Seribu Kunang-kunang di Manhattan

18 Desember 2011 § 5 Komentar

Ketenangan di Balik Kegelisahan

 

Cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan merupakan sebuah antologi 14 cerpen dengan judul yang sama buah karya Umar Kayam terbit pada tahun 1968. Dalam kumpulan cerpen ini sebagian besar mengisahkan tentang kehidupan-kehidupan di luar negeri, kecuali Bawuk dan Sri Sumarah.

Saya menyukai cerpen ini karena ceritanya yang mudah dimengerti dan tidak berat seperti beberapa tugas cerpen yang lalu-lalu, tetapi karena itu pula saya agak bingung bagaimana akan menganalisis cerpen ini. Beberapa faktor yang menyebabkan saya menyukai cerpen ini ialah dengangayabahasa nya yang tidak bertele-tele dan juga banyak menggunakan majas metafora, sehingga kata-katanya lebih bernuansa romantis.

 

Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.” (Seribu Kunang-kunang diManhattan, hlm. 4)

 

Lalu dalam cerpen ini suasananya sangat tenang dan tidak terjadi konflik serius, hanya adu argumen antara tokoh Jane dan Marno. Dalam hal penokohannya, menurut saya tokoh Jane lebih mendominasi dibanding dengan Marno. Tokoh Marno menurut saya, ia hanya menurut dn mengikuti saja apa yang diinginkan tokoh Jane. Dalam hal ini, saya menangkap bahwa keduanya terlibat perselingkuhan. Tokoh Jane telah bercerai dengan suaminya tetapi tampak bahwa ia masih agak peduli dengan keberadaan suaminya. Sementara Marno sendiri memiliki keluarga sendiri.

 

“Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.”
“Tapi Minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.”
“Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.”
“Oh.”
“Mungkin juga dia tidak di mana-mana.”
(Seribu Kunang-kunang diManhattan, hlm.3)

 

Latar yang ditampilkan juga tentang luar negeri, ini menunjukkan bahwa Umar Kayam mengetahui betul seluk beluk negara Amerika, hingga Manhattan sebuah kota yang pasti padat penduduk dan aktivitas diinginkan oleh tokoh Marno untuk ada kunang-kunang seperti halnya ia saat di desa. Desa yang dimaksud entah apakah itu di Indonesiaatau di Amerika, karena dari penamaan tokoh Marno sendiri menurut saya Indo banget.

Emosi Jane dalam cerpen ini naik-turun mungkin akibat martini yang diminumnya sehingga hal-hal kecil bisa menjadi besar dan Jane merasa membosankan untuk Marno, kekasihnya.

“Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? Mem-bo-san-kan!”
“Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.”
“Bukan beberapa, Sayang. Sebagian besar.”
“Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.”
“Aku membosankan jadinya.”
(Seribu Kunang-kunang diManhattan, hlm. 7)

 

Terdapat sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Jane dalam cerpen ini, mungkin salah satu lagu yang dikarang oleh pengarang untuk mewakili keadaan diri Jane. Apalagi ini diulangi dua kali dalam cerpen ini, pasti memiliki sesuatu yang bernilai.

 

“Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea ……” (Seribu Kunang-kunang diManhattan, hlm. 6)

 

Deep blue sea setelah saya temukan disebuah sumber memang merupakan sebuah lagu yang tidak diketahui jelas siapa yang menyanyikan dan menciptakannya. Bisa jadi ini lagu favorit pengarang untuk menyertakan ide-idenya dalam membuat sebuah karya sastra. Lagu ini juga memiliki kesinambungan dengan kalimat selanjutnya yang Jane katakan.

 

“Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?” (Seribu Kunang-kunang diManhattan, hlm. 6)

 

Bisa jadi ini imaji yang Jane ciptakan dan ia ingin mencoba hal itu, tapi Marno tidak tanggap akan omongan Jane karena menurut saya pikirannya sedang berada di pedesaan yang ada kunang-kunangnya. Mungkin Marno sedang rindu dengan kampung halamannya.

Judul cerpen ini Seribu Kunang-kunang di Manhattan menurut saya memang ada kaitannya dengan isi cerita, yang saya tangkap karenaManhattan adalahkota yang sibuk hingga tak ada kunang-kunang.

 

“          Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga.

Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.” (Seribu Kunang-kunang diManhattan, hlm. 11)

 

Hanya saja akhir cerita ini ketika Marno akan meninggalkan Jane sendiri, Jane merasa akan ditinggalkan lagi dan maksud Jane memberikan piyama saya juga kurang mengerti. Dan paragraf terakhir cerpen ini Jane merasa bantalnya basah bahwa ia sehabis tertidur dan bermimpi.

Jadi, Seribu Kunang-kunang di Manhattan merupakan cerpen yang enak dibaca dan santai, cerita dan bahasanya juga santai dan tenang sehingga menimbulkan kesan romantis terkadang. Saya mengambil judul tugas ini Ketenangan di Balik Kegelisahan  karena sesungguhnya jiwa Jane dan Marno sendiri gelisah akan pikiran mereka masing-masing, tapi mereka menghadapinya dengan sangat tenang. Sekian.

Tagged: ,

§ 5 Responses to Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seribu Kunang-kunang di Manhattan at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: