Analisis Cerpen Tegak Lurus dengan Langit

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Babak Terakhir dari Sebuah Kekacauan

Kesan pertama saya ketika membaca judul dari cerpen ini, mungkin salah satu cerita yang tidak terlalu ringan. Dengan mengambil judul “Tegak Lurus dengan Langit” saya juga tidak mengetahui makna sang pengarang mengangkat kata-kata tersebut menjadi judul. Rupanya setelah membaca, empat kata awal dan akhir dari cerita inilah yang menjadi judul cerita buah karya Iwan Simatupang, agak unik juga. Dan yang ada di benak saya, saya ingin bisa menulis cerpen seperti ini, dengan diksi yang pas dan menarik. Ya, saya sangat menyukai permainan kata dari Iwan Simatupang dalam cerpen ini, pilihan-pilihan kata yang digunakannya menarik. Selain itu bentuk cerpennya tidak sebagaimana cerpen yang pernah saya baca.Gayabahasa metafora dan terkadang hiperbola ditemukan dalam cerita ini, pengarang mengibaratkan sesuatu terjadi pada seorang manusia seperti benda yang ditemukan hampir di akhir cerita.

“Pandangan mata inilah terutama yang membuat tokoh kita bingung. Seolah kedua bola matanya adalah bara, berpijar hitam, masuk menerobos ke dalam seluruh tubuhnya.”

“Laksana pola listrik sejenis, elektron-elektron kedua pasang bola mata itu saling bertolakan. Tokoh kita tertunduk! la kalah Kedua bola matanya lari terbirit-birit ke motif-motif permadani di ba-wah telapak kakinya. Mata! Mata itu!”

Awal cerita ini dibuka dengan langsung masuk ke inti cerita, yaitu tentang seseorang yang membunuh ayahnya walaupun belum tahu motif apa yang dipakainya untuk membunuh. Dan ternyata sampai akhir cerita pun tidak diketahui apa motifnya membunuh. Iwan Simatupang sangat mempunyai ciri khas dalam karyanya, tokoh yang digunakannya tidak disebutkan namanya, khususnya dalam cerpen ini tokoh yang menjadi pusat cerita dinamakannya “tokoh kita”. Selain itu suasana yang dihadirkan dalam cerita ini biasa tapi dibuat sedemikian hingga tidak biasa, maksud saya seperti disebutkan dalam cerita ini bahwa sang ayah dari tokoh kita telah hilang selama bertahun-tahun, dalam realita tentunya ada yang seperti ini, tapi dibuat tidak biasanya oleh Iwan dengan menguak dan mendalami apa yang tokoh kita pikirkan, lihat, dan rasakan.

“Dia baru saja membunuh seseorang. Darah masih lekat di jari-jarinya. Belati masih ia genggam. Dia lari ke bukit itu, diburu tanya: Apa selanjutnya? Setelah berkali-kali belati itu ia dorong ke jantung sang korban.”

Pengenalan tokoh kita sendiri tidak langsung dihadirkan, sehingga yang pada awalnya saya membaca dengan biasa, ketika tiba-tiba dihadirkan dengan tulisan “tokoh kita” menjadi berbeda, sehingga saya pribadi berpikir Iwan Simatupang sastrawan yang berbeda.

“Suatu pagi, anak bungsu, tokoh kita, perlu sisir. la masuk bilik ibunya yang ada di ranjang sedang dipeluk dan dikecup habis-habisan oleh kenalan baik yang suka sering datang main bridge dan halma itu. Mereka bertiga serempak berteriak. Tokoh kita: terperanjat sangat tak percaya, sangat putus asa.” (Tegak Lurus dengan Langit)

Menurut beberapa sumber yang saya baca, Iwan Simatupang merupakan sastrawan yang menyajikan ceritanya dengan suasana mencekam, mungkin Tegak Lurus dengan Langit adalah salah satu dari sekian banyak karyanya. Cerita ini bisa dibilang sangat menyedihkan, seorang yang ditinggal hilang oleh ayahnya, kemudian kedua kakaknya yang dipenjara seumur hidup, sang ibu juga meninggal dunia, kemudian saat ia hendak menikah ternyata dibatalkan dan si calon mempelai wanitanya pada akhirnya pun meninggal. Dan semua itu karena satu perkara, hilangnya sang ayah. Bagai tak ada lagi tempatnya di dunia ini, hanya sebatang kara, tapi namanya hidup juga harus selalu dijalani dan ia akan mengakhiri kemelut dari hidupnya.

Di cerita ini, awalnya tokoh kita membenci ayahnya ketika sang ibu meninggal. Di bagian ini ada perulangan, yakni saat sang ibu mengatakan pesan terakhirnya kepada tokoh kita. Juga yang disampaikan oleh calon istrinya sesaat sebelum meninggal, agak benar juga menurut saya sepertigayafilmIndiayang sengaja dibuat kebetulan.

“Tetapi, mereka sekeluarga kini sudah me-nunggu lebih 17 tahun. Ibunya dalam pada itu sudah meninggal pula. Pesannya, “Kalau ayahmu pulang nanti, sampaikan salam saya. Sam­paikan juga, saya masih cin….””

“Ibunya seharian menangis, meraung-raung. Petangnya, ia meninggal, setelah dalam gaya film India meninggalkan pesan padanya, “Kalau ayahmu pulang nanti, sampaikan salam saya. Dan sampaikan juga, saya masih cin….””

Puncak dari cerita ini ialah kedatangan seseorang yang mengaku sebagai ayah dari tokoh kita. Bagaimana tidak mengejutkan, setelah semua kemalangan menimpanya, sang ayah barulah datang, menurut saya ini seperti cerita di sinetron-sinetron dan sang ayah seolah telah merancang semuanya, ia telah mengetahui dengan detail apa yang akan terjadi pada kehidupan keluarganya, kemudian ia kembali ke anaknya. Entah untuk berbuat apa dan apa maksudnya pula. Di cerpen ini juga tidak banyak kata-kata yang keluar dari kedua belah pihak sesaat kemudian tokoh kita menghabisi nyawa ayahnya.

Pada peristiwa pembunuhan itu, tokoh kita dalam suasana hati yang galau. Antara percaya dan tidak seorang pria tua di depannya benar ayahnya atau tidak, tetapi kehadirannya itu telah membuka lagi luka-luka dalam kehidupan malangnya. Tentu dalam hal ini tidak ada yang tidak emosi, hanya amarah yang ada dibenaknya. Mungkin apabila saya ada di posisi yang demikian akan sama, tapi tidak sampai membunuhnya juga karena tetap saja itu bukan posisi saya yang sebenarnya.

Iwan Simatupang dikenal sebagai sastrawan yang taat dengan filsafat eksistensialismenya, sebenarnya saya masih belum paham dengan filsafat tetapi karena eksistensialisme sendiri memiliki arti aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu itu sendiri, jadi menghubungkan dengan cerpen ini dalam hal pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh kita. Dimana ia memang tidak memikirkan hal yang dilakukannya apakah itu sebuah kebenaran ataupun kesalahan bagi dirinya, yang pasti kebencian dan sakit hatinya telah dibayar dengan tangannya sendiri. Mungkin ia sadar di mata orang lain yang dilakukannya jelas sebuah kesalahan, maka dari itu ia bermaksud menyerahkan diri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagi saya pribadi banyak hal-hal yang ditangkap dari cerpen ini, hanya saja saya masih membingungkan cara penyampaiannya karena ada hal-hal tersebut ada yang bertolak belakang. Misalnya, apabila saya merasakannya dari sudut emosional, saya rasa peristiwa saat tokoh kita membunuh (orang yang mungkin) ayahnya itu pantas saja, seperti yang telah saya sampaikan pula sebelumnya dengan keadaan yang demikian “sangat kacau” tentu emosi seseorang tidak dapat ditahan dan kalau sudah seperti itu hanya ada hawa nafsu yang menguasai diri kita hingga yang terjadi pastilah sesuatu yang tidak baik. Tapi hebatnya di sini tokoh kita akan mempertanggungjawabkan yang dilakukannya, beda dengan seseorang yang mungkin ayahnya itu tidak ada pertanggungjawaban. Intinya walaupun ia bersalah, akhirnya ia mendapatkan sebuah jawaban di babak terakhir dari sebuah kekacauan dalam keluarganya, yaitu kepuasan. Kemudian sisi lain yang saya baca, si  tokoh kita ini tidak memiliki cukup iman untuk menahan emosinya, seharusnya apabila ia bersedia ia dapat memperbincangkan dengan orang yang mengaku ayahnya itu apa alasan kedatangannya. Pastilah seseorang datang oleh sebuah alasan walaupun sudah terlambat, apalagi membunuh ialah dosa yang amat besar apabila tokoh kita masih berpendirian kepada Tuhan. Jadi, saya masih bingung apakah yang dilakukan oleh tokoh kita ini sebuah kebenaran atau kesalahan, saya juga tidak akan ambil pusing untuk memikirkannya.

Mungkin dalam pembahasan cerpen ini saya tidak menghubungkan dengan tahun pembuatan cerpen (1982), karena saya menitikberatkan pendapat saya pada ceritanya saja. Jadi, pesan yang saya dapat dari cerita ini ialah agar lebih taat beribadah kepada Tuhan, karena emosi yang kita rasakan segalanya tidak lepas dari iman kita kepada Tuhan dan kita hendaklah mempertanggungjawabkan sesuatu yang kita perbuat. Hanya sekian yang dapat saya tangkap dari cerpen ini, terima kasih.

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Analisis Cerpen Tegak Lurus dengan Langit at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: