Cerpen KOMPAS: Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Perandaian dan Kenyataan Memang Tidak Sejalan

 

Minggu ini tugas pengkajian cerpen ialah dari harian KOMPAS terbitan Minggu, 22 Mei 2011. Cerpen ini berjudul Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya buah karya Ni Komang Ariani. Seperti pada cerpen sebelumnya, saya belum pernah mendengar nama Ni Komang Ariani jadi baru kali ini saja mengetahuinya.

Menurut saya judul cerpen ini sungguh menarik, membuat saya sangat penasaran untuk membacanya. Dalam cerpen ini hanya terdapat dua tokoh, yaitu tokoh aku sebagai pria dari isterinya yang sedang terbaring sakit dan satunya ialah tokoh isteri yang diceritakan melalui sudut pandang suaminya. Jadi di cerpen ini yang menjadi tokoh utamanya ialah si perempuan, hanya saja pengarang membuat tokoh aku lebih dominan bermain dengan perasaannya di sini.

Dua kali saya membaca cerpen ini, yang ada di benak saya ialah bahwa tokoh pria sangat mencintai isterinya. Ia mengakui kehebatan isterinya dan ia merasa sangat sedih karena isterinya yang sakit keras. Apalagi penyakit itu baru diketahui olehnya, seperti yang disebutkan di cerita bahwa tokoh istri ini bisa dibilang gila kerja.

“Membiarkannya bekerja tak mengenal waktu dan membiarkannya menilai sendiri kesehatannya tanpa pernah berusaha menyelidiki sendiri. Bukankah aku sangat tahu bahwa istriku adalah pembohong terbesar dalam kesehatannya. Dalam hidupnya hanya ada kerja, kerja dan kerja, kesehatan adalah masalah paling buntut yang dipikirkannya. Mungkin lagi-lagi aku harus marah pada diriku sendiri kenapa menikahi perempuan yang demikian.”

 

Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya, cerita tentang sang istri yaitu seorang aktivis hingga lebih banyak menyita waktunya dalam dunianya dibanding dengan suaminya. Hingga sampai ia terbaring di rumah sakit, ternyata suaminya sangat mencintai isterinya. Cerpen ini menurut saya masuk dalam kategori romantis, karena sang tokoh aku benar-benar mengeluarkan perasaannya. 70% cerita ini menceritakan keadaan hati dan perasaan sang suami hingga terkesan berlebihan bagi saya.

Kepedihan yang dirasakan oleh pria ini hingga membuatnya tak kuat dan berkeinginan untuk meninggalkan sang isteri, tapi karena ternyata rasa cinta pada sang isteri yang juga begitu kuat membuatnya tak mampu untuk meninggalkan sang istri. Hingga yang dirasakannya ialah kemarahan, ketakutan, dan berangan-angan. Tapi memang berangan-angan itu membuat rasa sakit semakin menjadi ketika kenyataan tidak sebanding lurus dengan angan-angan. Selain itu, sang tokoh belum bisa menerima kenyataan bahwa si isteri ini mendapat penyakit ganas.

“Aku masih tidak dapat percaya pada tubuhnya yang lincah seperti kijang tersimpan penyakit yang begitu ganas. Seharusnya aku tahu sejak awal, perempuan yang kunikahi ini adalah perempuan yang akan memilih akhir yang tragis buat dirinya sendiri. Bukankah begitu yang selalu kudengar terntang orang-orang besar? Mereka akan memilih cara mati yang akan membuat mereka diingat dengan perasaan haru. Akan tetapi tidak dengan aku, laki-laki yang menjadi suaminya. Aku akan tetap mengenang kepergianmu kekasih dalam rasa sakit yang jauh merajam hatiku. Karena jauh di dalam hatiku aku masih ingin meneruskan hidup denganmu hingga di ujung waktu.”

Rasa cinta dan bangga pada isterinya berhasil dilukiskan dengan berhasil oleh pengarang. Mungkin juga ini karena sang pengarang ialah perempuan, saya yang membacanya seorang perempuan, dan menceritakan tentang perempuan juga. Tapi di awal cerita disebutkan bahwa ia menyesali menikahi siterinya, saya berpendapat mungkin penyesalannya ialah bahwa isterinya ini memang sosok yang tidak biasa melainkan luar biasa, hingga ia merasa menyesal tidak mengetahui penyakit ganas yang menimpa isterinya dan merawatnya sejak awal. Bisa disambung dengan di bagian cerita yang lain, apabila keadaan berbeda mungkin ia bisa menjalankan cerita yang berbeda pula.

“Ingin rasanya kunikmati duniaku sendiri yang lebih cerah dan berwarna-warni. Namun gerakan kecil tubuhnya dan lirih erangannya selalu memanggil-manggilku untuk kembali. Tubuh ringkih itu masih menyimpan ketenangan dan kedamaian yang membuatku selalu ingin memeluknya.”

 

“Rasanya aku tidak akan pernah sanggup. Terutama karena aku merasa istriku belum pantas untuk mati. Terlalu banyak hal hebat yang bisa dikerjakannya seandainya ia tidak mati. Aku bahkan masih bisa merasakan gelora semangatnya yang membara sekalipun ia terbaring tanpa daya. Mengapa ia harus padam di saat ia begitu ingin berpendar seperti kembang api. Apa ini yang sungguh bernama takdir?”

 

Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya pada akhir cerita menunjukkan keikhlasan si suami untuk isterinya. Saya melihat nilai kesetiaan di cerpen ini. Mungkin dari sisi yang lain cerita ini tidak begitu baik karena terlalu berlenbihan, berlebihan karena bahasanya yang bertele-tele dan banyak mengibaratkan pada sesuatu. Tapi hal ini memiliki alasan yang baik sebagai bentuk pengungkapan perasaan terdalam dari kesedihan seorang suami.

“Tetesan air mataku mengering tepat ketika aku siap melepasnya pergi atau merangkulnya kembali kedalam kehidupan. Aku tahu perempuan ini adalah perempuan yang begitu bahagia mencumbui cita-citanya. Demi cintaku padanya aku rela ia memilih.”

Jadi, memang cerpen ini masih mengisahkan cerita cinta. Cinta dari seorang suami yang teramat sangat karena sedihnya tidak dapat menerima kenyataan bahwa isterinya tertimpa sakit ganas. Hingga ia banyak berangan-angan dan sangat mengeluarkan perasaannya. Terlalu berandai-andai memang menyenangkan, tapi ketika itu tidak sejalan dengan kenyataan akan menyakitkan.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerpen KOMPAS: Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: