Analisis Novel Aki

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

“Penyakit menimpanya sejak sudah lama juga dan tiba-tiba ia sudah seperti orang tua. Kalau ia berjalan, kedua kakinya membengkok di pertengahan dan merupakan satu nol besar, seakan-akan badannya yang kurus-kering itu masih juga keberatan bagi kedua kakinya. Punggungnya sudah bongkok dan jika ia kebetulan tidak pakai baju, kelihatan tulang punggung itu membikin sudut 165 derajat.” (Aki, bagian satu)

Secara menyeluruh cerita ini telah mengenalkan sosok Aki dengan jelas, jadi pembaca dapat mengetahui karakter Aki secara langsung. Tokoh Aki yang menjadi pusat cerita ini memiliki sifat-sifat yang unik. Ia tidak taat bersembahyang tetapi sangat baik dengan orag sekitar, seperti kutipan dalam cerita tersebut:

“Tidak ada orang yang tahu, apakah Aki pernah ingat kepada Tuhan. Sembahyang ia tidak pernah, puasa pun tidak. Tapi ia dari dulu baik hati kepada siapa pun …” (Aki, bagian satu)

Aki membuat pernyataan sensasi lewat mulutnya, ia berkata dengan yakin dan lantang bahwa dirinya akan meninggal. Aki ini tetap semangat menjalani hidupnya, walaupun sang istri, Sulasmi, tahu bahwa suami tercintanya kelak akan bertemu ajal karena penyakitnya itu. Suatu hari, ketika Aki kritis Sulasmi tidak menangis, ia pun tidak berniat untuk menyenandungkan ayat suci kepada suaminya. Tiba-tiba saja Aki bangun dari tidurnya dan tersenyum, dan ia mengatakan pada Sulasmi bahwa ia akan mati setahun lagi. Kutipan yang memperkuat ialah,

“Tapi keadaan Aki bukanlah berkurang, malahan keadaannya itu bertambah kritis. Tapi siapakah yang tiada akan bersenang hati, melihat sebuah senyuman dan sinar mata yang hidup, biarpun pada orang yang akan mati sekalipun?

Sulasmi serasa baru melepaskan beban yang berat sekali. Diciumnya Aki berkali-kali pada kakinya dan ia menangis karena sangat bahagia.

Tapi setelah itu, Sulasmi dengan terkejut pula melihat ke bibir Aki yang sedang bergerak-gerak. Dan tatkala Sulasmi hendak mendekatkan telinganya ke bibir Aki, keluar perkataan-perkataan Aki dengan keras dan jelasnya:

“Sulasmi, aku akan mati setahun lagi.”” (Aki, bagian dua)

Dengan pernyataan sensasinya itu secara berangsur hidup Aki membaik, banyak kehebohan terjadi di sekitarnya. Diantaranya ialah sepnya yang menghormati Aki menjadi ikut pusing karena Aki akan mengundurkan diri pada tanggal 16 Agustus tahun depan dengan beralasan kematiannya, lalu salah satu pegawai di kantor tempat Aki bekerja membuat sajak yang fenomenal pula. Sajak yang ditulis oleh pemuda yang tidak disebutkan namanya itu ialah:

“Tuhan sudah mati

Sekarang Aki jadi Tuhan

Tapi Aki juga akan mati

Jadi semua tidak kekal

Tuhan tidak, Aki tidak, Aku tidak!” (Aki, bagian empat)

Akibat berita itu, si pemuda ini dijebloskan ke penjara dan mendekam disanaselama satu bulan. Dampak lainnya, Aki menjadi pembicaraan utama saat pesta ulang tahun anaknya, Akbar, yang ke-5. Di pesta itu semula pesta berlangsung meriah tapi karena penegasan pernyataan Aki yang akan meninggal pesta itu menjadi sepi. Aki menanggapinya dengan senyuman.

“Berakhirlah perayaan yang mula-mula meriah itu. Akbar sangat gembira, karena banyak dapat permainan pemberian tamu-tamu. Karena sangat banyaknya itu ia tidak keberatan untuk menghadiahkan beberapa buah kepada adiknya Lastri. Sulasmi keheran-heranan masih, tapi Aki tersenyum mengejek ke arah tamu-tamu pergi.” (Aki, bagianlima)

Puncak cerita ini ketika tanggal 16 Agustus, tepat disaat orang-orang sudah mempersiapkan kematian Aki, tapi yang terjadi Aki tidak jadi mati. Hal ini membuat pandangan hidup Aki berubah kembali, ia mengakui kemurahan hati Tuhan dan memandang hidupnya lebih optimis. Juga memberi lagi pernyataan pada istrinya bahwa ia akan hidup hingga di umur enam puluh. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya di sekolah tinggi dan di fakultas hukum. Namun karena perkataan seseorang, Aki kembali berpegang teguh bahwa ia akan hidup seratus tahun lagi dan mengatakannya pada Sulasmi.

Aku mau hidup seratus tahun. Lima puluh tahun dari hidupku akan kuberikan kepada menjadi pegawai. Cukup? Nah, yang lima puluh tahun lagi akan kuper-gunakan untuk hidup sebagai akademikus.” (Aki, bagian delapan)

Di sini juga banyak pandangan-pandangan Idrus yang disampaikan melalui tokoh Aki. Seperti beberapa kutipan-kutipan berikut:

“mana yang lebih disukai Tuhan: sembahyang tunggang-balik lima kali sehari dan puasa setiap bulan Ramadhan, tapi berbuat banyak kejahatan atau tidak sembahyang dan puasa, tapi berhati baik yang tiada tandingan seperti Aki itu” (Aki, bagian satu)

“Penyakit bukan suatu keaiban, ke-matian bukan sesuatu yang menakutkan. Mengapa ragu-ragu berhadapan dengan kedua hal itu?” (Aki, bagian satu)

“Orang yang mati lebih berbahagia dari orang yang hidup, karena orang yang mati sudah ada tempatnya yang nyata: di surga atau di neraka. Tidak seperti orang yang hidup, yang selama hidupnya tergantung di awang-awang, sungguhpun ia kelihatannya berpijak di atas tanah” (Aki, bagian tiga)

“Hidup ini baru ada harganya, pikir Aki, jika kita mempertahankan hidup itu. Bukankah karena pertahanannya 13 tahun yang lalu, malaikalmaut melarikan diri daripadanya? la berjuang mati-matian dulu itu dalam batinnya untuk mempertahankan diri terhadap maut. Ia berjuang supaya sehat, supaya sakit paru-parunya hilang sama sekali.” (Aki, bagian delapan)

Mungkin melalui kata-kata tersebut Idrus ingin menyampaikan pandangannya bahwa hidup tidak perlu memikirkan kematian. Kematian ialah mutlak bagi setiap manusia, hanya saja waktunya yang tidak dapat ditentukan. Menurut saya, Idrus berani mengangkat cerita ini untuk membuka mata pembaca. Tapi, tetap saja hidup akan balance dengan iman kepada Tuhan, karena aspek ini memegang peranan penting sebagai pedoman hidup kita dan menghindari diri untuk berbuat yang tidak diinginkan. Mungkin hanya sekian yang dapat saya tangkap dari cerita ini, pastinya laporan saya ini masih banyak kekurangannya. Terima kasih.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Analisis Novel Aki at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: