Langit Makin Mendung yang Misteri

18 Desember 2011 § 2 Komentar

Kontroversi yang Masih Menjadi Misteri

 

Cerita pendek yang berjudul Langit Makin Mendung merupakan tugas mata kuliah pengkajian cerpen yang ke-9 karya Kipandjikusmin, cerpen ini terbitan tahun 1968. Kipandjikusmin sendiri ketika saya cari namanya di internet ternyata tidak membantu banyak karena yang muncul dari mesin pencari Google adalah tentang cerpen Langit Makin Mendung tersebut sendiri.

Cerpen ini sangat kontroversial karena ceritanya yang sangat frontal dengan terbuka menceritakan persoalan religi yang menurut saya sangat sensitif. Cerpen ini juga sangat heboh dibicarakan di kalangan pembaca sastra. Bagaimana tidak, umat Islam yang lebih banyak dicela di sini beraksi sangat geram, pantas saja cerpen ini dan pengarangnya menjadi sebuah fenomena di kancah sastraIndonesia.

Dalam Langit Makin Mendung diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW turun kembali ke bumi dengan ditemani oleh Jibril guna melakukan riset karena akhir-akhir ini tidak ada umatnya yang ke surga, setelah ia melakukan riset yang tempat utamanya di Jakarta ternyata ia mendapat kekecewaan padahal di negara Indonesia tersebut bahwa penganut agamanya ada 90%. Lalu cerpen ini juga membahas tentang pemerintahan presiden Soekarno.

Disebutkan suatu sumber bahwa Kipandjikusmin tidak hendak menghina Islam daengan membuat cerpen ini tetapi ingin mengeluarkan pendapatnya tentang keberadaan Islam di Indonesia pada saat itu. Mungkin ya bisa dibenarkan bahwa umat Islam saat itu sangat kacau dengan perzinahan, kemiskinan, penyakit merajalela, dan para menteri yang seenaknya berbuat pada negara tanpa memikirkan nasib rakyat.

Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.

Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.”

Selain itu di sini jg disebutkan perekonomian bangsa yang gila-gilaan hingga Nabi Muhammad enggan melemparkan batu kepada rakyat Islam, karena batu pun dinilai sangat mahal untuk bangsa ini.

Saya pribadi kurang menyukai karya-karya sastra yang membahas agama karena persoalan tersebut tidak akan pernah mencapai hasil yang adil di pihak manapun. Apalagi ketika membaca Langit Makin Mendung ini, saya berpikir jika sang pengarang bermaksud mengaspirasikan keinginannya lewat cerpen ini alangkah baiknya tidak membawa nama Islam. Jadi di sini, kalau saya membacanya seperti menyudutkan agama Islam di Indonesia yang notabene mayoritas muslim tapi hanya islam KTP.

Menurut saya juga apakah cerpen ini punya sisi positif dari segi ceritanya atau tidak? Saya tidak bisa memastikan, karena saya melihat pengarang lebih dari 70% menyorot keburukan bangsaIndonesia. Misalnya saja saat saya sedang mengerjakan tugas cerpen ini sambil membaca kembali cerpennya, yang saya baca memang tentang keburukan negara ini.

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

 

Ada bagian cerita yang saya tidak mnegerti mengapa jadi tidak  sinkron dengan inti cerpen ini yaitu saat menceritakan Togog, BPI, dan sebagainya. Cerita ini juga mengusung tentang kepercayaan rakyat kepada dukun dan jailangkung yang pada saat itu masih dipercaya oleh rakyat kita. Sebenarnya apa yang ada dibenak pengarang dalam menulis cerpen ini? Apakah masih melirik kepercayaan yang sekarang dianggap takhayul atau hal lain? Ada lagi sebuah pernyataan yang secara tidak langsung sangat tidak Indonesia, yakni sang presiden yang makannya bukan berasal dari beras/nasi padahal pasti kita tahu bahwa nasi ialah makanan pokok rakyat Indonesia.

“Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.”

Semua karya sastra saya yakini pasti memiliki pesan, begitupun dengan cerpen Langit Makin Mendung ini. Di akhir ceritanya ini saya mendapat sebuah pesan dari pengarang lewat sebagian kata-katanya. Mungkin baginya rakyat Indonesia hanya ‘iya-iya aja’ dengan segala hal yang dilakukan Soekarno, padahal itu tidak berkenan di hati mereka.

“Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.”

Mengenai Kipandjikusmin, banyak kontroversi juga apakah pengarang yang sebenarnya H.B Jassin atau seseorang yang mengaku Soedihartono, dan bahkan ada yang menyebutkan W.S Rendra karena sajak yang tertera di cerpen ini sangat mirip dengan sajak Rendra. Di akhir cerita juga tokoh Muhammad dan Jibril tidak lagi diceritakan dan dibiarkan selesai begitu saja sehingga masih menimbulkan pertanyaan. Ya kiranya hanya sekian yang saya sampaikan, terima kasih.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Langit Makin Mendung yang Misteri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Langit Makin Mendung yang Misteri at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: