Kewanitaan Nh. Dini dalam Hati yang Damai

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Mengerti untuk Saling Mencintai

 

 

            Nh. Dini merupakan salah satu sastrawan wanita yang terpopuler di kancah Sastra Indonesia, beliau yang bernama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936; umur 75 tahun) selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai novelis dan feminis Indonesia. Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telajur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya. Selain Hati yang Damai, karya-karya terkenal Dini yang lain adalah  Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), dan Pertemuan Dua Hati (1986). (sumber: Wikipedia)

Novel Hati yang Damai karya Nh. Dini ini menceritakan tentang kehidupan seorang wanit yng telah menikah namun jauh dari suaminya yang seorang tentara militer angkatan udara. Ini menyebabkan ketidakpastian bagi sosok Dati akan kepulangan suaminya, Wija, sehingga ia seringkali resah dan memiliki sebuah pertanyaan dalam dirinya: akan kembalikah dia?

Dalam pernikahan ini, Dati bertemu dengan cinta pertamanya, Sidik dan tidak mengingkari perasaannya kepada Sidik. Padahal mereka berdua sama-sama telah berstatus menikah dan Dati telah memiliki dua orang anak. Sidik yang kembali hadir ke kehidupan Dati seolah ingin mengembalikan cerita lamanya, tak peduli dengan status pernikahan yang telah mengikat masing-masing dari mereka. Sementara Dati perasaannya tidak menentu lantaran kepergian Wija untuk berdinas dan juga merasa mengkhianati Wija dengan kedatangan Sidik datang pula sosok Nardi, sahabat Sidik yang juga mencintai Dati. Meskipun dahulu Nardi pernah tidak sopan terhadap Dati, tapi sekarang telah terjadi perubahan pada dirinya. Justru, Sidik yang dulu dikenal Dati sebagai cintanya malah berubah menjadi seorang yang sok dan sudah terbiasa menyuruh. Nardi yang tau bahwa Sidik juga muncul dalam kehidupan Dati lagi telah mengira bahwa Sidik akan berusaha mendapatkan hati Dati, sehingga ia mengingatkan Dati untuk tidak mengkhianati Wija seperti pada kutipan berikut.

”Aku menjadi dewasa oleh waktu dan lingkunganku, Dati. Kau tidak perlu takut kepadaku. Aku dulu pernah mengguncangkan kepercayaanmu. Aku minta maaf, aku tidak malu sekarang untuk minta maaf. Tapi aku rasa memang lebih baik begitu. Kau kini menjadi istri Wija. Dia orang baik, kau tidak patut mengkhianatinya.” (Hati yang Damai, hlm. 56)

Sifat asli Sidik terlihat pada saat Dati mendapati dirinya telah hamil dua bulan, ketika itu malamnya Sidik yang menemukan Dati sedang resah lantaran kehamilannya serta mendengar kabar bahwa rekan kerja suaminya meninggal pada saat istrinya hamil 7 bulan, sama seperti keadannya sekarang. Sidik memanfaatkan kesempatan itu hingga terjadilah sesuatu yang di luar dugaan. Barulah setelah itu Dati menyadari perbuatannya selama ini, ia menyesal dan baru memikirkan tentang Wija yang tengah hilang saat itu.

Klimaks dari cerita ini terjadi saat Dati tengah bersama Sidik, pada saat itu Nardi juga hadir mengantar Wija kembali ke rumahnya. Saat di mana ketiga lelaki yang mencintai Dati berada dalam satu ruangan dengan Dati. Nardi memilih untuk keluar dari situasi tersebut, sementara Sidik masih berusaha berbicara pada Dati yang mendatangi suaminya, Wija. Cerita ini berakhir dengan keyakinan Dati akan cintanya kepada Wija. Kata-kata Wija yang menyentuh ialah berikut.

”Aku tahu kau masih mencintainya. Tapi aku juga tahu bahwa mencintai itu  memang mudah. Untuk saling mengerti itu yang sukar.” (Hati yang Damai, hlm. 75)

            ”Aku berjanji akan kembali, Dati. Kini aku kembali. Kepada siapa aku harus datang? Aku tidak memiliki siapa pun selain kau dan anak-anakmu.” (Hati yang Damai, hlm. 76)

Novel Hati yang Damai ini memang karya Nh. Dini yang pertama kali saya baca. Ketika ada di bagian pertama novel ini, melalui kalimat ”Kami tidak saling memandang. Aku meneruskan bicaraku” sebagai pembukanya sudah terbentuk suatu kalimat yang begitu kewanitaan. Dan ternyata selama dua jam duduk menghabiskan waktu membaca novel ini, secara tersirat dalam benak memang ini novel wanita seutuhnya. Maksud saya, seluruh kalimat dalam novel ini mewakili perasaan seorang wanita. Ada perasaan cinta, perasaan rindu, perasaan gelisah, perasaan benci, dan perasaan sepi. Semua itu terdapat dalam diri Dati. Sehingga saya yakin bahwa setiap wanita yang membaca karyanya pasti akan merasakan betul apa yang dirasai.

Wanita yang memang selalu berpikir dengan hati maka akan selalu ada kelembutan dalam dirinya, seperti pada sosok Dati. Siapa yang tidak terjerat saat sedang kesepian datang seseorang yang dahulu dia cinta, semudah itulah sosok Dati menerima kembali kehadiran Sidik. Walau pun memang ia merasakan pengkhianatan terhadap Wija. Memang sejatinya perasaan seperti ini hanya sesaat, kemudian tamparan keras terhadap Dati ketika Wija mengetahui semuanya. Sosok Wija dalam novel ini merupakan seseorang yang didambakan seorang wanita, yang selalu berusaha membuat seseorang jatuh cinta kepadanya dengan pengertiannya. Dan lewat pengertian itulah Wija dapat mendamaikan hati Dati yang pada akhirnya luluh.

Konflik batin yang terjadi pada Dati dalam novel ini mewakili betul perasaan wanita, ditunjang juga dengan kedetailan setiap masalah yang terjadi seperti pada saat pertama kali pertemuannya dengan Sidik, kesendirian hidup Wija saat ditinggal mati oleh ayahnya, kedatangan sosok ibu Wija, sosok Asti, serta surat-surat Wija yang dititipkan lewat Nardi. Memang sempat ada subyektifitas saat kedatangan sosok Asti yang dinilai tidak baik dan kurang disuaki oleh Dati, namun lewat Sidik cerita yang awalnya subyektif menjadi objektif lagi bahwa ada makna dalam setiap perbuatan Asti.

Ini berarti dalam setiap kisah yang ditorehkan pada novel ini, Dini menyelipkan cinta walau pun memang awalnya tidak dapat dimengerti. Setelah membacanyalah kita akan mengerti. Semua bagiannya juga enak dibaca walaupun alur yang digunakan dalam novel ini tidak beraturan. Pesan yang didapat dari novel ini meliputi soal cinta dan tidak akan jauh dari cinta, bahwa keyakinan pada diri kita untuk setia apapun gangguan yang datang pasti dapat teratasi dan penyesalan sebenarnya tidak sia-sia apabila kita masih memiliki cinta.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kewanitaan Nh. Dini dalam Hati yang Damai at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: