Analisis Cerpen Senyum Karyamin

18 Desember 2011 § Tinggalkan komentar

Ketidakadilan yang Berbungkus Senyum

Pada awal cerita telah diketahui bahwa peran utama dalam cerpen ini ialah seseorang yang bernama Karyamin. Dalam anggapan saya, selama beberapa kali mendapati tugas cerpen yang menjadi tokoh utamanya ialah laki-laki, cukup unik. Karyamin yang memiliki pekerjaan sebagai penangkut batu kali, dalam cerpen ini diceritakan dalam satu waktu atau keadaan tapi dapat diketahui bagaimana kehidupan seorang Karyamin. Disamping menceritakan tentang Karyamin, dalam cerpen ini juga mencoba untuk mendeskripsikan sesuatu-sesuatu yang berada disekitarnya dengan sangat detail, sehingga saya yang membaca dapat mengimajinasikannya, tanpa keluar dari cerita inti tentunya. Misalnya pendeksripsian pada keadaan ketika Karyamin mengangkut batu dari keranjang kemudian terjatuh, atau ketika mendeskripsikan keadaan Karyamin.

“Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi di lehernya uncul menyembul kulit” (Senyum Karyamin, hlm: 1)

Dalam cerpen ini Karyamin sedikit memusatkan perhatiannya oleh sebuah burung paruh udang yang terbang disekitarnya. Mungkin pikirnya burung tersebut agak mengesalkan karena telah membuatnya jatuh, tapi kemudian rasa kesalnya luntur saat si burung ini mencoba menangkap seekor ikan dari danau. Lebih jauh Karyamin memikirkan tentang si burung ini, bahwa sama dengan dirinya burung ini tengah mencari makan untuk anak-anaknya. Menurut saya, pengarang menghadirkan burung paruh udang ini untuk mencitrakan diri seorang Karyamin lebih jauh, di sini Karyamin memang terlihat cukup perhatian dengan seekor burung, dan mungkin Karyamin terlalu pemikir.

“mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah raning yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.” (Senyum Karyamin, hlm: 4-5)

Di kutipan ini ada kalimat yang menurut saya menarik, yaitu Karyamin merasa iri hati. Iri dalam artian ini yang saya tangkap adalah Karyamin seolah-olah ingin menjadi seperti burung paruh udang tersebut yang dengan menggunakan sayap dan paruhnya untuk membawa makanan ke tempat tinggalnya, hanya terbang dan menangkap ikan kemudian pulang ke sarangnya dan menikmati makanan bersama anak-anaknya. Sementara Karyamin saja yang sudah susah payah merauk batu yang tidak memiliki banyak untung belum tentu mendapat uang, apalagi untuk makan anak-isterinya.

Cerpen yang berjudul Senyum Karyamin di sini rupanya memang penekanan khusus pada senyum si tokoh Karyamin, seorang pengumpul batu. Mungkin diawal-awal saya telah mengira cerita ini akan berjalan ceria dan ringan karena kata “senyum” merupakan kata positif, memang benar positif tapi setelah membaca ini dapat saya lihat Karyamin selalu membawa sebuah senyuman untuk sedikit meringankan hidupnya yang ‘berat’.

“Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah symbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakkan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.” (Senyum Karyamin, hlm: 3)

Pengumpul batu saja dapat tertawa bergembira dalam pekerjaannya yang berat, yang merasakan lapar teramat sangat setelah beberapa hari tidak makan karena batunya yang tidak terjual dan juga kerjanya yang sangat membuat lelah setiap hari, apalagi saya yang hanya membacanya saja. Senyum selain merupakan ibadah yang paling murah, juga dapat membuat hidup tidak terlalu berat karena banyak sekali manusia (termasuk saya) yang selalu mencemaskan hidup hingga tidak melihat sekitar dan selalu murung. Kembali pada cerita ini, dalam keadaan lapar dan kunang-kunang pun Karyamin tetap tersenyum, ia tidak mau menambahkan beban pada dirinya dan juga pada Saidah yang selalu dihutanginya dan teman-temannya.

“          ”Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat Karyamin bangkit.

“Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”

“Iya Min, iya. Tetapi….”

Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi Saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang berhasil didorongnya ke dalam.” (Senyum Karyamin, hlm: 4)

Karyamin berwatak sangat peduli menurut saya lewat kutipan ini, tapi pada kata ‘Adayang mengganjal di tenggorokan yang berhasil didorongnya ke dalam’ saya kurang mengerti maksudnya. Setelahnya Karyamin berjalan pulang tanpa alasan, mungkin juga karena sudah jadi takdir pengarang sehingga Karyamin akhirnya pulang dengan alasan menemui istrinya. Sebelumnya, pada awal cerita dikisahkan pula tentang isteri Karyamin yang sering didatangi oleh beberapa pria dengan alasan klise, entah itu benar atau tidak karena hanya anggapan teman-teman Karyamin.

“          ”Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.” (Senyum Karyamin, hlm: 2)

Walaupun tidak diceritakan oleh pengarang tentang watak dari istri Karyamin, menurut saya ia cukup beruntung memiliki istri yang menjadi perhatian oleh beberapa orang. Meski berbahaya, setidaknya Karyamin yang seorang tukang angkut batu itu memiliki istri yang sampai temannya saja iri padanya. Di akhir kisah, Karyamin yang hendak kembali kerja karena tidak tahu apa gunanya untuk pulang dicegat oleh Pak Pamong. Ia bermaksud meminta sumbangan pada Karyamin, tapi ia mengira bahwa Karyamin menghindarinya.

“          “Di gerembul ini hanya kamu yang belum berpartisiasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kau persulit.”” (Senyum Karyamin, hlm: 6)

Kemudian Karyamin tersenyum dan Pak Pamong merasa tersindir. Karyamin justru tertawa sekerasnya, ia sempoyongan, dan akhirnya mati jatuh ke lembah. Menurut saya, senyum Karyamin yang terakhir itu memiliki makna. Yaitu untuk makan sehari-harinya saja bagi Karyamin belum tentu bisa, jelas di cerita ini juga digambarkan bagaimana Karyamin matanya kunang-kunang, telinganya bising, perutnya bunyi karena lapar. Dengan keadaan yang demikian, ditambah ada seseorang yang menagih uang padanya pastikanmengundang emosi. Bila dipikir, apa juga yang dapat ia beri untuk menolong orang-orang kelaparan itu? Batu? Padahal Karyamin juga termasuk orang-orang kelaparan.

Jadi, menurut saya cerpen Senyum Karyamin ini lebih menekankan pada senyuman Karyamin yang terakhir, di mana ketidakadilan terjadi padanya yang segelintir dari masyarakat miskin. Ketidakadilan sang tengkulak yang menggelapkan uang untuk Karyamin ataupun pemanggul batu lainnya juga ketidakadilan saat menagih uang pada Karyamin, padahal ia juga kelaparan. Ia hanya dapat tersenyum menerima nasibnya. Mungkin hanya sekian yang dapat saya tangkap dari cerita ini.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Analisis Cerpen Senyum Karyamin at Sementara.

meta

%d blogger menyukai ini: