Analisis Lapis Bunyi dan Lapis Arti Puisi

18 Desember 2011 § 1 Komentar

Puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapang

Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepipadangsenja

Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu

Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(Siasat Th IX, No. 442 1955)

 

Analisis Puisi

Puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar ini merupakan puisi yang ada pada tahun 1955, terdiri darilima bait dengan masing-masing bait terdiri atas empat baris. Puisi ini diterbitkan dari majalah Siasat sebagaimana yang tertera di akhir puisi. Berhubung puisi ini akan dianalisis berdasarkan strata norma, maka terdiri dari lapis bunyi dan lapis arti.

Lapis Bunyi, yang terdapat pada puisi ini pada bait yang pertama. Setiap barisnya terdapat kesamaan dengan bunyi /ng/, yaitu:

baris pertama: yang, terbaring

baris ketiga: lubang

baris kedua: sayang

baris keempat: sedang, perang

Bunyi yang dapat ditemui pada bait pertama ini ialah bunyi /u/ pada beberapa kata di tiap baris, uraiannya sebagai berikut.

baris pertama: sepuluh tahun yang lalu

baris kedua: bukan tidur

baris ketiga: sebuah lubang peluru

baris keempat: senyum bekunya mau

Namun, tidak terdapat rima yang sama seperti pada pantun ataupun sajak, lain halnya dengan bait kedua puisi ini di mana setiap akhir dari baris ini terdapat bunyi sama /ng/, yaitu:

baris pertama dan ketiga : datang

baris kedua: senapang

baris keempat: terbaring, sayang

Selain di akhir barisnya terdapat bunyi yang seragam, pada bait kedua puisi ini di baris pertama dan ketiga hampir mirip. Hampir seluruh baris dalam bait kedua terdapat kata ‘dia’, kecuali baris kedua.

Di bait ketiga baris pertama ada bunyi /h/ hampir disetiap kata, sehingga membentuk suatu bunyi yang padu. Sementara di baris ketiga ada kesesuaian bunyi /a/ dan /u/, yakni:

baris pertama: wajah sunyi setengah tengadah

baris ketiga: tambah beku di tengah derap dan suara merdu

Di bait keempat pada baris pertama terdapat kepaduan bunyi /u/ dari kata-kata dalam puisi ini hingga membentuk sebuah rentetan huruf u, yaitu:

baris pertama    : Hari itu 10 (dibaca sepuluh)  November, hujan pun mulai turun

Di baris yang lain banyak menggunakan bunyi /i/ dan /ng/, serta penggunaan /nya/ di akhir baris kedua dan keempat dengan rincian uraiannya sebagai berikut.

baris kedua: Orang-orang ingin kembali memandangnya

baris ketiga: Sambil merangkai karangan bunga

baris keempat: Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Pada bait kelima sebagai bait terakhir rincian bunyinya hampir mirip dengan bait pertama, hanya saja di akhir baris keempat memiliki kata-kata yang berbeda, tetapi sama dengan baris terakhir pada bait ketiga.

Lapis Arti, pada puisi Pahlawan Tak Dikenal ini setiap kata-katanya memiliki makna atau arti tersendiri, diksi-diksi yang digunakan pada puisi ini mengacu kepada kesan peperangan, pahlawan, pengorbanan, dan kematian. Untuk itulah diksi pada puisi menentukan pesan dan imajinasi penyairnya.

Bait pertama, ‘Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring’ berarti: kejadian ini terjadi pada tahun 1945 karena tertera bahwa puisi ini ditulis pada 1955, sosok dia mungkin ialah pahlawan karena sebelum membaca puisinya kita akan membaca judul puisi terlebih dahulu dan pahlawan ini dalam keadaan terbaring. ‘Tetapi bukan tidur, sayang’ berarti: bahwa pahlawan ini terbaring tetapi tidak tidur, melainkan telah mati/gugur. Kata ‘sayang’ sendiri sebagai penegasan kepada para pahlawan yang gugur dan tak dikenal. ‘Sebuah lubang peluru bundar di dadanya’ berarti: pahlawan yang gugur karena mungkin tertembak di dadanya saat ia melakukan perjuangan di medan perang. ‘Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang’ berarti: orang yang tengah perang itu telah gugur ketika perang masih berlangsung.

Bait kedua, ‘Dia tidak ingat bilamana dia datang’ berarti: karena si pahlawan itu bersungguh-sungguh menyerahkan hidupnya untuk berjuang hingga ia tidak tahu apa tujuan perangnya. ‘Kedua lengannya memeluk senapang’ berarti: maksudnya ia berperang dengan menggunakan senjata ketika berperang dan ketika ia gugur dalam keadaan memeluk senapan. ‘Dia tidak tahu untuk siapa dia datang’ berarti: hampir sama dengan sebelumnya bahwa pahlawan ini memang murni dan ikhlas untuk berperang, berjuang untuk negara tanpa tahu apa tujuan utama peperangannya. ‘Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang’ berarti: penekanan dan penegasan seperti pada bait pertama bahwa para pahlawan ini tidak sedang tidur tapi mereka telah gugur, pengarang begitu menghargai para pahlawan ini dengan menyebut kata ‘sayang’.

Bait ketiga, ‘wajah sunyi setengah tengadah’ berarti: menggambarkan keadaan saat pahlawan itu telah gugur dengan setengah tengadah, setengah mungkin mengartikan bahwa sebenarnya perjuangannya belum selesai saat ia gugur dalam peperangan. ‘Menangkap sepipadangsenja’ berarti: menurut saya senja berarti pagi dan pagi itu masih segar, segar itu masih baru yang dapat menganalogikan si pahlawan itu yang gugur dengan kesepian di tengah peperangan. ‘Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu’ berarti: dengan gugurnya si pahlawan itu maka keadaan saat lagi perang terasa akan kematian si pahlawan ini, jadi peran si pahlawan itu cukup berpengaruh. ‘Dia masih sangat muda’ berarti: sangat jelas bahwa pahlawan yang gugur ini bagai ‘senja’ atau memang masih muda usianya untuk gugur.

Bait keempat, ‘Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun’ berarti: penjelasan puisi ini ingin kembali memperingati kejadian pada 10 November 1945 saat banyaknya prajurit-prajuritIndonesiayang gugur. ‘Orang-orang ingin kembali memandangnya’ berarti: kemudian masyarakat mencoba untuk mengenang para pahlawan dengan memperingatinya dan merenungi kejadian tersebut. ‘Sambil merangkai karangan bunga’ berarti: terdapat rasa belasungkawa untuk menghormati pahlawan-pahlawan yang gugur. ‘Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya’ berarti: suatu kenyataan bahwa dalam tempo 10 tahun ternyata masyarakatIndonesiatidak mengenal para pahlawan yang gugur di tengah peperangan dalam usaha membela negara.

Bait kelima sendiri sebenarnya hampir mirip dengan bait pertama, penyair menyajikan seperti ini dengan maksud bahwa beliau sungguh-sungguh memberikan rasa simpati yang mendalam untuk para pahlawan pada 10 November 1945 yang gugur di tengah peperangan. ‘Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring’ dan ‘Tetapi bukan tidur, sayang’ berarti: penekanan bahwa pahlawan ini bukan sedang tidur, pahlawan ini sudah tidak hidup, penekanan bahwa pahlawan ini telah gugur. ‘Sebuah peluru bundar di dadanya’ berarti: mungkin peluru bundar menyatakan lukanya yang menjadi bukti dan saksi bagi bangsaIndonesiabahwa ia benar seorang pahlawan. ‘Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda’ berarti: usia muda untuk menjadi pahlawan sangat memiliki peran penting bagi kemajuan negara Indonesia ketika itu.

Toto Sudarto Bachtiar dalam puisi ini menyatakan simpati, bangga, dan menghargai atas perjuangan pahlawan-pahlawan di negeri ini. Kata-kata yang dipilih dalam puisi ini relative tidak konotatif sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dapat langsung dirasakan bagi pembaca atau pendengarnya.

Tagged: , ,

§ One Response to Analisis Lapis Bunyi dan Lapis Arti Puisi

  • xxx mengatakan:

    menurut KBBI, senja adalah waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam. Jadi bukan pagi tapi sore menjelang malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Analisis Lapis Bunyi dan Lapis Arti Puisi at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: