KOPI JO

26 Desember 2011 § 2 Komentar

KOPI JO

Oleh: Mardatilla

 

Walau pun akan berakhir, ada sebuah kenangan yang terselip di sini. Kisah yang terbalut akan cinta yang tidak pernah dilirik usia. Kopi Jo, sebagai saksinya.

 ***

            Jo memang tidak pernah puas, bahkan di saat ia berada sangat tinggi pun masih ada sesuatu yang katanya belum terpenuhi. Rumah mewah, baju impor luar negeri, perhiasan bernilai jutaan rupiah, juga jabatan sebagai presiden tidak akan membuatnya puas. Tapi Jo dan aku tidak seperti itu, yang tadi hanya perandaian. Setidaknya hidupnya masih nikmat untuk bisa menyeruput kopi di pagi hari. “Ada yang belum aku capai, tapi apa? Kau tahu, istriku?” begitulah tanyanya padaku, angkuh, hampir di setiap hari.

Sudah hampir empat tahun pernikahan kami, belum juga aku menunjukkan pertanda akan memiliki momongan. Umur yang tidak lagi muda mungkin faktornya, sudah kukatakan pada Jo untuk mengadopsi anak saja. Tapi, itulah Jo, keputusannya tidak dapat dilengahkan, otaknya bagai batu, aku bukan apa-apa baginya. Hidupnya sesukanya saja. Ia ingin makan, bilang padaku. Ia ingin kopi, bilang padaku. Ia ingin pergi, tidak pernah bilang padaku. Memang begitu suamiku, setiap hari ia sangat sibuk. Sibuk membaca koran di ruang tengah sambil menghisap rokok, terkadang minum kopi. Sibuk menyaksikan siaran televisi dan mengomentari ulah pemerintah. Sibuk juga pergi ke mana pun tanpa memberi tahu padaku. Tapi aku mencintainya.

Pukul 23:18, Jo belum kembali ke rumah. Percuma apabila menghubunginya, takkan digubris. Tiba-tiba teringat saat aku pertama mengenalnya, di suatu pagi. Matahari ketika itu sedang dalam masa jayanya, bersinar sangat terang dan angkuh. Dengan peluh keringat sekujur tubuh, seorang pria berbaju hitam melintas di depanku. Bau keringat. Agak menjauh darinya, aku tak tahan dengan keadaan itu. Mata ku sipitkan, agar cahaya matahari tidak terlalu menerobos penglihatanku. Masih sambil menghisap-hisap permen di mulutku.

“Permen?”, dialah Jo. Itu kata pertamanya untukku. Aku hanya sedetik melihatnya, kemudian memalingkan muka.

“Suka kopi?” tanyanya lagi. Aku kesal, risih karena dia di sebelahku dan dia berkeringat. Pria berkeringat itu sangat membuat tidak nyaman, itu menurutku.

“Oh.. saya tidak mengonsomsi kopi.” jawabku sesinis mungkin.

“Suka pria?” aku terkejut. Entah mengapa secara spontan aku menjauhinya dan pergi, padahal aku belum tahu akan ke mana. Yang jelas saat itu aku ingin pergi. Memang aneh, ada sesuatu yang mendesir rasanya, ini berlebih.

“Umurmu berapa, Jo?” saat aku sudah mulai mengenalnya, itu pertanyaanku. Jo yang irit tertawa menjawab dengan suara beratnya. “Saya lebih tua dari dinosaurus.” itulah Jo, tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan pasti.

Seandainya Jo tahu, aku merindukannya yang dulu. Kehidupan pernikahan merubahnya, jati dirinya hilang begitu saja ketika ia dikatakan resmi menjadi suamiku. Bahkan, bulan maduku dulu tidak seperti pasangan lain dengan berlibur. Ia memintaku untuk berkomentar mengenai permasalahan di negeri ini serta membuatkannya kopi. Aku kembali gusar, kesal memang mengingatnya dan kadang tidak bisa sabar menghadapi sikap-sikapnya yang aneh. Tapi Jo pernah berkata padaku.

“Sayangku, sabar itu tidak berbatas. Bila sabar itu berbatas, itu bukanlah sabar. Kau tahu jagat raya? Bahkan sabar lebih luas dari itu.” kata-kata andalannya itulah yang membuat aku mati kutu di depannya dan tak menolak bahwa aku sangat mencintainya. Kemudian aku terlelap.

Secangkir kopi yang berdampingan dengan koran tersedia, sambil menyaksikan televisi suamiku duduk memperhatikan siarannya. Tapi tampaknya ia tak tertarik. Kemudian kopi buatanku diseruput olehnya.

“Pulang jam berapa kau malam tadi?” tanyaku.

“Aku pulang pagi, pukul 03.00 kau sedang pulas. Aku lemas.” Sambil meletakkan kembali kopi ke posisi semula.

“Kau sakit, Jo?” tanyaku, agak panik.

“Tidak, aku mencari perhatianmu.” jawabnya sambil menatapku dengan genit.

“Semangatlah suamiku. Kurang perhatian apa aku padamu?” aku menjawab dengan menundukkan kepala. Ya, mata Jo itu seperti lampu blitz pada kamera, aku tidak pernah dapat berani menantangnya. Jo tersenyum, katanya “Terima kasih sayang, kau membuat pagiku selalu lebih terang dibandingkan dengan cahaya matahari.”

Perkataan suamiku itulah yang membuatku selalu merasa masih muda, seperti saat kami bertemu di usiaku hampir dua puluh, ia mencapai tiga puluh. Teringat akan pernikahanku, ku lirik kalender. Besok ialah harinya!

Jo yang masih sibuk menyaksikan siaran berita kutinggalkan. Aku pergi ke kamar, mengunci, kemudian memastikan bahwa sebuah kotak di bawah tempat tidur kami masih pada tempatnya. Kado pernikahan untuk Jo dariku. Isinya prosa-prosa buatannya saat melamarku. Hanya satu kesamaan aku dan Jo, kami sama-sama menyukai prosa dan puisi. Selebihnya perbedaan kami sangat kontras.

***

            Rupanya aku tertidur selama hampir 14 jam, entah apa yang terjadi. Yang jelas mataku sekarang berkunang-kunang. Mungkin salah satu gejala dari 30 hari yang tersisa. Entah hari ke berapa ini, aku tidak peduli. Niatku tadi jadi tertunda untuk pergi mengambil sesuatu, untung orang itu dapat berkenan setelah kupaksa. Dini hari aku menemuinya.

Hampir satu jam aku menanti. Aku memang terlambat datang karena hal bodoh yang menimpaku tadi siang. Prosesnya menjadi lama, sudahlah yang penting sekarang aku tengah menunggu hadiahku. Bingkisan kecil yang indah untuknya, tak sabar ingin aku berikan. Reaksinya pasti dengan senyum simpul itu. Pipinya merona merah sambil tangannya menutup senyumnya sebagai tanda luapan bahagia. Dosaku sungguh memang besar, tak bisa memberikan sesuatu yang bisa membuatnya senang bukan kepalang. Tapi aku sangat mengenalnya, aku hanya butuh dia. Setidaknya kurang dari 30 hari lagi.

Janjiku adalah memberikan hadiah ini dengan keadaan paling sempurna, dengan tatanan indah seleranya yang khusus ku desain. Semoga itu dapat terlaksanakan. Ia selalu berada dalam benakku. Kepalanya yang seperti ninja serta senyuman kopinya ialah perpaduan terhebat, sangat cantik dan manis bagi mataku yang kusam ini.

Kucoba untuk membuat beberapa kalimat dalam sebuah kertas untuknya, maksudku untuk membuat prosa. Prosa rayuan, sama seperti saat dia menerima permintaanku untuk menikahinya. Satu langkah besar dalam hidupku dan ia satu-satunya wanita yang pernah singgah, karena aku tak pernah mengenal ibu. Setelah kalimatku jadi, tepat bingkisan kecilnya datang, padahal hanya sebuah amplop. Langsung kuselipkan kalimatku di antara bingkisan tadi. Aku pulang.

***

            Jo sedang pulas, padahal baru pukul 23:43. Biasanya ia masih mengganti saluran televisi. Di dekat ranjangnya, kopi yang kubuat tinggal setengah isi. Biasanya selalu habis. Mungkin hari ini ia begitu lelah. Aku harus memakluminya. Tepat pergantian hari nanti, aku akan membangunkannya dan mengucapkan hari jadi pernikahan kami yang ke empat. Kadonya masih tersimpan di bawah tempat tidur..

Aku berbaring di sampingnya dan mencoba mengamati lekat-lekat lekuk wajahnya, rupanya ia tidur sambil memegang sebuah amplop kecil yang terbungkus. Aku membukanya dan rupanya isinya ialah sebuah foto anak kecil yang pernah ku lihat dengannya di panti asuhan, aku dahulu ingin mengadopsi anak itu tapi Jo menolak. Alasannya, ia takut tak ku perhatikan. Di belakang foto itu ada tulisan “bawa anak kita ke rumah besok pagi setelah kau bangun.” Aku tersenyum lebar, setelah itu kutemukan secarik kertas di antara foto itu. Ku ambil kertas itu, kemudian kubaca.

“Setengah gelas kopi ini ku sisakan sebagai tanda bahwa aku tidak mencintaimu seutuhnya, tetapi ada ruang tertentu untukmu. Bila aku mencintaimu seutuhnya, maka aku kan membencimu seutuhnya juga. Selama aku mengenalmu, kamu tak pernah berani menatap mataku. Mataku adalah lensa terbaik dan kamu adalah objek terindah yang pernah tertangkap olehnya. Hari ke 30 ini bertepatan dengan peringatan pernikahan kita yang ke empat. Ku harap kau bisa bahagia. Suamimu, Jo.”

Ku genggam tangannya, dingin. Ku periksa denyut nadinya, hening. Ternyata tepat di hari ke-30 sesuai prediksi dokter. Sekarang aku janda beranak. Terima kasih, Jo.

***

Saat semua berakhir, itulah awal baru untukmu. Sebuah kehilangan tak pernah selamanya benar-benar  hilang. Ada sesuatu yang lain yang akan menggantikannya..

Tagged: ,

§ 2 Responses to KOPI JO

  • Bintang Rina mengatakan:

    cerpen yang kejam. saya tidak suka kematian, karena kematian itu egois.
    Tetapi aku senang membacanya (berulang-ulang )karena renyah seperti makan rempeyek .Suatu cara bertutur yang saya sukai ,apalagi andaikata tidak ada cerita kematian tentu aku lebih suka lagi.
    Di atas ini kan hanya cerpen, mengapa aku emosi

    • mardatilla mengatakan:

      Benar mengenai kematian. Namun, ujungnya kitapun akan mengalami kematian. Terima kasih atas komentar dan masukannya. Selamat tahun baru 2012 juga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading KOPI JO at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: