Mencari Keadilan lewat Godlob karya Danarto

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Cara Mencari Keadilan

 

Cerpen Godlob karya Danarto dibuat pada tahun 1967, cerpen ini sendiri menjadi judul sebuah kumpulan cerpen yang berjudul sama, Godlob. Dari beberapa sumber yang saya baca, Danarto bukanlah sastrawan yang produktif mengeluarkan cerpen karena dalam kurun waktu 12 tahun (1975-1987) hanya ada 3 kumpulan cerpen yang muncul. Kumpulan cerpen Godlob termasuk terbitan tahun 1975. Ternyata Danarto selain di dunia sastra, ia juga seorang pelukis. Karya-karya Danarto memiliki suasana yang khas, yaitu suasana absurditas.

Pada cerpen Godlob, Danarto juga menghadirkan suasana yang absurditas. Permainan kata-kata dan pilihan kata yang digunakan Danarto dapat memunculkan banyak persepsi bagi yang membaca, tetapi tepat pada intinya yang menghasilkan satu pikiran. Di awal cerita ini Danarto membuat saya kagum karena pilihan kata yang digunakannya, beliau menggunakan majas metafora dan hiperbola sebagaimana dengan sastrawan lainnya.

“Laksana setan maut yang compang-camping mereka buas dan tidak mempunyai ukuran hingga mereka loncat ke sana loncat kemari,…”

“Suara-suaranya bagai kaleng-kaleng yang ditendang-tendang di atas lantai ubin, merupakan paduan suara lagu-lagu maut yang dahsyat,…”

 

Dalam cerpen ini saya menangkap ceritanya mengenai keadaan prajurit-prajurit yang gugur dalam sebuah peperangan. Satu dari mereka ada yang selamat dan ditolong oleh ayahnya. Tetapi Ayahnya seolah mengesalkan kejadian ini. Danarto menyusupkan sebuah puisi pada cerpen ini, yaitu sajak Sang Politikus.

“Oh, bunga penyebar bangkai

            Di sana, di sana, pahlawanku tumbang mewangi..”

Menurut saya, ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh Danarto, seperti yang diketahui bahwa Danarto. Sepertinya ia ingin menyindir politikus-politikus negeri yang sibuk dengan urusnnya sendiri, seenaknya memerintah.

Adadua tokoh yang bertolak belakang di sini, yaitu sang ayah dan si anak. Ayah ini seolah melanggar takdir. Ia tidak terima dengan nasib yang dijalaninya, karena semua anaknya mati, kecuali si bungsu yang menjadi prajurit itu, yang akan mati. Ia merasa tidak adil, sehingga ia ingin melakukan sesuatu supaya ia mendapat perubahan nasib. Sementara tokoh sang anak ini menunjukkan kepasrahan dan keikhlasan pada nasib yang dihadapinya.

“Ayah, cukuplah. Seharusnya keluarga kita berbangga. Perang yang susul menyusul, kita telah mampu menyumbangkan tenaga kita.”

“Berbangga? Aku telah kenyang dengannya. Sekarang aku harus memutuskan seseuatu yang hebat, biar aku tak dirugikan habis-habisan.”

 

Mungkinkah ia seorang ayah yang gila hormat, ia ingin sang anak menjadi pahlawan saja, ingin anaknya mati saja, supaya ia tidak rugi. Rugi dalam arti ini bisa jadi artinya sang ayah ingin memiliki untung dari anaknya agar anaknya dikenal sebagai pahlawan.

Cerpen Danarto menurut suatu sumber yang saya baca, mengilhami aliran sufi atau tentang ketuhanan dan kental dengan nilai-nilai religi. Saya pribadi melihat adanya unsur tersebut pada cerpen ini, karena cerita ini lebih menonjolkan tentang pembunuhan yang menghilangkan nyawa dengan sengaja, pastinya itu berhubungan dengan Tuhan. Tapi untuk nilai-nilai religinya menurut saya kurang pas, apa mungkin karena cerpen ini terbit pada awal mula Danarto menulis? Sehingga belum terlihat benar ciri khasnya?

 

Hampir di akhir cerita cerpen ini dibuat sebuah kejutan dengan hadirnya seorang wanita yang mengaku ibunya dengan membopong mayat anak muda di depan balaikota. Ia ingin menguak sebuah fakta.

“Ini dia orangnya! Ia adalah suamiku, namun sejak kugali mayat anakku ini, ia telah kuceraikan. Semalam ia telah bercerita panjang lebar tentang garis depan. Akhirnya ia pulang dengan membawa tipuan-tipuan buat kita. Mayat ini sama sekali bukan pahlawan. Aku tahu tabiat anak-anakku. Dialah! Orang laki-laki ini yang membikinnya jadi pahlawan! Dia membunuhnya! Dia menipu kita!”

 

Dengan akhir cerita terbunuhnya sang ayah yang ditembak mati sama wanita itu, ia seperti menyesali perbuatannya. Sepertinya wanita itu melakukannya dengan tidak sengaja karena sudah merasa bosan dengan perdebatan oleh sang politikus dan pria itu.

 

Saya pribadi kurang mencerna inti dari cerpen ini, hanya sedikit yang saya dapatkan yaitu tentang pencarian dari sang ayah untuk mencapatkan keadilan dan nilai kebenaran atas nasib anak-anaknya. Adil mungkin tidak akan pernah terjadi di negeri ini, karena banyak sekali faktor penghambatnya, misalkan saja keserakahan pemerintah untuk menduduki kekuasaan. Untuk mendapatkan sebuah keinginan, seseorang akan mencari caranya, dan tokoh ayah pada cerita ini menggunakan cara dengan membunuh anaknya. Tapi, keadilan yang didapatnya tidak dapat ia nikmati, karena ia menggunakan cara yang salah. Akhirnya, keadilan yang menimpa dirinya ialah setelah ia menghilangkan nyawa, ia pun kehilangan nyawa.

 

Cerpen Godlob dinamakan demikian mungkin ada 2 arti, yang pertama dari arti kata God yang berarti Tuhan serta Lob (Love) yang berarti cinta. Tapi saya tidak menemukan arti yang pas, dalam arti kata tersebut. Kemudian, seorang rekan memberikan informasi bahwa kata godlob merupakan kata dari Bahasa Arab, yang berarti kemurkaan. Berhunung Danarto adalah seseorang yang memegang teguh agama, tentunya ia mengetahui bebera kosakata bahasa Arab, sehingga terdapat keterkaitan antara judul dan isi cerpen ini, kemurkaan yang dialami oleh tokoh sang ayah yang tak kunjung mendapatkan keadilan. Sekiranya hanya seperti ini yang dapat saya sampaikan, terima kasih.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mencari Keadilan lewat Godlob karya Danarto at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: