Dibalik Zaman Sitti Nurbaya

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Kisah Sepanjang Masa

            Novel Sitti Nurbaya merupakan karangan Marah Rusli yang terbit pada tahun 1922. Menurut Wikipedia dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.

Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya. Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya.

Sitti Nurbaya memang merupakan salah satu novel yang terkenal dan dianggap penting di kancah sastraIndonesia. Apabila kita mendengar istilah ‘Siti Nurbaya’ yang terlintas di benak pasti tentang kawin paksa atau pun perjodohan. Kisah Siti Nurbaya selalu dikaitkan tentang perjodohan dari kedua orang tua, banyak cerita sinetron diIndonesia pada masa sekarang mengaitkan istilah Siti Nurbaya di dalamnya. Padahal apabila kita benar-benar membaca novel ini, akan menemukan perbedaan yang cukup jauh.

Saya pribadi memang sebelum membaca novelnya sebelum ini karena terlalu bosan dengan sinetron-sinetron yang seringkali mengaitkan tentang zaman Siti Nurbaya karena lewat sinteron itulah yang menjadikan image Sitti Nurbaya salah arti dan seakan-akan zaman sekarang sudah tidak pantas lagi ada kawin paksa, padahal sebenarnya masih ada sehingga dapat dikatakan bahwa ini merupakan kisah sepanjang masa. Jadi, sering mengambil kesimpulan bahwa ini pasti tentang kawin paksa dan perjodohan. Tapi setelah membacanya sebagai mahasiswa sastra ternyata sangat keliru, ya.

Sitti Nurbaya merupakan novel yang terbit sebelum masa kemerdekaan sehingga zaman-zaman perjuangan dalam novel ini masih terasa. Dari segi cerita menurut saya mungkin Sitti Nurbaya sebagai pelopor cerita-cerita di Indonesia karena saking populernya. Pada tahun 1922 memang ceritanya sering membahas tentang kisah asmara yang dihalangi oleh orang tua, kemudian terlilit hutang, rupanya cerita semacam itu masih juga mengakar sampai ke zaman sekarang.

Uniknya ketika saya membaca Sitti Nurbaya di akhir cerita ternyata semua tokohnya mati. Apalagi ketika tokoh utamanya Siti Nurbaya meninggal, cerita ini belum habis. Biasanya cerita akan berakhir ketika tokoh utamanya tiada, tapi novel ini tidak demikian.

Cerita justru semakin berbelit saat Siti Nurbaya telah tiada dengan menyisakan perasaan kehilangan dari Samsul Bahri dan di akhir cerita terjadi peperangan antara Datuk Meringgih dengan Letnan Mas yang merupakan Samsul Bahri. Samsul Bahri ini pun tidak sengaja ‘tercelup’ ke dalam kompeni Belanda karena percobaan bunuh dirinya selalu gagal, tapi nyatanya takdir berkata lain bahwa ia akan mengakhiri hidupnya dengan perang lawan Datuk Meringgih.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dibalik Zaman Sitti Nurbaya at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: