Gadis Pantai nya Pram

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Sikap Feodal di Tanah Jawa

 

            Gadis Pantai merupakan sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer atau akrab disebut dengan Pram. Beliau lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara. Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun dari menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dibakar. Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional. Sampai kini, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Pramoedya telah menghasilkan belasan buku, baik kumpulan cerpen maupun novel. Pengalaman dipenjara dan pengalaman perampasan hak dan kebebasan menjadikan karya-karyanya banyak memperjuangkan tentang  nasib perjuangan rakyat kecil, seperti juga dalam novel Gadis Pantai.

Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang berusia 14 tahun, yang berasal dari desa di Pantura, Jawa Tengah. Gadis Pantai dinikahkan oleh orang tuanya yang berpikir bahwa kehidupannya akan lebih baik setelah menikah dengan seorang bangsawan. Saat pernikahan itu, Gadis Pantai tidak bertemu dengan calon suaminya malah dinikahkan dengan sebatang keris. Tetapi setelahnya, ia pindah ke rumah Bendoro, sebutan untuk suaminya. Gadis Pantai juga berganti nama menjadi Mas Nganten. Di rumah tersebut, yang juga dihuni oleh para agus atau anak-anak lelaki dari para wanita utama sebelumnya (yang telah tidak ada lagi), gadis pantai dilayani oleh seorang wanita pelayan tua, yaitu mbok, yang menghibur kesedihannya karena jauh dari orang tua. Pergerakan Gadis Pantai sangat dibatasi, ia tidak boleh bertemu dengan orang tuanya, karena apapun yang dilakukannya harus atas izin Bendoro.

Suatu hari, si mbok diusir dan digantikan dengan Mardinah, anak seorang juru tulis. Tetapi ternyata Mardinah bermaksud melenyapkan Gadis Pantai karena ia telah berjanji kepada bangsawan lain untuk menjodohkan sang Bendoro suami Gadis Pantai dengan putrinya, dengan imbalan ia menjadi istri kelima bangsawan tersebut. Namun, rencana Mardinah dapat digagalkan dan Gadis Pantai kembali ke rumah Bendoro, ia melahirkan seorang bayi. Namun setelah tiga bulan, ia diusir dan sementara bayinya tinggal di rumah Bendoro. Ayah Gadis Pantai kaget dan diberi uang oelh Bendoro. Gadis Pantai yang sakit dan hancur hatinya akhirnya memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya di desa nelayan dan pergi ke tempat si mbok.

Dari novel Gadis Pantai yang terbit pada 1965 bahwa feodalisme terjadi di kalangan pesisir pantai oleh bangsawan. Padahal tokoh Bendoro itu dihormati dan berbudi pekerti serta beragama baik tetapi ia berlaku kejam sampai mengusir begitu. Hal yang terjadi seperti itu sebenarnya tidak ada gunanya, apabila menjadikan Gadis Pantai sebagai istri sementara karena apabila Bendoro memang benar beragama dengan baik seharusnya tidak seperti itu. Apalagi bagi kaum wanita, sangat menjatuhkan harga dirinya. Pram melalui Gadis Pantai menurut sebuah sumber memang memperlihatkan kesinisan pada bangsawan dan berpihak pada rakyat jelata.

Sementara itu juga orang tua Gadis Pantai yang berharap dengan kehidupan yang lebih baik sehingga menikahkan anaknya yang masih berumur 14 tahun, belum dengan kehendak anaknya dan masih dibawah umur. Padahal kehidupan Gadis Pantai tidak seburuk yang dikira, di laut ia lebih merasa bahagia dan mendapatkan apapun. Hanya beda tempatnya saja, sebenarnya kehidupan di pesisir pantai pasti akan tetap begitu meskipun semiskin atau pun sekaya apapun. Pramoedya A. Toer menulis Gadis Pantai dengan kata-kata yang lugas, jelas, sehingga pembaca tidak perlu berpikir ulang damal mengartikannya. Hanya saja mungkin penggunaan bahasa yang masih bersifat kedaerahan sedikit kurang dimengerti tapi tidak memengaruhi pembacaan.

Gadis Pantai sebenernya memiliki kelanjutan. Novel ini sendiri merupakan bab pertama, sementara dua bab selanjutnya telah terbakar saat dulu, hanya Gadis Pantai lah yang berhasil diselamatkan. Oleh karena itu, ada yang mengatakan novel ini merupakan karya terbaik Pram.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gadis Pantai nya Pram at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: