Jalan Lain ke Roma

18 Desember 2011 § 1 Komentar

Jalan Lain ke Roma merupakan salah satu cerpen Idrus dari buku kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Kisah cerita ini tentang seorang tokoh bernama Open yang memiliki sifat sangat jujur. Ia dilahirkan dengan nama Open dengan memiliki kisah yang unik, yaitu seperti pada kutipan berikut.

“Pada suatu hari ayah itu bermimpi. Mimpi tentang kota New York dengan gedung-gedungnya menjangkau awan, tapi entah karena apa, selalu saja mendeking di telinganya satu perkataan Belanda: openhartig….”

“Dan waktu hal ini diceritakan ayah ini kepada istrinya, istri itu meloncat setinggi langit dan gembira ia berkata, “Ini bisikan Tuhan, tolol. Anak kita harus jadi orang terus terang, openhartig. Mari kita namakan saja – Open”” (Jalan Lain ke Roma, hlm. 151)

Ibu Open menghendaki anaknya akan menjadi orang yang openhartig atau berterus terang dan ternyata Open selalu memegang teguh cita-cita ibunya ini. Diceritakan dalam beberapa bagian di cerpen ini tentang kejujuran Open, misalnya sewaktu ia menjadi guru di sekolah rakyat, menjadi mualim, hingga kejujuran yang membuatnya dijebloskan dalam penjara saat menjadi pengarang. Namun walaupun ia seringkali jujur, tapi ada kalanya ia tidak bisa menahan amarah apabila dikatai oleh orang sekitarnya.

“Open yang sesabar-sabarnya akhirnya marah juga. Dan Open adalah orang yang selalu menurutkan kata hatinya. Jika hati ini berkata: pegang seorang anak dan pukul dia, ia memegang seorang anak yang terdekat dari dia, lalu dipukulnya. Rasanya pada Open, ia memukul hanya pelan-pelan, tapi dari telinga anak itu keluar darah.” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 152)

Open memiliki sifat yang teguh dengan pendiriannya di mana apabila ia mengambil sebuah keputusan akan tetap memegangnya, seperti ketika ia bercerai dengan istrinya, Open segera melupakan kejadian yang telah lalu.

“Open tidak mau menengok ke belakang lagi. Ini sudah menjadi tabiat Open. Jika ia sudah mengambil keputusan dengan satu hal, ia tidak mau menengok ke belakang lagi…” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 152)

 “Demikian Open. Ia lekas lupa kepada kejadian-kejadian yang berlalu dan ia tak pernah memikirkan kejadian-kejadian yang akan datang. Ia adalah manusia waktu.” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 155)

Lalu Open beralih dari seorang guru sekolah rakyat menjadi seorang mualim yang kemudian dikenal menjadi seorang filsafat dan pengarang besar. Ketika ia mengajar agamapun ada saja yang dapat menimbulkan amarahnya. Namun kali ini ia tidak dikeluarkan lagi dari guru. Ia berbincang dengan ibunya dan pada akhirnya Open menikahi Surtiah. Surtiah ialah gadis yang ditemui Open ketika sedang buang air besar. Kemudian setelah ia kekotadan bertemu dengan mualimkotaternyata ia mengenakan pantaloon, dan setelah ia kembali ke desa ternyata mendapat reaksi yang berbeda.

“Mualim kita sudah menjadi mata-mata Jepang – Awas, jangan didatangi rumahnya lagi. Jangan dibiarkan lagi anak-anak belajar sama dia.” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 159)

Pada pertengahan cerita, akhirnya Jalan Lain ke Roma telah memunculkan kekhasan dari pengarang, dimana tulisan-tulisan Idrus mengenai kemerdekaan apalagi cerpen ini ditulis setelah kemerdekaan 17 Agustus, sehingga masih hangat dengan api-api kemerdekaan serta penjajahan zaman Jepang. Dengan tersurat Idrus menyampaikan keinginannya untukIndonesia. Tetapi cerita pada cerpen ini ialah saatIndonesiabelum berani untuk bangun dan melawan penjajahan.

“Rakyat Indonesia harus dibangunkan, dibangunkan, dibangunkan!” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 160)

Demikianlah sebagaimana yang disampaikan Idrus melalui tokoh Open, bagaimana Open memandang kali Ciliwung ada orang yang memperebutkan bangkai anjing kemudian ia menuliskan sebuah sajak. Sajak dari kejujuran hatinya, karena keinginan ibunya untuk selalu berterus terang. Tapi ketika ia menyerahkannya pada redaktur, ditolak karena menurut redakturnya karangan Open ialah berbahaya. Open pulang dengan hati kesal. Mungkin hal seperti ini pernah terjadi di kalangan para penulis diIndonesia, oleh karena itu Idrus menuliskan cerpen ini.

“Di rumah Open berpikir. Redaktur itu berkata, karangannya tai kebo. Ya, betul tai kebo. Kelihatannya jelek, tapi jika dipakai sebagai pupuk, bisa menyuburkan kehidupan pohon-pohon. Dan pohon-pohon itu, ialah bangsa Indonesia yangs edang tidur dengan nyenyaknya.” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 162)

Kemudian cerita ini juga menceritakan kekejaman Jepang ketika Open mengirimkan sebuah cerita yang dinilai Jepang berbahaya, lalu Open ditangkap dan disiksa dengan sangat pintar menurut saya.

“Setelah mengaku Open dipukul lagi. Darah mengalir di seluruh badan. Setelah itu dia disuruh mandi, sampai kaku, lalu disuruh duduk di bawah panas terik. Beberapa hari sudah itu dengan sendirinya luka-luka di badannya baik kembali.” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 163)

Setelah mendekam di penjara, Open mengalami perubahan-perubahan dalam pemikirannya, tentang kemerdekaan dan tujuan hidup. Setelah proklamasi kemerdekaanIndonesia, Open pun dibebaskan. Ia benar-benar menjadi Open yang berbeda.

“Dia sendiri mengalami revolusi yang paling hebat dalam dirinya sendiri. Revolusi tidak lain dari pada akibat evolusi yang berlaku, evolusi berupa pemerasan perlahan-lahan dan secara teratur. Tapi revolusi tidak membunuh, revolusi hanya berarti menggoncangkan yang ngelamun dan membangunkan yang tidur dan melompat selangkah besar menuju cita-cita.” (Jalan Lain ke Roma, hlm: 165)

Ia menerbitkan tulisan-tulisannya dahulu, walaupun banyak yang mengkritiknya ia tetap senang. Kemudian, ia bekerja menjadi tukang jahit dan mengirimsuratkepada Surtiah bahwa ia akan kembali ke desa. Pemikirannya sudah berubah bahwa Surtiah tak akan mengganggunya. Jadi, cerita ini dapat menjadi gambaran kita bahwa saat itu sudah banyak rakyatIndonesiayang gerah akan kekejaman penjajahan Jepang. Akan tetapi saya masih heran kaitan cerita ini dengan judulnya Jalan Lain ke Roma. Mungkin yang saya tangkap ialah, jalan lain ke Roma maksudnya Open memiliki suatu caranya sendiri menuju kemerdekaan, walaupun dengan di tngkap oleh Jepang dan kunci utama baginya ialah sifatnya yang selalu berterus terang. Sekian yang dapat saya tangkap dari cerita ini.

Tagged: , ,

§ One Response to Jalan Lain ke Roma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jalan Lain ke Roma at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: