Demi Kelengkapan dan Kesempurnaan dalam Ziarah Karya Iwan Simatupang

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Demi Kelengkapan dan Kesempurnaan

dalam Ziarah Karya Iwan Simatupang

 

            Salah satu karya terbaik Iwan Simatupang yang pernah ada ialah novel Ziarah yang terbit pada tahun 1969. Novel ini juga merupakan karya kedua dari Iwan Simatupang yang saya baca, setelah cerita pendek Tegak Lurus Dengan Langit pada semester lalu. Berawal dari cerpen tersebut saya secara pribadi mengagumi karya Iwan Simatupang, begitu juga dengan novel ini. Karena beliau memiliki suatu kekhasannya yang tidak dimiliki oleh sastrawan lain yaitu sebagai sastrawan yang taat pada paham filsafat eksistensialismenya yang kuat.

Beliau yang bernama asli Iwan Martua Dongan Simatupang (lahir di Sibolga, 18 Januari 1928 – meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970 pada umur 42 tahun) adalah seorang novelis Indonesia. Ia belajar di HBS di Medan, lalu melanjutkan ke sekolah kedokteran (NIAS) di Surabaya tapi tidak selesai. Kemudian belajar antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris. Menurut Wikipedia, tulisan-tulisannya dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952. Karya novel yang terkenal Merahnya Merah (1968) mendapat hadiah sastra Nasional 1970 dan Ziarah (1970) mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977.

Novel ini memang sulit sekali untuk dipahami karena kata-kata dari Iwan Simatupang dengan gayapenulisannya yang khas, juga alur cerita yang tidak urut. Sehingga saat membacanya kita harus mengingat baik-baik apa yang diceritakan, dan saya pribadi harus mengulangi beberapa kali bacanya agar dapat terbayangkan. Dengan mengambil tema mengenai kesadaran filosofi (membahas kehidupan dan kematian) dan kesadaran sosial, Ziarah merupakan suatu novel yang menarik untuk dibaca dan dikaji.

Awal cerita pada novel ini dibuka sebenarnya merupakan dari pertengahan, bahkan hampir menuju ke akhir cerita. Novel Ziarah mengisahkan tentang kehidupan seorang mantan pelukis terkenal yang menjadi seorang pengapur di pekuburan sekitar tempatnya tinggal. Dalamkota kecil itu sendiri, terdiri dari orang-orang yang aneh, masyarakat yang aneh, pemerintahan yang aneh, sehingga menimbulkan kemenarikan cerita bahkan terkadang saya membacanya agak lucu akibat berbagai kejadian yang tidak terduga.

Untuk orang yang awam akan filsafat eksistensialisme seperti saya, sebenarnya ketika murni hanya membaca novel ini, masih bingung di mana letak filsafatnya atau paham-paham Eropa yang katanya kental dengan Iwan Simatupang. Tetapi untuk menganalisis dengan baik suatu cerita, tidak hanya terpaku di dalam cerita itu sendiri, kita harus menelaah dari sisi kepengarangan dan keadaan sosialnya.

Tokoh dalam novel Ziarah sama seperti halnya karya Iwan yang lain, dengan tidak memberikan sebuah nama di dalamnya. Tapi menggantinya dengan tokoh “dia”. Dari 8 bab dalam novel ini, hampir setiap bab yang saya baca pada akhirnya akan menemukan satu hal, yakni kematian. Dari berbagai kematian yang dikisahkan dalam novel ini, ada beberapa kematian yang bagi saya agak berlebihan. Selain itu pada tokoh-tokoh masyarakatnya banyak yang bergulir dan mengalami pergantian karena kematian itu sendiri, seperti pada tokoh Walikota yang diganti 3 kali, serta 3 kali penggantian opseter pekuburan termasuk di akhir cerita itu adalah sang pelukis sendiri.

Melalui Ziarah, terlihat bahwa Iwan Simatupang ini banyak mengambil cerita tentang orang-orang yang tersisih atau dikucilkan, namun sangat berarti bagi kehidupan orang banyak. Seperti pada tokoh pelukis, yang sebermula pernah banyak dipuji, ada lagi ketika ia bertemu sang istri lalu segera menikah dan istrinya mati ia sempat dibenci seluruh negeri karena pengetahuan tentang istrinya yang sangat minim yang selanjutnya tidak diterima hidup di manapun, berubah lagi ketika sifat anehnya yang biasa bagi masyarakat kotapraja berubah menjadi normal dan menimbulkan keanehan. Sesuatu yang mudah dibuat menjadi berbelit-belit. Tapi bagi Iwan sendiri, manusia seperti itulah merupakan ciri dari keeksistensialismenya.

Iwan Simatupang sebenarnya adalah seorang tokoh besar nusantara yang bereksperimen dengan falsafah eksistensialisme dan absurdisme, sesuatu yang populer pada masa itu. Iwan gemar membaca dan merenung pemikiran Albert Camus, Nietszche dan Sartre. Ia terpengaruh dengan tokoh-tokoh eksistensialisme ini yang beliau lihat banyak menulis tentang kebebasan individu. Kebebasan individu dianggap penting dalam hubungan sesama manusia yang sering juga mencetuskan konflik. Iwan percaya eksistensialisme boleh memberi ruang dan sumbangan kepada anak bangsanya yang baru keluar dari penjajahan, mencari dan membina kekuatan diri. Anak bangsa perlu keluar dari kongkongan pemikiran penjajah dan lahir dengan pemikiran yang bebas, terbuka dan segar. Seperti dalam kutipan novel berikut ini yang termasuk dalam faham eksistensialismenya ialah dari kata “bebas”.

      – “Umum” adalah lebih besar dari pribadi, dari sekian pribadi.

      – Apa bukan sebaliknya, pak walikota yang terhormat? Apa yang dengan mudahnya kita cap sebagai ”umum” itu adalah, dan hanyalah terdiri dari pribadi-pribadi, yakni manusia-manusia, warga-warga bebas.

      – Bebas? Ha! Itulah inti perselisihan paham kita. Hati-hati saudara dengan kata ”bebas” itu. Saudara harus dapat merasakan getaran, irama, dari masa. (Ziarah, hal. 16)

 

Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan yang bertanggung jawab”? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain. Sehingga hal-hal aneh yang ada dalam novel ini merupakan suatu kewajaran yang tidak bersalah, karena semua hal itu ada suatu tujuan.

Perihal lain yang saya tangkap dalam Ziarah ini ialah tentang semua konflik batin yang terjadi pada masing-masing tokoh. Salah satunya adalah tokoh walikota yang pertama, melanjutkan dengan kutipan di atas itu menceritakan bahwa sang tokoh tidak pernah merealisasikan tentang keinginannya untuk membalas dendam. Seperti pada kutipan berikut.

            ”Balas dendam adalah setidaknya suatu tindakan juga. Lepas dari nilai-nilai etik dan moral sesudahnya, tindakan ini sebagai perbuatan yang dengan sadar dilakukan, adalah positif. Dia adalah hasil dari pilihan bebas yang berlaku di daerah kemauan bebas.” (Ziarah, hal. 23)

 

Suatu keinginan dari walikota tersebut yang merasakan bahwa ia menginginkan merealisasikan keinginannya dan mempertahankan kewajibannya untuk menyejathterakan rakyat telah berhasil membuat sang walikota bergejolak perasaannya hingga pada suatu titik dan tiba-tiba matilah ia. Menurut saya ini merupakan perihal tentang krisis kepercayaan terhadap apapun dari sisi walikota yang dituliskan oleh Iwan dalam segi filsafat eksistensialismenya.

Segala bentuk kematian yang aneh dalam novel ini memang sebenarnya merupakan paham filsafat yang dianut oleh Iwan Simatupang, yakni eksistensialismenya yang juga diterapkan pada tokoh opseter pekuburan, yang memiliki kecerdasan hingga hampir bergelar doktor filsafat serta anak seorang yang menjabat penting dalam kotapraja. Namun, dari tuntutan mahaguru dan ayahnya, ia mengambil jalan kebebasan untuk hidup sehingga menjadi opseter pekuburan hingga mati. Jadi, ketidakwajaran hidup yang dialami oleh para tokoh dalam Ziarah ialah sudut pandang pribadi masing-masing yang menjalani hidup, untuk memperoleh sesuatu yang kita inginkan hal yang diperlukan merupakan kebebasan agar kita tetap ada di dunia. Dan seperti yang disebutkan di atas bahwa kebebasan itu berbatas pada kebebasan individu lain.

Peran ziarah dalam novel ini yang saya tangkap ialah tentang kebermaknaan hidup, di mana hidup itu penuh dengan berbagai hal yang rumit, sesuatu kejutan, kebahagiaan, penyakit, misteri, serta takluput dari kematian. Hidup yang dijalani ini sepenuhnya mutlak menjadi pilihan kita, apakah kita memilih dengan memperoleh kebebasan atau mengikuti aturan yang berlaku toh pada akhirnya akan sama saja. Ujung-ujungnya manusia kembali dari ada menjadi tiada.

Mengutip pesan terakhir yang ditulis pada kertas oleh opseter muda yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, yakni: ”DEMI KELENGKAPAN DAN KESEMPURNAAN” merupakan simbol luar biasa yang dituliskan oleh Iwan dalam novel ini. Hal yang saya lihat ialah, bertolak pada hidup ini manusia selalu mengusahakan keinginannya dalam hidup yang bertujuan mendapat sebuah kesempurnaan. Namun, kesempurnaan bisa jadi diciptakan oleh hal-hal yang tidak masuk akal yang tercetus oleh alam bawah sadar manusia, seperti yang dilakukan opseter yakni bunih diri. Merupakan contoh kasus kematian yang cukup tinggi di dunia ialah bunuh diri, oleh karena itu Iwan Simatupang mengambilnya dalam Ziarah untuk memperlihatkan kembali apa yang ada dalam kenyataan.

Miris memang mendengar dan membaca berita tentang kematian seseorang yang dibuatnya sendiri, saya pribadi menentang perbuatan tersebut karena berpikir merupakan hal tidak berguna dan orang yang melakukan itu adalah orang yang memiliki pemikiran yang pendek. Juga dengan agama, Islam contohnya menganggap bahwa perbuatan seperti itu merupakan dosa besar, perbuatan menentang agama. Namun dalam novel ini, perbuatan itu seolah menjadi hal yang lumrah karena berkaca pada filsafat yang dianut Iwan, dan menegaskan bahwa kebebasan individu batasnya ialah kebebasan yang lain.

Jalan yang ditempuh dalam Ziarah berbagi kepada kita untuk selalu ikhlas dalam menjalani kehidupan, menghadapi kehidupan, dan menerima kenyataan yang diberikan kehidupan. Hal yang lumrah apabila manusia tidak dapat menerima kenyataan tentang kematian orang pada awalnya, namun garis kehidupan akan selalu berjalan dan ketiadaan akan menjadi sesuatu yang biasa bagi mereka yang telah belajar makna kehidupan. Tokoh pelukis dalam novel ini menurut saya sebenarnya sudah menjalani suatu keikhlasan ketika istrinya mati, hanya saja yang membuatnya tidak ikhlas ialah perlakuan dari para pejabat pekuburan serta masyarakat yang melebih-lebihkan tentang kematian. Padahal yang ia inginkan hanyalah pemakaman yang biasa, namun bila dipikir-pikir lagi memang mustahil apabila seseorang tidak mengetahui identitas pasangan sendiri. Hal-hal seperti ini kembali pada pemikiran pribadi, apakah menyikapinya dengan logika atau dengan hati untuk memberikan suatu keadilan.

Dari novel ini, bahwa suatu kebebasan yang tidak wajar ini merupakan jalan untuk menempuh suatu tujuan. Yaitu tujuan bagi utamanya sang pelukis, di mana untuk menghadapi suatu kenyataan tentang kematian istrinya, ialah dari ketidakwajaran polah tingkah dari semua lapisan masyarakat terhadapnya dan juga segala kebebasan yang tidak wajar baginya. Bahwa hidup ini takkan luput dari kematian, kematian merupakan tujuan akhir dari hidup ini. Karena sekuat apapun manusia, secerdas apapun ia, setinggi apapun derajat manusia, bayang-bayang kematian akan selalu berada di telapak kakinya. Apabila mati adalah tujuan akhir dari hidup, maka manfaatkanlah segala kehidupan yang masih ada ini untuk mencapai tujuan-tujuan lain sebelum mencapai tujuan yang terakhir tadi. Lantas bukannya kita harus langsung menuju kematian, tanpa tidak berbuat apapun. Kita harus berpegang teguh pada iman dan keyakinan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Novel Ziarah pantaslah menjadi masterpiece Iwan Simatupang, walau dalam penerbitannya mengalami kesulitan, hingga akhirnya dapat diterbitkan pada tahun 1969 berkat surat rekomendasi yang dikirim oleh HB. Jassin dan Bangun Siagian ke penerbit. Buktinya daya tarik dalam novel ini begitu kuat, sebagai karya roman yang menarik dan lucu sulit dimengerti oleh pembacanya. Ziarah menyembunyikan makna dengan menggunakan simbol yang berkaitan dengan kehidupan dan kematian.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Demi Kelengkapan dan Kesempurnaan dalam Ziarah Karya Iwan Simatupang at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: