Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, dan Orez

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Seperti biasanya, ketika akan membaca sebuah cerpen hal pertama yang saya lihat adalah judulnya. Dan kagetnya, ternyata Orang-orang Bloomington merupakan suatu buku yang di dalamnya pun tidak ada cerpen berjudul sama. Akhirnya ditugasi untuk membaca 3 dari kumpulan cerpen karya Budi Darma itu, yaitu Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, dan Orez. Dalam membuat laporan ini pun saya cukup bingung apakah akan membuatnya per judul atau menyeluruh, tapi lebih baik saya membuatnya secara menyeluruh.

Sebelum membaca cerpen ini, saya pribadi belum pernah mendengar Budi Darma, jadi inilah karya pertamanya yang saya baca. Dengan Bloomington juga saya agak asing mendengarnya, yang saya tahu, itu pasti sebuah tempat yang ada di luar negeri. Dan memang benar ternyata salah satukotadi Amerika. Setelah mencoba menelusuri rupanya Budi Darma juga pernah tinggal disanauntuk berkuliah. Pantaslah dalam tiga judul cerpen yang saya baca sangat kental akan nuansa luar negeri baik di nama-nama tempat, tokoh, maupun latar yang diceritakan.

 

Ketika selesai membaca Laki-laki Tua Tanpa Nama, saya berpikir seperti sedang membaca sebuah novel terjemahan. Sebenarnya agak berat untuk saya, tetapi saat membacanya memang memiliki kekuatan tersendiri untuk tetap bertahan membaca. Untuk cerpen yang pertama ini, saya menyimpulkan tokoh “saya” memiliki keingintahuan yang sangat besar kepada laki-laki tua yang tinggal di loteng Ny.Casper. Menurut saya sifatnya agak berlebihan, hingga menanyakannya pada penjual di toko Marsh, menelepon tengah malam ke Ny.Casper, hingga menuliskan surat untuk lelaki tua tersebut. Tapi inilah karya sang pengarang. Dan ada hal yang menarik dari surat tersebut, di mana ada kata wassalam di akhir suratnya, apakah ada suatu makna dari kata itu?

“Maka di atas amplop saya menulis: ‘Kepada John Dunlap, dengan alamat Ny. Casper, Jalan Fess 205.” Surat saya berbunyi demikian: ‘John, bagaimana kalau jam setengah dua belas pagi Rabu yang akan datang, kita bertemu di Marsh? Saya tahu kau suka donat. Perkenankanlah kali ini saya mentraktir kau beberapa donat termasuk kopinya. Wassalam.” (Orang-orang Bloomington: Laki-laki Tua Tanpa Nama, hlm 9)

Dalam cerita Laki-laki Tua Tanpa Nama ini, banyak memasukkan jalan cerita melaui nama-nama latar tempat maupun waktu. Karena tokoh “saya” sangat memiliki sifat keingintahuan yang begitu tinggi sehingga ia berpindah-pindah tempat untuk menemukan jawabannya. Tapi dari banyak tempat seperti lokasi tempat tinggal si tokoh saya, tempatnya kuliah, Marsh, dll semuanya bertempat di satu kawasan yaitu Fess. Di Fess ini telah disampaikan bahwa tempat ini tidak cukup menjadi favorit sebagai tempat tinggal. Tapi mengapa tokoh saya malah memilih Fess? Apalagi ia sangat ingin mengenal sosok laki-laki tua tersebut.

“Seperti Fess, daerah ini juga sepi dan gelap. Dalam keadaan seperti ini penyesalan mengapa dulu saya menyewa tempat di Fess timbul kembali. Hampir semua orang yang tinggal di kawasan ini sudah tua, hidup sendirian, tanpa teman, dan memang tidak suka berteman.” (Orang-orang Bloomington: Laki-laki Tua Tanpa Nama, hlm 13)

Mungkin dalam cerpen ini Budi Darma ingin membagi kisah mengenai orang-orang diBloomington, entah apakah ini benar atau tidak, tapi menurut saya ia merupakan salah satu cerpenis hebatIndonesiadengan imajinasinya. Karena, ia memasukkan tokoh si laki-laki tua tanpa nama tersebut dengan kondisi yang menurut saya cukup aneh. Lewat ujaran orang-orang yang mengatakan kepada tokoh saya misalnya, ia pernah ikut ambil peran saat Perang Dunia II dan saya tidak menangkap alasan yang pasti tentang alasan si tokoh laki-laki tua tersebut membunuh Ny.Casperpada akhir cerita. Lain halnya dengan alasan ia mengancam akan membunuh Ny. Nolan, mungkin agak masuk akal, karena yang seperti telah diketahui bahwa karakteristik Ny. Nolan memang agak keras. Kalau yang saya pikir, mungkin si laki-laki tua tanpa nama tersebut memiliki kondisi kejiwaannya yang kurang baik.

“Ternyata laki-laki tua itu menjadi tontonan. Dia bergaya seolah-olah menembaki mereka dengan pestol di tangannya, dan mereka bergerak mundur sambil mengangkat tangan seolah takut kena tembak. “Oh, sang veteran sedang bergaya,” kata sopir taksi.” (Orang-orang Bloomington: Laki-laki Tua Tanpa Nama, hlm 16)

Di akhir cerita akhirnya diungkapkan pemikiran luar biasa menurut saya dari pengarang, di mana saat polisi menjelaskan bahwa pestol yang dipakai laki-laki tua tersebut tidak berpeluru dan tokoh saya berpikiran bahwa semua ini merupakan ulah Ny. Nolan. Dan akhir cerita ini masih membuat saya bingung.

 

 

Dalam cerita pendek yang kedua, Joshua Karabish juga menghadirkan suasana yang tidak jauh beda, hanya saja tokoh saya dalam cerpen ini bersifat agak labil. Ia sesungguhnya baik hati karena telah bersedia berbagi tempat dan berteman seperti orang macam Joshua. Seperti yang disebutkan dalam cerita bahwa Joshua menderita suatu penyakit yang tidak disebutkan, hanya saja penyakit tersebutlah yang membuatnya rendah diri dan perawakannya yang tidak menarik. Menurut saya Budi Darma cukup berhasil membuat saya merasa antara jijik, ngeri, dan prihatin karena perawakan yang diceritakan dalam cerpen ini sungguh terlalu.

“Kepalanya yang benjol, matanya yang selalu Nampak akan melesat dari sarangnya, dan mulutnya yang seolah-olah tidak dapat dikatupkan, ditambah dengan caranya berkata, dan apa yang dikatakannya, menyebabkan saya tidak sampai hati untuk menjauhinya.” (Orang-orang Bloomington: Joshua Karabish, hlm 22)

Hal yang menarik bagi saya dalam cerpen ini ialah tentang kesukaan tokoh Joshua pada dunia sastra, puisi khususnya. Ia menyatakan bahwa penyair yang baik ialah baik saat berpuisi dan juga penampilannya, sungguh kurang percaya dirinya ia, padahal ia bisa memenangi juara harapan III pada ajang yang diikuti oleh tokoh saya. Selain itu pada saat tokoh saya mengalami penyakit yang sama seperti Joshua, menurut saya penyakit tersebut hanya sugesti saja karena baying-bayang Joshua masih ada dalam benak tokoh saya tersebut. Atau mungkin memang ada pengaruh mistis yang disajikan pengarang dalam Joshua Karabish ini, sepertinya Joshua memiliki maksud kepada tokoh saya berkaitan dengan puisi-puisinya itu makanya ia mengikuti tokoh saya. Ya memang tidak masuk akal, tapi sastra itu bebas sesuai pengarangnya dan penafsirannya pun bebas bagaimana si pembacanya.

Sama halnya dengan cerpen sebelumnya saya kurang menangkap arti dari cerpen ini, mungkin karena saya kurang tertarik juga dengan jalan cerita yang agak membuat bosan atau ketidaktertarikan saya dengan pemakaian nama dan tempat dari bahasa asing.

Tokoh saya mengalami perdebatan dengan dirinya sendiri,  saat akan menyerahkan puisi-puisi Joshua ke ibunya ataupun mengirimkan ke MLA untuk lomba. Dan ia sempat mengutuk Joshua atas penyakitnya yang ditularkannya itu. setelah ditelusuri juga oleh saya, rupanya Budi Darma termasuk salah satu anggota dari Modern Language Association (MLA),New York(1977—1990). Jadi, ia seperti mengimajinasikan tokoh Joshua itu benar ada lewat hal-hal yang secara nyata memang pernah ia alami.

 

 

Dari ketiga cerpen yang ditugasi, Orez lah yang menurut saya paling menarik. Selain banyak hal yang benar-benar di luar kemungkinan, bahasa yang digunakan pengarang juga terkesan lucu sehingga saya pun sempat tertawa saat membacanya. Karena pada cerita ini pengarangseperti mengeksplorasi sangat dalam tentang Orez,. Kalau dibilang abnormal, memang ia tidak normal apalagi dengan kemampuannya yang sangat luar biasa. Budi Darma dalam hal ini banyak menggunakan gaya bahasa hiperbola dalam ceritanya. Bagian yang paling saya sukai dari kata-kata Budi Darma dalam Orez ialah:

“Pernah pada suatu hari dia menendang bola di lapangan, semua orang menyatakan kekagumannya pada kekuatan Orez yang luar biasa. Hanya saja dia tidak pernah melihat bola itu dengan baik. Kalau secara kebetulan posisi kakinya baik, bola itu terbang mencapai langit tingkat tujuh. Kalau posisi kakinya jelek, tubuh Orez sendirilah yang melayang ke atas, dan kepalanya menyundul bintang-bintang di langit.” (Orang-orang Bloomington: Orez, hlm 78)

Bagian tersebut merupakan unsur jenaka yang saya tangkap dari Orez, mungkin orang lain akan mengecapnya sebagai orang cacat tapi tak ada yang ingin pula dilahirkan seperti itu, oleh karena itu menurut saya Budi Darma ingin membuka mata karena semua orang pasti ada kelemahan dan kelebihan. Pada dasarnya Orez maerupakan anak yang baik, hanya saja tingkah lakunya yang unik tadi membuat sang ayah tidak tega hingga pernah hampir saja ia bermaksud membunuh Orez. Begitupun sewaktu ia masih dalam kandungan Hester, ia melakukan hal-hal ajaib untuk menggugurkan kandungannya seperti yang paling fantastis menurut saya:

“Kemudian dia mengeluarkan perintah supaya saya memperlakukan perutnya seperti bola soccer. Bagaikan seorang wasit tanpa sempritan, dia memerintahkan saya untuk menendang perutnya.” (Orang-orang Bloomington: Orez, hlm 73)

Karena pada saat saya membacanya apa jadinya kalau hal itu benar dilakukan Hester? Jadi bisa saja kelakuan Orez menular ajaib akibat ide gila Hester juga saat mengandungnya.Secara keseluruhan 3 cerpen ini, saya dapat menangkap makna dari cerpen Orez, mungkin juga karena tahun pembuatannya yang berbeda dari dua cerpen sebelumnya.

Sebuah sumber juga mengatakan bahwa Budi Darma memang banyak mengambil cerita tentang orang-orang yang memiliki kehidupan aneh. Kejadian-kejadian yang dituliskan dalam semua cerpennya pun spontan apa yang ada dipikirannya tanpa membuat konsep ceritanya itu sendiri. Nama-nama yang muncul seperti Orez sendiri pun muncul secara tiba-tiba ketika ia akan menulis.

Saya mengambil judul laporan cerpen ini Saya Paling Tahu karena hal yang simple saja, cerita-cerita ini membuat tokoh saya tidak sebagai tokoh utamanya, melainkan sebagai yang serba tahu. Baik dalam Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, dan Orez. Judul masing-masing cerpen itulah sebagai tokoh utamanya tapi tidak menggunakan subjek saya. Hanya sedikit ini yang dapat saya tangkap dan saya sampaikan, terima kasih.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, dan Orez at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: