakang pendidikan sang pengarang.

Saya pernah mendengar dari seseorang bahwa Atheis merupakan benar-benar otobiografi novel, yang menjadi tokoh “saya” dalam novel ini benar-benar Achdiat. Benar atau tidaknya juga saya tidak tahu. Awalnya, pribadi Hasan yang tidak mengerti akan dunia politik, ideologi-ideologi atheis macam Karl Marx dan lain-lain juga saya tidak mengerti sama seperti saya, namun setelah ia melakukan diskusi dengan Rusli dan Anwar saya tambah tidak mengerti dan memang tidak ingin mengerti. Tapi nyata pada akhirnya Hasan masih bimbang pada kepercayaan yang dianutnya. Dalam novel ini, Achdiat bersifat netral yaitu tidak terlalu dominan terhadap keatheisan, tapi tetap menjunjung nilai agama tanpa mencela keatheisan seseorang.

Atheis atau tidak memercayai adanya Tuhan adalah bentukan dari kemajuan teknlogi. Baik Rusli maupun Anwar, atau juga Kartini yang meyakini Tuhan adalah teknologi atau zat kimia atau apapun disebabkan kemajuan pola pikir yang tidak diserap dengan baik, mungkin juga karena tidak adanya cinta kasih. Apalagi di zaman sekarang ini, kita perlu berhati-hati dan selalu mawas diri karena sangat banyak faham atau aliran yang mengajarkan hal-hal bertentangan dari nilai agama dan kehidupan.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Krisis Keyakinan dalam Atheis Karya Achdiat K. Mihardja at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: