Azab dan Sengsara karya Merari Siregar

26 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Penderitaan Tiada Akhir

 dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar

            Azab dan Sengsara karya Merari Siregar merupakan novel yang populer pada tahnun 20-an. Novel ini menceritakan kisah di tanah kelahiran sang novelis yaitu di Sipirok, Sumatera Utara.

Pada awal cerita di novel ini tidak diceritakan dari awal kisah ini dimulai, tapi dengan cara alurnya maju-mundur, sehingga saya yang membacanya terkadang lupa sedang pada saat yang mana. Walaupungayabahasa yang digunakan oleh sang novelis masih sangat kedaerahan, tetapi masih bisa dimengerti inti perkalimatnya. Kalau saya pribadi masih melihat banyak bahasa-bahasa melayu dalam novel ini, mungkin karena pada saat itu juga masih belum merdeka.

Azab dan Sengsara mengisahkan tentang kehidupan cinta Aminuddin dan Mariamin, kedua sejoli ini yang saling mencintai tetapi tidak dapat hidup bersama lantaran orang tua Aminuddin tidak menyetujuinya. Padahal Aminuddin dan Mariamin sudah bersahabat karib sejak kecil dan sebenarnya keluarga mereka masih ada hubungan saudara juga.

Mariamin seorang anak dari Sutan Baringin, yang dahulu memiliki kekayaan melimpah ruah tetapi karena sifatnya yang tamak hingga akhirnya ia jatuh miskin dan mati dalam pelukan istrinya. Istrinya telah sering mengingatkan dan dengan tulus mencintai Sutan Baringin. Sifat ayahnya berdampak pada Mariamin, ia sering dihina oleh sekitarnya.

Kehidupan keduanya berliku-liku untuk bersatu, yang pada awalnya mereka akan menikah tetapi dihalangi oleh tindakan ayah Aminuddin dengan membohongi Aminuddin untuk menjemput calon istrinya. Padahal ia sudah dijodohkan, hal ini memang membuat kesedihan pada Aminuddin tetapi ia tetap berbakti dan menerima keinginan orang tuanya.

Sementara kesengsaraan terus mendera pada kehidupan Mariamin yang juga tertipu oleh Kasibun, suaminya yang hidung belang. Kecemburuan dan tindakan kasar oleh Kasibun membuat Mariamin tidak tahan dan akhirnya mereka bercerai.

Di akhir cerita, Mariamin pun meninggal dan dikubur tak jauh dari tempatnya tinggal dengan meninggalkan azab dan sengsara yang ia tanggung semasa hidupnya. Dalam novel ini kita dapat mempelajari tentang sebuah keikhlasan, kesetiaan, dan kesabaran dalam menghadapi hidup ataupun cobaan yang datang. Sikap kita yang tidak baik dapat terbalas oleh Tuhan bukan melalui diri kita, tapi melalui orang lain yang kita sayangi. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai menyakiti hati atau pun perasaan orang lain dan selalu sayangilah orang-orang yang tulus menyayangi kita.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Azab dan Sengsara karya Merari Siregar at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: