Unsur Intelektual, Imajinasi, dan Emosi pada Cerpen “Surabaya”

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

  • Unsur Intelektual

Intelektualitas dalam sastra dapat terlihat dari daya pesona yang dipancarkan, yaitu apakah memberikan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi si pembaca. Dalam cerpen Surabaya, terdapat unsur intelektual yang dapat dilihat pada:

Tiba-tiba melompat seorang pemuda ke depan. Dipanjatnya tiang bendera, dirobeknya kain biru dari bendera itu. Orang-orang tercengang bertepuk dan bersorak, tetapi orang-orang Belanda Indo marah-marah.

Bendera Belanda yang dirobek warna birunya hingga menjadi bendera merah putih merupakan sesuatu yang menakjubkan bagi pembaca dimana pemuda tersebut sangat berani dengan rasa nasionalisme yang tinggi. Walaupun akhirnya orang Belanda Indo yang ikut menyaksikan perobekan bendera terpancing emosi dan terjadi keributan, hal itu tentu memukul perasaan untuk rakyat Belanda Indo. Terdapat pula unsur intelektual lagi di cerpen ini pada:

Seluruh perhatian rakyat Indonesia ditujukan kepada perjuangan yang sedang berlaku di Surabaya itu. Pada setiap kabar yang mengatakan, gedung ini, gedung itu sudah hancur, mereka mengeluh sedih seperti orang tua yang dihinakan anaknya.

Penulis memberikan suatu informasi tentang keadaan yang benar-benar terjadi diIndonesiapada waktu terjadi pertempuran Surabaya dengan menyertakan perasaan rakyat saat mendengarkan kabar tersebut. Tentunya hal ini diketahui penulis karena telah hidup di masanya dan turut merasakan pertempuran. Satu lagi yang dikira merupakan unsur intelektual yaitu:

“Kami telah mengadakan penyelidikan yang saksama tentang segala apa yang tuan katakan dalam dewan ini dulu. Dan ternyata, bahwa semua yang Tuan katakan itu bohong, bohong belaka! Tuan waktu itu hanya hendak memengaruhi jiwa kami, supaya kami tidak lagi membikin kritik yang pedas-pedas. Sekarang dengan sangat saya meminta kepada rapat, supaya mendesak tentara untuk menghilangkan kebohongan dan penyakit sipilis itu sama sekali.”

Setelah pertempuran Surabaya berakhirpun ternyata masih banyak pro dan kontra di Surabaya sendiri, seperti pada rapat dewan yang dilaksanakan, mereka menyatakan kekalahan-kekalahan disebabkan oleh tentara yang main wanita, lalu si tentara membela diri, dan ada pengawal yang melecehkan anggota dewan, dan sebagainya. Sehingga kerumitan ini tiada pernah henti, seperti banyak kepalsuan dalam perjuangan ini digambarkan oleh penulis dengan sangat hebat dan tentunya berkaitan dengan kenyataan.

  • Unsur Imajinasi

Unsur imajinasi memiliki perbedaan yang tipis dengan unsur emosi karena keduanya akan berpengaruh dalam karya sastra. Dalam unsur imajinasi, penulis harus berusaha “menyulap” ceritanya sebagai dunia yang baru. Idrus menyuguhkan sangat banyak unsur imajinasi dalam cerpen Surabaya, hampir sebagian besar dalam cerita ini terdapat unsur imajinasi baik yang terurat pada bacaan dan juga tersirat yang dapat dirasakan oleh pembaca. Unsur imajinasi cerpenSurabayaantara lain:

 Orang tidak banyak percaya lagi kepada Tuhan. Tuhan baru datang dan namanya bermacam-macam, bom, mitralyur, mortir.

 Orang-orang bertambah percaya kepada Tuhan baru dan meninggalkan Tuhan lama sama sekali.

Pemaknaan kata Tuhan baru dalam hal ini bukanlah Tuhan yang sesungguhnya pemilik semesta, melainkan senjata. Dalam peperangan senjata sangat diandalkan dalam penentu kemenangan, penulis mengimajinasikan lewat permaknaan dalam kata lain sehingga pembaca dibawa untuk berpikir tentang makna sebenarnya dalam kata ‘Tuhan baru’ yang bermacam-macam itu. Sementara ada pada kalimat lain ada menyebutkan ‘Tuhan lama’ ialah Tuhan yang sesungguhnya. Secara tersirat dapat dimengerti bahwa pada zaman itu rakyat lebih percaya pada keampuhan senjata hingga sangat membesar-besarkannya. Dalam kalimat lain terdapat unsur imajinasi seperti:

 Di udara, di atas kaum pelarian, sering terbang burung-burung putih sebagai perak. Burung-burung ini menderu-deru dan menjatuhkan kotoran sedang terbang itu, peluru-peluru senapan mesin. Kaum pelarian bersiduga cepat masuk got-got. Mereka sangat takut pada burung putih itu seperti kucing dibawakan lidi. Kotoran-kotoran itu menembus badan-badan kaum pelarian dan meninggalkan lobang-lobang terbakar dalam badan-badan itu. Sudah itu burung-burung itu menghilang, seperti malaikalmaut yang sudah menjalankan kewajibannya.

Kata yang bercetak miring yaitu terbang burung-burung putih yang berarti pesawat-pesawat tempur; seperti kucing dibawakan lidi yang berarti mereka (kaum pelarian) yang ketakutan dan khawatir akan mati karena terkena serangan dari pesawat tempur; kotoran-kotoran itu menembus badan-badan kaum pelarian dan meninggalkan lobang-lobang terbakar yang memiliki arti peluru-peluru yang ditembakkan dari pesawat tempur itu mengenai para kaum pelarian dan menyebabkan kematian dari pihak kaum pelarian, serta; burung-burung itu menghilang seperti malaikalmaut yang berarti dengan tiba-tiba pesawat itu pergi setelah membunuh para kaum pelarian.

Penulis memberikan imajinasi tersendiri pada pembacanya dengan menggunakan kata-kata kiasan agar pembacanya ikut berpikir dan ikut merasakan kejadian pada saat itu. Burung-burung yang mustahil mengeluarkan kotoran yang menyebabkan badan berlobang ialah salah satu gambarannya. Adalagi unsur imajinasi dalam cerpenSurabayapada bagian ke-3, seperti:

Bergegas-gegas dibukanya pintu kandang anjing itu. Anjing itu menyalak kepada Tuminah, tapi Tuminah tidak mendengarnya, ya ia tidak melihat anjing itu sama sekali. Bau buah-buahan busuk dan kotoran anjing menguap melalui pintu masuk ke dalam lubang hidung Tuminah, tapi Tuminah tidak membauinya.

Dalam situasi ini penulis memberikan gambaran yang riil tentang keadaan Tuminah, sehingga pembaca mndapatkan gambaran-gambaran seperti aroma dari buah-buahan busuk yang bercampur dengan kotoran anjing. Pembaca akan merasa jijik ketika membacanya tapi ternyata seorang Tuminah yang begitu lelah tidak membaui dan merasakannya, ia justru merasa tenang karena yang diperlukannya hanyalah tempat untuk membaringkan tubuhnya. Satu lagi unsur yang termasuk imajinasi dari sekian banyak, yaitu:

Orang-orang seperti kuda beban. Mereka menanggungkan segala penderitaan dengan tidak mengeluh dan mereka tidak tahu, mengapa mereka harus menderita sedemikian benar beratnya.

Orang-orang seperti kuda beban yang dimaksudkan di sini ialah masyarakat yang merasakan beban penderitaannya kian bertambah hingga tidak dapat lagi berpikir dengan jernih tentang kehidupannya. Mereka yang berjuang pun telah putus asa. Yang mereka ketahui ialah hanya melenyapkan para serdadu Belanda dari tanahnya yang sudah merdeka.

  • Unsur Emosi

Unsur emosi juga termasuk unsur yang sarat terdapat di cerpen Surabaya, karena cerpen ini sendiri menceritakan tentang keadaan-keadaan rakyat sewaktu terjadi pertempuran sehingga segala emosi timbul dan penulis sangat lihai menggambarkannya, pembaca ikut menghayati dalam membaca cerpen ini. Seperti pada:

 Ia berlari kian ke mari dan berteriak tak keruan. Dirobek-robeknya bajunya, kutangnya, ditanggalkannya kainnya dan dalam keadaan seperti Siti Hawa ia lari kencang-kencang menuju ke Surabaya untuk membelai-belai barang-barangnya dan radio Erresnya.

Seorang wanita yang mulai gila lantaran kejadian ini menjadi salah satu korban, ia tak sadar merobekkan pakaiannya dan berlarian untuk menyelamatkan radio kesayangannya dari serangan pertempuran. Emosi dan jiwanya sangat terganggu ketika datang serangan kepadanya. Pembaca menjadi geregetan ketika membacanya dan mulai menghayati peran si wanita tersebut, terdapat perasaan iba pada wanita tersebut karena jiwanya yang tertekan. Selain itu, ada lagi yang termasuk unsur emosi menurut pembaca, yaitu:

 Mata-mata musuh itu pucat seperti mayat. Waktu orang bertambah banyak berkerumun ke tempat pemeriksaan sekelilingnya, ia tidak membantah lagi. Ia telah menyerahkan diri ke Tuhan dan orang banyak itu. suara-suara kacau balau memenuhi ruangan. Yang satu mengatasi yang lain, “Bunuh saja!”

Ya, itu tentu, tapi bagaimana caranya?

Tembak! Tembak!

Tidak itu terlalu lekas dan ringan. Kita gantung. Kita gantung.

Dan seperti bunyi guntur kedengaran, “Kita seret dari belakang kepala kereta api.”

Pada bagian tersebut raykat main hakim sendiri karena telah menagkap mata-mata musuh, mereka hendak membunuhnya dengan cara yang kejam. Semua orang bersuara, mengutarakan keinginan untuk membunuhnya, mereka kesal dan benci rasanya. Walaupun kemudian datang penengah, pada akhirnya rakyat main hakim sendiri dengan tidak melaporkannya pada pihak berwajib. Akibatnya mata-mata musuh itu babak belur kena tinju oleh rakyat. Penulis mengangkat benar emosi rakyat pada waktu itu sehingga pembaca ikut masuk ke dalamnya dan menyaksikan emosi sendiri.

Menurut pembaca, tidak semua emosi mengacu pada suatu kemarahan ataupun pemberontakan tapi emosi sendiri merupakan luapan perasaan seseorang yang dapat berubah-ubah dalam waktu singkat seperti kegembiraan, kesedihan, rasa haru, dll. Dalam cerpen Surabaya ada unsur emosi yang tidak mengacu pada kemarahan seperti:

 Tiap waktu lagu ‘Indonesia Raya’ dimainkan, mereka berdiri dengan tegap seperti prajurit dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Setiap orang merasa tengkuknya seperti digili-gili orang. Segala bulu berdiri: bulu tengkuk dan bulu kaki. Dan waktu lagu itu habis, beberapa orang nasionalis tulen menangis dan katanya parau. “Itu yang kita perjuangkan sepanjang masa. Dan untuk itu kita mengorbankan harta benda dan jiwa pemuda-pemuda kita. Bukan main indahnya lagu itu. Ya, perjuangan kita tidak sia-sia!!”

Pembaca merasa sangat tergugah saat membacanya karena di sana pembaca diajak untuk ikut menghayati makna lagu Indonesia Raya yang terdengar oleh rakyat pada waktu itu. Rasa kerja keras dan perjuangan mati-matian dalam mempertahankan Surabaya dapat terasa kepada pembaca, rasa cinta tanah air muncul pada saat membacanya. Penulis sangat mahir dalam menggambarkan dan mengajak pembaca untuk merasakan perjuangan saat itu.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Unsur Intelektual, Imajinasi, dan Emosi pada Cerpen “Surabaya” at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: