Cerpen Tempo: Tuan Alu dan Nyonya Lesung

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Kesakitan untuk Keluar dari Kesepian

 

Untuk tugas mata kuliah Pengkajian Cerpen yang ke-11 ini kami diminta untuk menganalisis cerpen dari koran Tempo edisi Minggu, 15 Mei 2011. Cerpen yang baru saja terbit ini belum pernah diterbitkan sebelumnya, sehingga nama pengarangnya pun baru saya dengar. Berjudul Tuan Alu dan Nyonya Lesung karya Zelfeni Wimra yang menurut keterangan giat di kelompok studi MagistraIndonesia,Padang.

Seperti biasanya juga, pada awal kisah cerita tidak saya mengerti arti-arti dari kalimat cerpen ini, karena ada kalimat yang bermajas personifikasi yang dibuat pengarang sehingga saya mengira bahwa ini memang kisah seorang manusia yang luar biasa karena masih bisa hidup walaupun kepalanya berubah menjadi ke bawah. Padahal ini kisah sebuah tanaman.

“Tuan Alu memeriksa setiap pori-pori di kepalanya. Bagian ujung dari tubuhnya yang selalu tertumbuk ke bumi itu kini ia sebut kepala.” (Tuan Alu dan Nyonya Lesung)

 

Namun ternyata cerpen ini mengisahkan tentang sebuah tumbuhan kopi yang didapat dari penjelasannya sendiri yaitu ada batang, akar, daun, buah, bunga yang dituliskan dalam cerita ini. Tuan Alu ini hidup bersama sebuah batu yang dinamai Nyonya Lesung oleh si pembuat cerpen, sehingga mereka ini adalah alat yang biasa digunakan untuk menumbuk padi.

“Dahulu, ia mengenal akar yang setiap detik mengedap-menyusup ke perut bumi. Menyerap sari tanah untuk di kirim ke batang, ke daun hingga terbitlah buah dan bunga.” (Tuan Alu dan Nyonya Lesung)

 

Tuan Alu memiliki sikap yang baik, ia berusaha mengambil hikmah dari segala sisi kehidupan yang dialaminya. Seperti ketika ia baru saja dipangkas oleh parang, yang semula ia merasakan sakit tapi sesaat kemudian ia menyimpulkan bahwa aka nada sebuah kehidupannya yang baru.

“Ketika sebilah parang berdesing, memangkas batangnya, ia berusaha cepat sadar, barangkali ada kehidupan baru yang lebih baik untuknya. Barangkali ia akan segera keluar dari kepahitan, dari kesepian. Ia ucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya.” (Tuan Alu dan Nyonya Lesung)

Sementara tokoh Nyonya Lesung di cerpen ini melengkapi Tuan Alu, ia dapat memahami betul perasaan Tuan Alu seperti saat Tuan Alu tidak ingin menumbuk kopi karena ia merasa jahat. Akhirnya Nyonya Lesung menceramahi dan menghibur Tuan Alu. Selain itu kehadiran Nyonya Lesung dapat merubah kehidupan Tuan Alu.

“Nyonya Lesung sudah membujuknya. Ia bisikkan kepada Tuan Alu, “Jangan bersedih. Sedih itu sama dengan ngarai yang akan menggelindingkan kita kembali ke jurang sepi. Jangan berpikir, bahwa kau saja yang pernah luka, Sayang.” (Tuan Alu dan Nyonya Lesung)

 

Cerpen Tuan Alu dan Nyonya Lesung ini menurut saya banyak memiliki kata-kata mutiara sebagai motivasi untuk para pembacanya. Seperti kata-kata berikut yang saya sukai dari cerpen ini.

  1. Diperlukan banyak kesakitan untuk keluar dari kesepian. (Paragraf 4)
  2. Hidup adalah pertumbuhan yang pahit. (Paragraf 8)
  3. Sedih itu sama dengan ngarai yang akan menggelindingkan kita kembali ke jurang sepi. Jangan berpikir, bahwa kau saja yang pernah luka, Sayang. (Paragraf 15)
  4. Tapi sakit juga sudah tidak berpengaruh lagi sebab sudah kuganti menjadi cinta. (Paragraf 21)
  5. Kepadaku ditekankan keharusan bersabar dan yakin, kehidupan baru telah menungguku. (Paragraf 23)
  6. Sekarang kita lupakan masa lalu masing-masing. Kita tidak bisa hidup dengan masa lalu. Kita sudah dibentuk dan ditetapkan alam untuk bersatu. (Paragraf 27)

 

Sehingga banyak pesan yang dapat kita petik dari cerpen karya Zelfeni Wimra ini. Pada tokoh Tuan Alu dan Nyonya Lesung mungkin bisa dicerminkan sebagai manusia, tepatnya bagi sepasang suami-istri. Bagi pasangan misalnya diperlukan penahan apabila ada salah satu diantaranya yang emosi, agar dapat saling melengkapii.

Tuan Alu yang bermula dari sebatang tanaman kopi akhirnya menemukan takdir hidupnya untuk menjadi sebuah alu. Sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau alu itu terbuat dari tanaman kopi. Sehingga kopi yang biasa dimanfaatkan untuk diseduh ternyata memiliki banyak manfaat. Begitu juga manusia, apabila kita dapat mengembangkan diri kita pun pasti dapat memiliki banyak pelajaran dan bermanfaat bagi orang lain. Sama halnya dengan Nyonya Lesung yang terbuat dari batu, batu yang begitu keras dapat takluk oleh air. Ketika ada seseorang memiliki watak keras sebaiknya tidak dilawan dengan kekerasan juga, tapi disiasati dengan kelembutan.

Jadi, intinya kita sebagai manusia pastilah mengalami masa-masa sulit dalam hidup ini, tapi disaat kita terpuruk hendaklah tidak berlarut dalam keterpurukan itu. tapi cobalah bangkit, karena dibalik semua kejadian di hidup kita pasti ada pembelajaran menuju suatu kematangan untuk kita pribadi.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerpen Tempo: Tuan Alu dan Nyonya Lesung at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: