Galau Ala Kantoran

29 September 2015 § Tinggalkan komentar

Sudah lama sekali saya gak isi blog ini. Ya memang gairah untuk kembali menulis belum ada. Terlebih ke curhat sih sebenarnya. Saya punya beberapa teman (dan tempat) yang dapat saya andalkan untuk curhat.

Lalu, apa yang membawa saya ke sini?

Mungkin dapat disebut bahwa saya baru mau menulis jika hal-hal menyedihkan dan sejenisnya datang kepada saya. Anggaplah saya mendukunkan blog ini. HAHA. Benar kok, sekarang saya sedang merasa…. Hmmm… Apa ya yang tepat?

Sedih. Deg-degan. Bingung. Blank. Kesal. Gemas.

Yah, sejenis itu.

Ada masalah yang terjadi di tempat saya bekerja sehingga kantor memberlakukan program yang sangat dihindari. Program tersebut mungkin menjadi momok yang menakutkan bagi keluarga si pekerja (kalo pekerja sendiri, ya pastilah ya). Terdiri dari 3 huruf vokal: P-H-K. Pemutusan Hubungan Kerja.

SAYA KENA PHK?

Enggak tahu.

PHK ini masih berlangsung.

Saya akan cerita awalnya. Tapi sekarang sudah waktunya pulang. Sebentar ya..

TaureaNadia – Hari 1 – Perbincangan Seru di Kedai Roti Bakar (1)

21 April 2015 § Tinggalkan komentar

Selamat Hari Kartini! Tidak terasa, setahun yang lalu saya buat sebuah proyek pribadi dalam rangka naungan zodiak saya sedang berjalan; Taurus. Tetapi, proyek itu gagal karena si pencetus dan peserta satu-satunya tengah sibuk bergumul dengan tugas akhir kuliah.

Tahun ini, orang yang sama, dengan tak sengaja, kepingin menulis lagi. Berhubung baru saja sekitar satu jam yang lalu di perjalanan menuju pulang, saya dan rekan saya bercerita perihal menulis.

Awalnya rekan saya mengeluhkan tak ada waktu tuk menulis, walhasil mengingatkan saya juga yang tak menyempatkan waktu tuk mengunjungi blog. Tak sangka, sejam kemudian saya berusaha mengingat kata kunci akun blog ini. Menyenangkan.

*

Saya mundurkan waktu ke dua jam yang lalu.

Saya dan dua rekan kerja saya, Aya dan Inas, sedang berada di kedai roti bakar di Ciputat selesai melahap martabak mie. Kemudian tiba-tiba saja, Aya bertanya, “Nad, kapan lo mulai pakai jilbab?” pertanyaan yang sudah lama tidak ditanyakan orang pada saya.

Saya berpikir sejenak. “Hmm, kuliah deh, Ay. Kayaknya.” ujar saya, ragu. Kemudian Inas menimpal, “Gue waktu TK.” sontak saya melongo, Aya pun agak kaget.

“Serius lo? Buset, bocah banget! Kok bisa?” Kemudian Inas bercerita bagaimana awal mula ia memutuskan berjilbab. Inas mengenakan jilbab sejak TK, namun ia memantapkan untuk istiqamah saat SMP. Buat Inas, jilbab itu benteng bagi dirinya sendiri. Inas pun cerita, ketika awal ia masuk kuliah, ada temannya yang mengatakan, “Lo ga pantes pake jilbab!” karena mendengar Inas berteriak, yang mungkin menganggap orang yang beragama Islam tak pantas seperti itu. — Inas berkuliah di salah satu universitas kepunyaan media besar di Indonesia yang mayoritas mahasiswanya etnis Tionghoa dan pemeluk agama Islam bisa dikatakan minoritas.

“Kalo lo, Ay, kapan?” tanya Inas pada Aya. Aya mengatakan ia mulai berjilbab saat SMA. Aya juga ikut dalam kegiatan Rohis. Di antara kami bertiga, Aya lah yang dapat dikatakan paling syar’i. Dengan jilbab menutupi dada, selalu berbawahan rok, dan tak lupa berkaus kaki. Bisa dikatakaan sangat kontras dengan saya. Akhirnya saya angkat suara.

“Awalnya gue pake jilbab, itu karena Nyokap dan Adek gue yang duluan berjilbab. Gue ngerasa malu aja karena gak ikutan. Walhasil gue juga pake jilbab. Tapi, gue masih lepas-pakai. Bahkan selalu terbersit bagi gue buat lepas jilbab aja. Abisnya, kelakuan gue masih kayak gini.. Gak bener. Malu aja sama diri sendiri.” ujar saya, jujur.

“Nad, justru ketika lo pakai jilbab, itu sebagai pengingat diri saat lo melakukan sesuatu. Lo bisa berpikir, ‘Eh, gue kan udah pakai jilbab, masa gue begini, gue begitu?’ gitu. Lagipula, berjilbab kalau nunggu siap, pasti gak akan siap. Jadinya gak akan siap sampai lo meninggal.” Aya menjelaskan pada saya dengan detail. Saya mangut-mangut meresapi.

Kalimat Aya barusan jadi mengingatkan saya sendiri, dengan keluarga. Kemudian saya mengatakan suatu hal.

“Gue ya, Ay. Gue kepengen banget.. Asli.. Kepengen banget bisa berpakaian kayak lo. Jilbab menutupi dada, pakai rok… Hmm, tapi gimana ya? Gue gak tau gimana mulainya.” ujar saya sambil sesekali menyesap es jeruk yang sudah tak lagi dingin.

“Nad, awalnya tuh gue kan gak bisa pakai rok. Gue gak terbiasa. Gue selaaaaaluuuu pakai celana jins. Karena gue pernah waktu kuliah, gue harus liputan dan pakai rok… Buuuseeeet, ribet banget rempong! Tapi waktu gue coba-coba, eh.. Ternyata lucu juga.. Yaudah akhirnya gue biasain pakai rok.” kata Inas kepada saya.

Kemudian saya melihat cara berpakaian saya. Jilbab segi empat yang saya sampingkan, belum menutupi dada. Baju kemeja dengan ikat pinggang kecil di pinggul yang saya gunakan untuk membentuk sedikit lekukan, dan celana bahan berwarna abu nyaris mencetak jelas paha saya. Anjir.

*

Cerita pertama sekian dahulu. Saya belum cuci muka dan sikat gigi..

TUMBLR GUE LUPA PASSWORD DAN GAK BISA LOG IN! OTOMATIS BAKAL NULIS DI SINI AJA.

17 Desember 2014 § Tinggalkan komentar

Selamat tinggal, Tumblr. *emot nangis*

Meja Kerja Editor Bahasa

17 Desember 2014 § Tinggalkan komentar

Aku akan mendeskripsikan ‘wilayah’ bekerjaku. Aku berada di sebuah ruangan yang terdiri dari kubikel-kubikel, kadang lebih terlihat seperti warnet.

Aku duduk di sebuah kursi kerja yang tidak empuk, tapi lumayan lah. Mejanya berwarna hitam dari kayu. Cukup lebar dan panjang. Kemudian ada sebuah layar komputer berwarna hitam cukup besar, keyboard, mouse. Di layar komputernya terdapat tiga sticky notes yang tertulis hal-hal untukku sendiri agar tidak lupa, notes-nya warna merah muda seperti warna kesukaanku. Di sebelah kiri tuts keyboard terdapat smartphone dari Cina milikku yang dibelikan Ayah 9 bulan lalu, serta terdapat sebuah headphone warna merah yang kubeli dekat kantor seharga tiga puluh ribu rupiah.

Di sebelah kananku, terdapat buku catatan berwarna ungu dengan corak bunga-bunga –kupakai untuk mencatat apa pun dan ini baru minggu lalu kubeli di sebuah pusat perbelanjaan besar di Jakarta dengan harga kruang dari dua puluh ribu rupiah, pulpen warna merah untukku memerika pekerjaan, botol minum Tupperwear berwarna pink yang diberi oleh kantorku dalam rangka resolusi sehat 2015, sebotol Vaseline petroleum jelly –kubeli dari online shop yang dijual setengah harga dari harga aslinya (bahkan sudah tidak dijual di apotek, entah mengapa!), satu saset kopi bubuk instan, sebuah boks tabung tanpa tutup untuk stationery yang isinya pulpen hitam, pensil 2B, penghapus, gunting, stabilo kuning, spidol merah dan biru, staples, clips, Hansaplast, dan lip balm. Tidak jauh dari sana terdapat tissue dengan boksnya berwarna kuning serta sticky notes berwarna merah muda yang masih kosong, dan buku-buku.

Terdapat tiga tumpuk kertas draft untuk buku yang akan terbit; dua di antaranya sudah kubaca, yaitu sebuah buku remaja dari luar negeri—karena cukup tebal, dibuat menjadi 2 tumpuk. Serta satu draft novel yang akan diterbitkan tahun depan, penulisnya seniorku ketika kuliah (tapi angkatan kami terpaut lebih dari satu dekade) dan aku ditawarkan oleh temanku yang seorang editor untuk membacanya. Di sebelahnya, ada empat buah buku remaja dari luar negeri—buku yang tadi kusunting ialah seri keenam dan sisanya sudah diterbitkan, dua buah kamus besar (yang satu kamus tesaurus dan satunya kamus bahasa Inggris-Indonesia) dan sebuah novel bersampul warna cokelat dan ada gambar daun kering.

Seperti itu detail meja kerjaku. Bagaimana denganmu?

(Ceritanya) Ulasan Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

12 Desember 2014 § Tinggalkan komentar

11 Desember 2014,

Adalah salah satu hari di tahun ini yang paling saya tunggu karena isu Supernova akan diangkat menjadi film sudah terdengar setahun lalu, saat film Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (TKVDW) tayang. Film TKVDW buat saya sendiri (yang nggak baca novelnya tapi tahu isi ceritanya) adalah film yang menakjubkan dan berhasil menutup tahun 2013 dengan sangat luar biasa! Berbekal dari kekaguman saya akan suksesnya Soraya Films mengalihwahanakan 5cm dan TKVDW, tentu ekspektasi saya terhadap Supernova cukup tinggi. Ditambah, novel yang akan diangkat adalah Supernova, yang menjadi gebrakan baru pada 2001 karena pada saat itu belum (banyak) ada penulis yang berani menulis dengan bahasa sains yang njelimet. Serta, Dee, dikenal lebih dulu sebagai penyanyi tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku. Pada tahun itu, saya masih SD dan pernah mendengar bahwa Supernova memang meledak di pasaran. Tapi, sebagai anak SD, saya tak peduli dan berpikir “Ah, paling terkenal karena penulisnya adalah penyanyi.”

Pada 2012, Supernova Partikel terbit dan cukup ramai dibicarakan di Twitter. Saya awalnya tetap tidak tertarik membeli dan membaca, tetapi seorang teman yang bernama sama dengan saya mengatakan bahwa karya Dee sangat layak untuk dibaca. Dia pun terus menerus menekan saya untuk mencoba membaca karya Dee. Akhirnya saya mencoba jajal dengan Perahu Kertas dahulu (yang saat itu juga difilmkan) dan buat saya buku tersebut bisa membuat saya jatuh hati pada Dee. Kemudian, saya pun mencoba membaca Partikel. Hasilnya? Waw. Di Goodreads saya beri 5 bintang untuk buku tersebut. Selanjutnya, saya pun satu per satu baca dari KPBJ, Akar, dan Petir.

Hasilnya? Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) membuat saya jatuh cinta dengan semua tokoh di dalamnya, terlebih pada Diva dan Gio. Setelah membaca itu, saya bertanya sendiri dalam hati “Apa mungkin ini bisa diangkat jadi film? Kayaknya akan sulit mencari sosok Diva. Dia harus lebih dari spesial dan istimewa.” dan di akhir 2014 pun pertanyaan saya terjawab. Film Supernova rilis, kemarin.

*

Ferre

Dalam 3 tahun, 3 kali melihat Herjunot Ali sebagai pemeran utama pria, cukup bosan tapi memang harus diakui bahwa aktingnya sangat bagus. Tetapi Junot buat saya tidak berhasil menjadi Ferre yang jatuh cinta pada Rana, Ferre di film ini tidak saya lihat sebagai Ferre yang merasa tertekan karena Rana memiliki suami, dan adegan bersama Rana tidak ada yang terlihat klik. Namun, berbeda ketika Ferre bertemu Diva. Buat saya Junot lebih berhasil ketika beradegan dengan Diva. Akting Junot di Supernova masih di bawah ketika dia bermain di TKVDW dan 5cm. Saya membaca atau mendengar entah dari mana saya lupa, Junot memang memiliki kontrak 6 film bersama Soraya Intercine Films, jadi ini sudah setengahnya. Apakah film Soraya selanjutnya kembali menampilkan Junot sebagai pemeran utama? Kita tunggu saja tahun depan.

Rana

Rana yang diperankan oleh Raline Shah menurut saya kurang dapet dari sisi seorang jurnalisnya. Kurang nerd dan Rana di sini terlalu cantik. Dalam bayangan saya ketika membaca novel ini, Rana adalah perempuan berkaca mata yang tidak doyan dandan dengan rambut kuncir kuda. Tetapi pada filmnya, Rana terlihat sangat berkelas. Tak ada adegan Rana-Ferre yang menyatu, tetapi ketika Rana berkomunikasi dalam hati itu baru saya dapatkan feel-nya. Adegan terbaik Raline dalam film ini ialah ketika dia menangis tersedu-sedu saat dipeluk Arwin, ketika akan melepaskannya. Ketika membaca novelnya, saya menangis, dan di film ini pun demikian.

Arwin

Saya pribadi belum menikmati setiap peran yang pernah Fedi Nuril perankan dalam film, sampai ke Supernova. Menjadi seorang suami yang sangat mencintai istri, sukses, dan berasal dari keluarga terpandang, mungkin bagi saya pribadi Fedi tidak sesuai untuk kriteria Arwin. Saya melihatnya seperti banyak tatapan kosong saja. Tetapi, ada dua adegan yang membuat saya kagum dengan Fedi Nuril dan saya akui sangat baik. Adegannya ialah saat Arwin emosi dan akan menembak Ferre dalam mimpi Rana. Adegan kedua ialah ketika Arwin mengetahui istrinya selingkuh dan memeluk Rana serta berkata bahwa dia merelakan Rana dengan Ferre. Sepertinya seisi bioskop juga melelehkan air mata, begitu juga dengan saya. Kalimat yang Arwin ucapkan di sana sangat indah dan diperankan Fedi Nuril dengan sangat baik.

Diva

Ketika disebutkan bahwa Paula Verhoeven yang akan memerankan Diva di film ini, saya langsung mencari tahu siapa dia. Setelah melihat, saya menurunkan ekspektasi saya karena saya tahu ini adalah film pertamanya. Ketika membaca komentar miring dari beberapa komentar tentang peran Paula, saya justru semakin menantang diri untuk berekspektasi lebih tinggi. Akhirnya sepanjang saya menyaksikan film itu, saya rasa Paula Verhoeven cukup berhasil menjadi Diva. Tidak terlalu memukau memang, tapi tidak seburuk yang orang komentari, khusus untuk saya. Diva yang saya bayangkan terjelma sempurna dalam bentuk visual akhirnya. Di bayangan saya Diva memang dingin, kaku, dan tidak banyak bicara tetapi sekali bicara menjadi sangat dalam maknanya. Paula Verhoeven berhasil membuat Diva benar-benar misterius sebagai Supernova.

Dimas

Siapa yang akan menyangka seorang Hamish Daud menjadi Dimas? Dalam bayangan saya tidak ada yang kebule-bulean. Saya mengunderestimate Hamish dalam menjalankan peran sebagai Dimas, saya juga tidak berharap Dimas memukau karena fokus cerita ialah Diva. Ternyata? Waw, di luar dugaan! Hamish Daud sangat berhasil. Cara dia berperan sebagai gay jenius dengan tatapan dalamnya berhasil membuat penonton di dalam bioskop berteriak ketika mengetahui bahwa Dimas dan Reuben penyuka sesama jenis. Saya puas dengan peran Dimas di sini!

Reuben

Saat disebut bahwa peran Reuben akan diambil oleh Arifin Putra, saya langsung berkomentar dengan kesal dan gemas, “Kenapa gak jadi Ferre aja siiiiih?!” Berdasar film yang pernah dia perankan, Arifin memang membuktikan bahwa aktingnya sangat baik. Maka dari itu, rasanya sampai sekarang masih gemas bahwa bukan Arifin Putra yang menjadi Ferre. Tetapi, Reuben yang sangat jenius pun diperankan sangat baik dan chemistry antara pasangan gay ini terasa sekali. Nerd-nya ada, dialog antara Reuben-Dimas berisi, emosi cinta homoseksual, dan gairah saat menulis ceritanya pun luar biasa!

Dari segi visual, seperti pada 5cm dan TKVDW, dalam Supernova pun pengambilan gambar dilakukan tidak main-main. Pemandangan laut, tebing, perkotaan, disajikan dengan sangat indah. Pemilihan tempat yang berkelas, furnitur-furnitur yang terdapat di dalam film hingga ke pensil yang digunakan Ferre-Rana pun baik sekali. Audio dengan suara menggelegar membuat emosi naik turun, was-was, dan jantung deg-degan pun sangat patut ditepuktangani dengan keras, dan lagu-lagu Nidji (meskipun saya sudah bosan 3 film Soraya Intercine Films soundtrack­nya Nidji lagi, Nidji lagi) masuk ke dalam film dan melebur menjadi cerita.

Hal yang menarik dari film ini, berhubung bergenre sci-fi, terdapat animasi-animasi yang dibuat seperti pada saat Dimas-Reuben mengalami badai Serotonin dengan animasi burung-burung terbang, atau molekul-molekul kecil. Animasi terbaiknya ialah saat diceritakan mengenai dongeng kesukaan Ferre kecil, yaitu Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Saya sangat senang karena animasi seperti itu dapat dihadirkan di dalam film. Sangat. Sangat. Senang!

Film ini dibuka dengan sangat baik melalui prolog dari Supernova, dari awal pertemuan Reuben-Dimas menarik, berlanjut dengan percintaan terlarang Ferre-Rana agak menjenuhkan tapi beruntung karena diselamatkan dengan sinematografi sempurna, ketika konflik menuju puncak baru terasa kembali tegang dan puncak konflik tervisualkan dengan begitu apik. Diteruskan menuju akhir cerita yang buat saya alurnya menjadi agak aneh antara terlalu diburu-buru atau justru beku karena ending film ini dibuat agak berbeda dari cerita pada novel. Untungnya tidak merusak cerita.

Secara keseluruhan, Supernova sangat layak untuk disaksikan. Penonton di sebelah kiri saya sepanjang film berlangsung terus berkomentar “Supernova itu siapa? Ferre bukan sih? Eh apa Diva? Ih ini kok aneh banget deh.” yang buat saya itu tandanya film ini berhasil membuat penonton berpikir karena keluar dari bioskop masih akan mencari tahu, penasaran, bertanya-tanya, akhirnya tidak akan sulit untuk dilupakan. Dari skala 1-10, saya beri 8.3 untuk Supernova.

Pertanyaannya: Apakah seri Supernova akan diangkat ke layar lebar juga? Saya tidak ingin berekspektasi. Apalagi Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang mengambil latar yang sangat banyak di negara lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan sih, karena KPBJ saja bisa, kan?

Terima kasih untuk Dee yang telah melahirkan Supernova, terima kasih Soraya Intercine Films yang telah membuat para pembaca Dee menyaksikan sosok Ferre-Rana-Diva dalam bentuk visual. Meskipun sedikit kecewa karena tidak ada Gio. Semoga proyek film selanjutnya akan kembali meledak seperti sebelumnya. J

Hari 8 – Taurean – Kamu adalah

28 April 2014 § Tinggalkan komentar

Ketakutan terbesarku adalah ketika kamu dan aku berselisih paham. Setelah beberapa bulan lalu, baru malam tadi aku menangis hingga tersesak seperti dulu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut ditinggalkan. Aku takut dengan akhir yang menyesakkan. Aku takut akan semua itu..

Sayang, aku ingat saat kita berkata bahwa baik kamu ataupun aku telah lelah untuk kembali patah hati, lelah menata hati yang patah tadi, lelah membiasakan diri dengan sosok baru, lelah untuk menjalani hubungan baru. Kita sama-sama ingin mengakhiri pencarian kita, bukan? Kamu melengkapiku.

Mau sehebat apapun amarahmu, amarahku, tidak sampai hati aku memilih untuk berhenti. Tidak sekalipun. Mungkin tadi kita hanya sama-sama saling merindu. Kita tau saling membutuhkan, sayang.

Entah apa jadinya aku. Kamu yang mengulurkan tangan ketika aku hampir terjatuh dalam sebuah jurang. Kamu yang menopang dan memapahku saat aku terluka. Kamu yang menyeka air mataku yang tak berguna. Kamu yang menamparku agar sadar pada sebuah kenyataan. Kamu yang kini selalu menjadi alasan untuk aku mengentaskan semua masalah. Kamu menguatkan aku.

Saat aku menuliskan ini, aku terbayang pada sosok wajahmu, teringat saat kamu memelukku, ingat bagaimana kita tertawa. Kita bahagia, sayang. Maka, apa alasanku untuk menyiakanmu? Bahkan aku selalu meminta pada Tuhan biar kita dapat selalu saling menjaga.

Aku sayang kamu. Teramat sangat.

Untuk Ardy.
Maafin aku.

image

Perasaan yang Tiba-tiba.

27 April 2014 § Tinggalkan komentar

Hai, selamat sore.

Saya menulis ini di luar dari self project ya..

Mungkin hampir di setiap bulan, ada saatnya saya benar-benar melankolis. Perasaan saya bisa tiba-tiba sensitif, menjadi begitu perasa. Saya tidak mengiyakan pun menolak bahwa sekarang sedang melankoli. Sesungguhnya, perasaan seperti ini ada baiknya serta tidaknya. Baiknya, saya bisa memanfaatkan untuk produktif menulis (berhubung saya sudah lama sekali tidak menulis dan membaca karena pikiran saya sedang fokus ke skripsi). Tidak baiknya, saya terlalu mengeruk perasaan saya hingga ke daging dan tulangnya. Membiarkan perasaan ini menjadi tangis dan sakit sendiri. Alasan dari itu semua apa? Adalah entah.

Awalnya, pernah saya kira bahwa saya sedang dalam masa sindrom pra-menstruasi. Namun, sampai saat ini saya rasakan.. Toh, ternyata waktunya tidak pas. Kemudian saya berasumsi bahwa karena hubungan saya dengan orang-orang sekitar sedang tidak begitu baik. Entah saya sedang bertengkar dengan seseorang atau pun sedang merindukan seseorang. Pernahkah kamu merindukan seseorang hingga kamu marah sendiri dibuatnya? Saya pernah. Maka, anggapan itu saya simpan terlebih dahulu. Kemudian saya berpikir lagi tentang faktor apa yang membuat perasaan keperempuanan saya begitu memancar. Saya menemukan bahwa situasi alam sangat berpengaruh. Saya mungkin pemerhati alam, saya penikmat panorama, saya pemuja matahari (seperti dalam beberapa posting saya). Saya mengamati hari ini, sedari pagi matahari tidak begitu cerah, awan pun abu, menjelang siang pun turun hujan. Kemudian saya menutup jendela sehingga kamar menjadi agak remang. Tiba-tiba perasaan saya meremang juga.

Lalu saya mengikuti perasaan yang tiba-tiba ini, saya ikuti dengan membuka linimasa di Twitter, membuka laman di Tumblr, membaca sebuah posting yang memang agak menyentuh.. Kemudian mata saya membasah. Semakin membaca tulisan lain, air mata saya membendung di ujung, dan pada akhirnya tumpah. Lalu saya menangis. Karena apa? Karena Entah.

Saya biarkan diri saya menangis, saya tidak memberhentikannya. Hingga air mata saya mengering. Hingga mata saya merasa cukup untuk menumpahkan terjunnya, dan terutama hingga perasaan saya lega. Ketika menangis tadi, memang saya merasa sakit hingga menggores tulang belulang, mengoyakkan daging, dan mengelupaskan kulit. Namun setelah berhenti, perasaan yang tiba-tiba tadi meremang menjadi tenang. Saya tutup mata saya dan menarik napas dalam-dalam…. Kemudian ada potongan-potongan gambar sendu entah tentang apa dalam pikiran saya. Menahan nafas sampai tak kuat lagi untuk menahan. Lalu saya embuskan dengan perlahan sambil membuka mata. Perlahan, potongan gambar-gambar sendu menjadi silau dan berganti dengan matahari. Hingga embusan napas saya habis, saya kembali memejam. Ketika memejam, sebuah gambar muncul dalam benak saya. Gambar tersebut adalah padang rumput yang hijau membentang sangat luas, dengan bukit di ujungnya, kemudian langit biru begitu indah, awan putih begitu terang, saya mendengar kicauan burung yang diikuti suara angin yang meniupkan rerumputan. Matahari, di atas sana seolah menghangatkan saya, melindungi saya. Ia menjaga. Saya tersenyum. Perasaan saya membaik seketika.

🙂