asdfghjkl

13 Juni 2017 § Tinggalkan komentar

“Should I give up?”

“I think I can’t”

“It’s better to give up maybe..”

I just can’t hold my tears everytime my mind said that. 내 마음 아파 ㅠㅡㅠ

But when I wanna give up, I remember him. I should’t give up. Because I love him. I wanna live for a long time with him. Can I? ㅠㅡㅠ

포기하지 마세요! 

Resmi 25 :)

11 Mei 2017 § Tinggalkan komentar

Saat pos ini diterbitkan, umurku sudah resmi 25.

11 Mei dua puluh lima tahun yang lalu, selepas Maghrib, saya lahir di dunia.

Saya membayangkan bagaimana saya waktu keluar dari rahim ibu secara normal.

Alhamdulillah saya sehat. Disusui oleh ibu sampai berumur 2 tahun.

Di umur 4 atau 5 ketika saya hijrah ke kota sekarang saya tinggal, saya ingat persis dulu dibujuk ikut TPA untuk belajar mengaji. Saya tapi memilih diam seribu bahasa. Tidak mau buka mulut. Hingga orangtua saya geram sekali. Saya dicelupkan ke dalam bak mandi dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Meski begitu, tidak lantas buat saya buka mulut. Hingga akhirnya guru itu menyerah. Maaf ya ibu guru. Taunya ibu guru tersebut tahun lalu bertemu ibu saya dan masih ingat wajah ibu dan mengenalinya. Luar biasa sebegitunya saya dikenang :))

Seingat saya sewaktu kecil, saya lebih sering dibelikan baju lelaki, sepasang dengan kakak. Toh, ibu pernah cerita saat dalam janin, saya awalnya diprediksi laki-laki. Tontonan, bacaan, mainan pun juga ikut dengan kakak. Tapi saya masih dibelikan Barbie, Sailormoon, dan Doraemon kok.

Kejadian yang sangat saya hapal, dulu ketika Internusa masih ada di Bogor, saya merengek ke ayah untuk dibelikan Barbie. Saya menarik tangan ayah, tanpa saya ketahui ternyata yang saya ajak jalan sambil merengek adalah orang asing. Benar-benar orang asing. Bapak berkulit hitam, pelontos, bukan orang Indonesia. Lalu saya panik sampai akhirnya menangis saat akhirnya bertemu ayah.

Kejadian lain, saya pernah sebal sama teman sendiri karena dia nyebelin dan cerewet. Kakak saya tau. Lalu saat kami main, saya dan kakak sedang sembunyi di got yang kering. Lalu entah bagaimana, saya ambil batu dan melempar ke arah teman yang saya sebelin itu. Jedor! Jidatnya berdarah. Maaf ya teman.

Di ulang tahun ke-5 saya rayakan di TK dengan kue ulangtahun Sailormoon. Ketika ditanya apa cita-cita saya, jawaban saya adalah: Saya mau jadi Maisy! Iya. Maisy yang penyanyi cilik dulu itu. Idola pertama saya. Hingga akhirnya Sherina muncul.

Banyak memori masa kecil saya. Mulai dari saya pecicilan hingga jatuh dan hidung saya lukanya membekas hingga sekarang, sampai kejadian saya sedang main petak umpat dan melihat bayangan hitam yang sepertinya makhluk lain. Hahaha.

Yang saya tau, saya pemberani. Saya berani meski gelap. Saya berani meski ada ketakutan dalam diri saya. Saya berani meski kadang merasa penakut dan pengecut.

Saya juga mandiri. Hari pertama masuk TK, saya mengatakan pada ibu bahwa saya akan berangkat ke TK sendiri. Saya memang berangkat sendiri meski diam-diam bibi mengikuti. Saya berani tidur di atas sendiri. Saya tidak takut ketika nekat naik angkot ke sekolah sendiri padahal seharusnya masih antar jemput.

Saya merasa baik-baik saja ketika sendiri. Mungkin karena itu juga saya tidak banyak bicara.

Umur 25.

Kenapa saya merasa belum ada artinya di umur ini ya? Banyak yang bilang, perempuan umur 25 sudah matang, siap dipinang, menjalani hidup baru. Saya? Seharian di rumah, masih mencari kerjaan yang pasti, dan belum bisa membanggakan keluarga.

Kadang saya pikir, sepertinya keluarga akan lebih baik tanpa ada saya yg menjadi beban.

Saya pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa saya adalah orang yang tidak bisa diharapkan. Seketika saya kembali ingat, cerita saat saya masih di dalam kandungan pun memang awalnya tidak diharapkan. Bahkan sempat dipaksa untuk tidak lahir di dunia. Tapi ternyata saya tangguh. Saya kuat sedari masih janin. Saya bersyukur karena Allah masih mengizinkan saya hadir di dunia hingga usia 25 tahun ini. Saya masih punya harapan. Saya mau tunjukkan kalau saya bisa diharapkan.

Saya pernah memberikan diri saya sendiri kado terbaik 3 tahun yang lalu. Tahun ini, saya juga harus berikan hadiah untuk diri saya sendiri!

Selamat ulang tahun, diriku sayang. Aku sayang kamu, meski kadang aku mengutukimu. Tetaplah kuat, tetaplah berani, tetaplah mandiri.

Semoga senyummu mengembang hari ini. 🙂
11 Mei 1992 – 11 Mei 2017

O:)

18 April 2017 § Tinggalkan komentar

Selamat malam,

sebenarnya saya sudah merasa agak ngantuk. Tapi saya lagi ingin menulis perasaan saya tentang seseorang, supaya tidur saya nyenyak.

Seseorang yang saya bicarakan adalah sesosok lelaki yang sekarang jadi pendamping saya. Laki-laki berkacamata, berbadan besar, sering berkeringat, dan senyumnya manis.

Hari ini saya kangen banget sama dia.

Meskipun baru saja beberapa menit yang lalu kami ngobrol via telepon. Meskipun sudah seharian bertukar pesan.

Memang pertemuan dua raga pasti menang dari suara atau kata-kata ya. Pertemuan dua mata, dua bingkai senyum, dua bibir yang mengecup, serta dua tangan yang melingkar dan berpelukan. 

Saya kangen sama dia. Padahal kami baru ketemu tiga hari yang lalu selama kurang lebih delapan jam. 

Saya mensyukuri jarak di antara kami. Kami bukan pasangan yang dapat dengan mudah langsung berjumpa, pun bukan yang harus menabung sekian juta hanya untuk menyapa secara nyata. Saya bisa bertemu dengannya selama masih ada matahari, dan dia masih bisa kembali sebelum kereta terakhir pergi. Delapan jam yang kami habiskan sebenarnya biasa saja, kami hanya ngobrol, makan, ketawa, jalan sedikit, lalu ambil foto.  Oh. Juga menjahili wajahnya dengan bedak dingin adikku, lalu wajahnya semakin merona seperti bintang iklan di televisi. Hahaha.

Jarak di antara kami memang sudah terencana rapi supaya kami bisa saling sabar untuk bisa kembali bertemu.

Kenapa ya dengan hanya melakukan hal-hal biasa, kita bisa jadi bahagia? Bahagia sekaligus menabung rindu, lagi. Lalu rindu ini tidak akan pernah habis.

Kekasih saya ini memiliki perjalanan panjang sebelumnya. Dia hampir putus asa dengan kisah romansanya. Saya pun heran, kenapa bisa laki-laki yang mengagumkan seperti dia tidak mendapatkan cinta? Hampir di umur seperempat abadnya dia menulis kisah pertamanya. Sementara saya, sudah pernah merasa dicintai dan patah hati berkali-kali. Menjadi orang kedua dalam kehidupan romansanya awalnya cukup membuat saya yakin tak yakin karena saya gak bisa pungkiri, cinta pertama atau kekasih pertama pasti akan berkesan dalam waktu yang lama. Walau dengan akhir yang sedih. Jadi ada rasa takut saya, bahwa saya hanya pelarian, tempat singgah sementara, dan hal sejenisnya, meskipun berulang kali dia katakan bahwa saya lebih baik dari yang sebelumnya. (Tapi saya akui, saya kalah cantik. Hahaha.)

Apalagi dengan melihat dia, saya sering berkaca pada diri saya. Sebenarnya dia bisa mendapatkan perempuan lebih layak dari hanya sekadar saya. Saya punya apa. Hm, berlebihan sih emang.

Kalau ditanya, apa yang membuat saya tertarik dan jadi jatuh cinta sama dia, adalah dia pintar. Karena saya tidak pintar, saya dengan mudah jatuh cinta sama dia. Dari obrolan pertama kami bertemu.

Dia, laki-laki yang saya kagumi ini, benar menunjukkan rasa sayangnya kepada saya. Entah dari cara bicaranya, dari cara dia memikirkan saya, dari yang tidak orang lain lihat dan yang orang lain lihat juga. Dia membuat saya percaya, bahwa perempuan seperti saya masih bisa dicintai.

Kenapa bisa dia begitu baik memperlakukan saya? Mungkin itu karena dia sudah pernah patah hati berkali-kali. Saya juga ingin memperlakukan dia lebih dari yang dia lakukan untuk saya. Saya mau dia sadar kalau dia layak dicintai. Bahkan saya gak punya alasan untuk tidak sayang sama dia.

Kata beberapa orang, kami mencintai terlalu jelas. Ya maklum, sedang kasmaran. Hubungan kami baru seumur jagung. Bahkan bertengkar saja belum.

Entah harus bersyukur atau tidak, tapi kami merasa memang perlu bertengkar. Saya perlu tahu bagaimana dia kalau kesal dengan tingkah saya. Dia juga perlu tahu bagaimana saya kalau sedang marah padanya.

Menurut saya, kenapa kami belum juga bertengkar mungkin karena sudah saling mengerti. Omong kosong? Entah.

Perjalanan kami memang masih panjang. Kami sama-sama belum terlalu jauh mengenal atau justru sama-sama sudah mengerti.

Kami sama-sama suka coklat dan tidak suka ikan bertulang. Tapi dia suka air es sementara saya menghindarinya.

Banyak yang bilang memiliki pasangan seumuran itu emosinya sama, susah meredam satu sama lain. Tetapi kata dia, Capricorn dan Taurus itu memang cocok.

Banyak yang bilang kami berdua mirip. Pun kata orang dulu, kalau berwajah mirip tandanya jodoh. Padahal sama pasangan kami sebelumnya juga dibilang mirip. Jadi? Ah. Itu cuma cara orang untuk menyenangkan pasangan yang sedang berbahagia.

Memang sebenarnya banyak perbedaan di antara kami, tapi Insya Allah bisa sama-sama mengerti karena kami memiliki tujuan yang sama 🙂

Hey kamu yang sedang terlelap. Aku mau ngedampingin kamu dalam waktu yang lama, sayang. 🙂

Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan. Yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku.


PS: Mau nambah foto tapi koneksi gak bersahabat. Huu.

30

11 April 2017 § Tinggalkan komentar

Tadi pagi mendung. Jadi ketika bangun tadi, rasanya kayak ada di Bandung. Udaranya dingin, bikin tarik selimut lagi sampe kayak karung.

Oh!

Hari ini hari Selasa. Tanggal sebelas. Si ibu puasa, tapi mukanya melas. Ternyata ibu sakit, jadinya bolos kerja. Aku bilang jangan paksa puasa, tapi yaaa ibu tetap aja. 

Aku sadar, semakin menua setiap hari. Aku juga sadar, tiap pagi berseri-seri. Denger suaranya yang baru bangun tiap hari. 

Tidak ada yang begitu berarti sih hari ini.

Cuma, grup chat keluargaku sedang ramai. Ramai kiriman soal pilkada minggu depan.

FB pun ramai. Twitter ramai. Yang tenang hanya akun Line dengan berita Korea.

Oh!
Ibu tanya kapan aku akan potong rambut. Katanya aku keliatan kusut. Aku bilang nanti kalau sudah dapet kerja. Lalu ibu iya iya aja.

Sebenarnya kepengin segera potong.  Makanya mohon doanya biar cepet dapet kerja, dong! Hehehe.

Mau cepet, tapi ngajinya masih bolong-bolong. Hiks. Aduh, jangan curhat dong tolong. 😂

Melacur – 3. Satu Sampai Lima

11 Februari 2017 § Tinggalkan komentar

Halo! Postingan ini cukup panjang, siap-siap kopi sama pempek dulu kalo mau baca.

“Sebenernya tuh waktu paling tepat buat nyari pacar, ya waktu kuliah. Kalo udah kerja justru lebih susah ya ternyata,” kata temen gue waktu kami lagi di kereta pulang menuju Bogor. Temen gue ini jomblo menahun, terakhir pacaran kelas 2 SMA. Orangnya lucu, keliatannya childish padahal dia dewasa sebenernya, taat beribadah, dan penakluk gunung. Sekarang juga masih jomblo, ada yang berminat? #LhaJualanTemen

Setelah denger omongan dia, gue mikir, iya juga sih kalo udah kerja mungkin susah cari pacar. Pagi berangkat kerja, siang kerja, sore pulang kerja, malem nyampe rumah terus tidur. Weekend istirahat di rumah, kalo lo jomblo dan ga punya gebetan. Kapan mau cari pacar? Ya itu mungkin salah satu alasan orang milih dating app macam Tinder yaa..

Gue awal main Tinder ya iseng-iseng, lalu karena melihat suatu peluang, niat gue berubah jadi UUD (Ujung-Ujungnya Dagang) berhubung gue jualan Pempek. Setelah pernah meet up satu kali yang gak sampe 5 menit, gue juga gak berpikiran apa-apa lagi. Sampai ada seorang cowok yang mau beli dagangan gue dan ngajakin jalan..

Kurang lebih gini isi chatnya. “Kalo abis COD, kita pergi ke mana gitu, mau gak?

Sial! Kok gue deg-degan diajakin jalan?! Lalu gue stay cool dengan bilang, “Yaudah. Asal jangan jauh-jauh aja,” Dia ngajak ke Plaza Kalibata.  Gue pikir sopan sih, ngajakin pergi juga gak sekadar COD. Tapi kan gue harus hati-hati yaa tetep. Untung dia ngajak ke Kalibata. Kalo ada apa-apa, gue bisa kabur ke Stasiun Kalibata, beres deh. Hahahaha. Oke, deal.

Petemuan Kesatu

Ini memang bukan pertama kalinya gue ketemuan sama orang asing. Gue udah cukup sering kok, dengan abang Grab. Jadi, gue gak deg-degan banget sih waktu pertama ketemu. Jujur, gue orangnya agak susah memulai pembicaraan kalo baru pertama kenal jadi waktu di motor dia jemput, gue bingung mau ngomongin apa. Lagian pake helm, suka ga kedengeran. Eh iya, namanya Ogin (pacar akooh sekarang ehe ehe ehe *emot malu*).

Saat beberapa langkah masuk Plaza Kalibata, ada yang teriak…

“NAD!” Hah? Nad? Ga salah denger nih gue? Gue tetep jalan.

“NADIA!” HAH? NADIA? Hmm.. Ini Kalibata yah? Hmm, gue ga punya temen daerah sini kayaknya. Sodara sih ada di Tegal Parang, tapi kok.. Gue tetep jalan, ragu-ragu.

“NADIAAA!” akhirnya gue berbalik sambil deg-degan siapa sikampret yang manggil gue.

“Nadia, sini bantuin lalalala~~(gue gak denger lagi)” dan FIUUUUUH….. Ternyata Mbak-mbak yang jaga toko di sana manggil temennya, namanya Nadia. Nadia. Namanya pasaran yaa. Hahahaha.

Gue kaget. Ogin kaget. Kita sama-sama kaget. Untungnya, hal itu yang mencairkan suasana. Jadi ngobrolnya lancar.

Dari waktu pesen menu di PH, gue tau gue sama dia punya banyak kesamaan. Dia juga udah berancang-ancang ngajak ketemu selanjutnya bulan Februari, bilangnya mau ke Kebun Raya. Pertemuan pertama kami gak kerasa cepet banget.

Tinder itu berat banget di ponsel gue. Setelah ketemu Ogin, gue langsung uninstall.

Ogin nge-add Path gue. Gue accept. Gue scroll Path-nya. Ada cek in di Path, “Kopdar Tinder” di PH. Wah, sama gue ni. Gue scroll lagi. Ada 2 cek in lagi dengan caption yang sama di dua tempat berbeda. Hmmm… Oh, gitu. Next “Kopdar Tinder” di mana yaa?

Pertemuan Kedua

Siapa yang sangka, dua hari setelah itu kami ketemu lagi. Di kantor Ogin. Cara ketemunya kayak di drama Korea. Dua orang yang saling berjauhan jalan ke satu tempat yang sama, gue melambaikan tangan sambil senyum, Ogin juga, dan kami ketemu di tengah-tengah. Plus efek angin-angin. Sumpah, kayak begitu! Hahaha.

Kalo dipikir-pikir agak keterlaluan gak ya, gue ketemu orang yang baru aja 2 hari sebelumnya pertama kali ketemu, baru berapa hari kenal, udah main ke kantornya aja. Ditambah waktu Zuhur..

“Mau jamaah gak?” Deg! Lutut gue lemes.

Ya Allah, gue diajakin jamaah. GUE. DIAJAKIN. DI-A-JA-KIN. Gue jawab berusaha stay cool padahal nahan girang, “Oh, iya boleh boleh.”

Buat gue, “Mau aku anterin gak?” itu belum ada apa-apanya dengan, “Mau jamaah gak?” intinya hari itu gue seneng. Buanget.

Si Hati ngajakin bercanda, “Nad, udah lama ya gak ngerasa deg-degan karena cowok? Rasain lo!”
Ya, ya, ya. I’ll give it a try..

Pertemuan Ketiga

Allah itu Maha-Surprise! Dua hari setelah itu, tanpa rencana sebelumnya, gue ketemu lagi sama Ogin. Di kantornya lagi. Bayangin.. Dalam waktu seminggu, udah 3 kali ketemu. Bisa gitu ya? Pas banget, hari itu Ogin baru dilantik jadi PNS juga. Selamat yaa! 😀

Komunikasi kami jadi makin intens. Di semua sosmed, kami udah temenan. Hahaha.

Gue bisa ngerasain Ogin naksir gue. Pertama, dia sering nyetel lagu Nadia di Path. Kedua, dia sering bilang, “Ntar kalo udah saatnya, aku ngomong”. Ketiga, jelas terbaca dari chat kami dan sikap dia waktu ketemu. Apalagi pernah waktu itu dia ngechat, “Ngomong sekarang apa 2 minggu lagi nih?” Tapi gue bilang ke Ogin untuk bersabar. Karena gue juga gak mau kalo ditembak lewat chat sih! Hahaha. Lagipula, kami baru kenal 2 minggu kok. Terlalu dini. Orang lagi seneng bawaannya emang kepengin buru-buru ya.

Pertemuan Keempat

Pertemuan tak terduga lainnya tanggal 2 Februari, gue lagi di ada urusan di Palmerah dan Ogin ngajakin untuk makan siang bareng. Waktu itu cuacanya lagi galau. Sampe-sampe Ogin jemput gue dari Kuningan ke Palmerah lalu ke Kuningan lagi. Waktu ketemu, dia nyebrang jalan buat jemput gue, terus nyebrang kembali buat masuk ke taksi. Padahal mah gue sendiri juga bisa. Manner. Salut.

Hari itu Ogin pake batik. Gue seneng ngeliatnya. Hehehe. Kami makan di Sate Khas Senayan. Oh iya, pekan itu dia sempet gak masuk kerja karena sakit. Jadi gak boleh dulu makan kacang, mie, sambel, santen. Dan gue makan sate bumbu kacang pake sambel sambil ngeledekin dia. Hohohoho! :p

“Nad, kalo ada cowok yang nyempetin waktunya untuk ketemu dan ngajak lo makan siang di hari kerja, wajib dipertahanin! Itu tandanya dia gak main-main sama lo!” gitu kata temen gue, malemnya. Yaela padahal temen gue jomblo juga, cantik banget lagi mirip Zaskia Mecca, pinter juga, ada yang minat? #LhaJualanTemenLagi

Pertemuan Kelima

Dua hari setelah itu, kami ketemu lagi. Kalau ini memang direncanain dari jauh hari. Gue udah mandi pagi-pagi, Ibu udah nyiapin makanan, gue beres-beres rumah (dan nyiapin hati). Ea. Sekitar jam 9 pagi dia sampai di depan rumah. Ketemu orangtua gue. Ngobrol sama Ayah –yang entah ada angin apa tumben banget mau ngobrol sama temen gue, seputar daerah di Kalibata. Gue roaming abis.

Rencananya kami mau ke Kebun Raya. Rencana awal perkiraan gue, gue jemput dia di Stasiun Bogor lalu langsung ke Kebun Raya. Eh taunya maksud dia, dia ke rumah gue, bareng-bareng ke Kebun Raya, trus ke rumah gue lagi, baru dia pulang. Manner. *tepuk tangan*

Tapi waktu di jalan mau ke sana malah hujan deras, jadi ganti destinasi ke Botani.

Gue gak kepikiran ketika sampai di Starbucks, dia akan langsung to the point. Waktu dia ngomong gitu, keliatan sih dia deg-degannya, hehehe. Tapi, hal yang buat gue kaget adalah waktu dia bilang kalo dia sayang sama gue. Secepat itukah? Tiga minggu? Kok bisa? Sayang itu butuh proses, Gin.

Tahapnya menurut gue, 1. tertarik – 2. tertarik untuk mengenal lebih jauh – 3. suka – 4. sayang – 5. cinta.

Ogin bilang kalau dia sayang. Dalam definisi gue, sayang itu sudah meliputi rasa ingin menjaga, merasa bergantung, dan keterlibatan kata “kangen”. Sementara, dalam dua minggu pertama gue mengenal dia masih di tahap kedua, gue tertarik untuk mengenal dia lebih jauh tapi belum tau bakal kayak gimana ke depannya. Gue juga masih punya perasaan takut itu, sih. Baru setelah pertemuan keempat itu memasuki tahap yang ketiga. Suka. Suka dalam definisi gue berarti gue udah merasa nyaman sama dia kayak gimana pun keadaannya dan gue selalu mau mastiin kalo dia baik-baik aja. So?

Gila, gak nentu banget rasanya. Pengin bilang “Iya”, tapi tunggu dulu, tahan dulu Nad, kira-kira Ogin yakin gak nih.

“Gak kecepetan ya, Gin?”
“Kamu yakin, Gin? Sayang itu butuh proses.” Dia bilang yakin.
“Bismillah, jalanin aja ya..” akhirnya kata-kata itu meluncur dari gue. Lega.
Ogin langsung berbinar, “Jadi, kamu mau jadi pacar aku nih?”
“Iyaaaa!”
“Yes!” Kemudian Ogin langsung buka ponsel, masuk Facebook, ganti relationship status. Sampe disetting ke tanggalnya juga.
“Jadi, sekarang kita manggilnya apa nih?” Hahahaha!

Hai, sayang!
Maaf ya hari ini sempet nyuekin kamu karena aku sibuk nulis pelacuran ini. Hahaha. Aku kangen nih. Kamu udah tidur ya. Good night!

11:56, 10 Februari 2017. Bogor lagi hujan.

Melacur – 2.UUD (Ujung-ujungnya Dagang)

11 Februari 2017 § Tinggalkan komentar

Halo!

Pernah gak kesulitan ngebuka ikatan tali sepatu? Atau ngebuka bungkus paketan yang banyak banget solatipnya? Atau ngebuka tutup botol obat yang masih baru dan tangan lo lagi basah? Kalo kesulitan, apakah lo berusaha sendiri atau nyerah dan minta tolong orang lain? Kalau gue paling sebel disuruh ngebuka iketan plastik. Ujung-ujungnya nyerah dan minta tolong orang ngebukain atau ambil gunting biar cepet.

Trus apa hubungannya, Nad? Ya nggak ada sih. Pengen curhat gitu doang. Hahahaha.

Gak deng, canda. Buat gue, membuka hati tuh sama malesinnya dengan buka iketan plastik. Gue males bukain iketan plastik yang ribet dan “gak ada kuku”, maksudnya jari-jari mungil gue ini gak biasa berkuku panjang. Sama halnya untuk buka hati, walaupun gue udah merdeka dari rasa galau. Ada rasa takut untuk gak bisa diterima lagi, udah males mengenal orang baru, dan capek memulai hubungan dari awal.

Sampai…

Awal Desember tahun lalu, gue lagi ketemu sama temen-temen gue. Sampailah obrolan kami ke, “Eh lo lagi deket sama siapa sekarang?” yang kemudian temen gue bilang kalo lagi deket sama orang dari Tinder.

WHAT? Dating app? Seriusan pake download kayak gituan?
Kemudian temen gue yang lain lagi bilang, “Temen gue ada tuh yang pacaran kenal dari situ.” “Ada yang nikah juga loh!” “Iya, gue malah ada yang nemu asik banget ngobrolnya dari situ,” dll. Ternyata banyak juga temen gue yang main Tinder.

Gue tau Tinder udah dari lama sebenernya, bahkan ada kok temen gue yang lain yang udah main Tinder waktu dulu gue marahin, “Lo ngapain sih main begituan, kayak ga ada orang lain aja?” karena gue takut denger berita-berita kasus penculikan, pembunuhan, yang kenal dari sosmed gitu.

Kemudian waktu lagi ngomongin masa depan, temen gue bilang, “Sekarang jodoh tuh bisa datang dari mana aja. Apalagi zaman modern begini dan kita penganut smartphone. Ada sosmed, ada dating app, gak ada salahnya loh kalo mau kenalan atau cari pacar dari dunia maya. Masa kita mau nunggu doang? Kan harus ada upayanya juga. Ya emang harus hati-hati tapinya. Cobain aja lagi download dulu, kali aja dapet kenalan yang asik. Itung-itung biar hape lo ga Korea mulu! (ini kampret sih emang hahaha)”. Gue percaya gak percaya, masih menyangkal, jadi awalnya cuma ngedengerin aja cerita mereka.

Lalu perasaan gue gelisah, gue penasaran. Gak lama pun gue install Tinder.

Ini Tinder maininnya gimana? Gue awalnya gak ngerti. Akhirnya gue berhasil untuk swap-swap. Gue agak shock, agak geli, agak “ewwwh” waktu pertama nge-swap. Jadi banyak yang ke kirinya. Ada banyak juga sih yang match. Kaget gue ketika ada yang nge-match. Kok ada yang mau nge-swap kanan gue? Salah swap kali ya atau foto gue terlihat kece saat itu. Thanks to filter berlapis.

Dan ada yang ngechat. Saat pertama chat, gue merasa kembali ke zaman gue SMP, main mIRC. Perkenalan awal emang kaku banget. Nanya anak mana, Bogornya di mana, kuliah atau kerja, kuliah dulu di mana, jurusan apa, kerja  di mana, kantor apa, posisinya apa. POSISI TANGAAAAN? YUHUUUU! I wanna go, go, Sastra go! I wanna fight, fight, Sastra fight! I wanna win, win, win, Sastra win! I wanna go, fight, win, Sastraaaaa! (Sorry, itu yel-yel waktu ospek. Masih keinget sampe sekarang hahaha)

Dari sekian banyak chat, gue takut banget buat kasih kontak. Ada yang baru chat langsung minta kontak. Oh iya, gue juga ga pernah chat duluan. EMANGNYA GUE CEWEK APAAN. Hahaha. Bukannya belagu, tapi kan kalo udah sama-sama match secara gak langsung tandanya, “Gue udah nge-swap kanan lo nih, lo kan laki, chat duluan lah yaa..” gitu.

Berhubung gue masih belum bekerja tetap, gue selalu bilang kalau gue jualan pempek dan selalu berujung, “Mau beli gak? Enak loh, asli bikinan sendiri.” Kemudian gue berpikir, apakah Tinder bisa jadi ladang rezeki? Kenapa tidak? Sampai akhirnya di foto dan profil gue, gue masukin foto pempek. Jadi kalau ada yang nanya gue kerja di mana, gue suruh liat profil gue deh. Ternyata banyak juga yang jadinya nanyain soal pempek gue dan mau pesen. Akhirnya gue memutuskan untuk jualan. Tujuan gue bukan lagi mengenal laki-laki, tapi jualan. Di Tinder.

Ada satu orang cowok yang beneran niat beli. Gue pun meet up, gak lebih dari 5 menit. Sekadar janjian di depan suatu komplek perumahan, say hi, basa-basi nanya nunggu lama atau enggak, terus gue ngasih pempek, beliau ngasih duit, kemudian nanya ada urusan apa setelah ini, dia ada urusan anu, gue ada urusan anu, kemudian say good bye. Selesai. Sesingkat itu.

Memang setelah itu beliau jadi sering nge-chat. Tapi gak intens sih. Ilang-timbul, kayak pulpen mau abis. Lalu gue swap kanan-kiri lagi di Tinder, chat-chat lagi, tapi gue ngerasa kayaknya gue gak bisa nih kayak gini. Jualan doang. Semua orang yang ngechat, gue tawarin pempek. Kayaknya ada yang beberapa ilfil kali ya. Hahahaha. Sampai akhirnya gue bosen sendiri dan emang Tinder tuh berat banget ya di ponsel gue. Lalu gue uninstall. Udah lah. Gue gak bisa main begituan buat kenalan. Bye~

Gue kira gue gak akan install lagi.

Di akhir Desember gue sakit, temen gue datang menjenguk dan kami ngobrol soal Tinder. Temen gue cerita, temennya dia juga kenal dari Tinder bla bla bla. Gue cerita soal pengalaman Tinder gue. Berhubung temen gue ini udah jomblo menahun dan sedang tarik ulur dengan seorang lelaki, gue memberi petuah ke dia untuk install Tinder.

Tapi gara-gara dia nanya-nanya soal log in, setting, dsb-nya, akhirnya gue install Tinder lagi. Buat bantuin temen gue yang sama gapteknya sama gue!

Gue udah gak mau chat-chatan lagi niatnya. Tapi gue iseng-iseng swap-swap, eh taunya ada yang match, ada yang ngechat, nanyain pempek. Otak jualan gue masih jalan dan semua biasa-biasa aja, gak kepikiran buat cari kenalan yang bener-bener intens ngechat. Sampai ada satu cowok yang mau beli pempek gue, dan ngajakin jalan. Gak sekadar COD-an…

 

Bersambung, ya!

Melacur – 1. Merdeka dari Galau

11 Februari 2017 § Tinggalkan komentar

Halo!

Blog ini memang saya khususkan untuk tempat pelacuran saya maksudnya pelarian curhat [HAHAHA]). Biasanya saya melacur di sini bersastra (ceileeee.. anak sastra) sekaligus belajar menulis juga. Tapi ada yang ingin saya lacurin selain bersastra. Saya mau bercerita juga. mengenai beberapa hal yang belakangan membuat saya senyum-senyum di depan layar. Masalah hati. Akhirnya Nadia akhirnya membuka hati! *tepuk tangan*

Di luar sedang gerimis, beberapa hari ini Bogor memang sedang cukup dingin. Tapi hati saya hangat.

(HAHAHAHAHA DUH GELI YA?! Oke, saya akan berhenti bersaya-sayaan dan berbaku-bakuan untuk sementara deh, ya!)

Oke, mulai ya?

Gue untuk memutuskan bercerita di blog –yang buat gue pribadi ini adalah blog yang sangat bermakna karena memuat beberapa kisah percintaan gue dalam bentuk puisi atau prosa—setelah membaca postingan blog seseorang. Ini. Siapakah beliau? Statusnya sekarang sih kekasih gue (Nad, plis stop menggunakan diksi yang puitis!), hehehe. Pacar. Namcin. Namja-chingu. Ayang bebeb.

Gue sangat mengapresiasi beliau karena menuliskan seluruh kisah kami dari awal kenal dengan sangat detail. Terima kasih ya, kamu.

Berawal dari kejadian yang lalu, gue sempat memutuskan untuk menutup hati karena gue merasa kejadian-kejadian yang dulu itu udah ga baik buat kesehatan jasmani rohani ke depannya. Ada waktu gue bener-bener galau, misal waktu malam sebelum tidur gitu kadang keinget lagi, nangis lagi. Denger lagu Korea aja sampe nangis. Bukan karena galau, karena ga ngerti artinya. Hm. Receh ya. Sempet tebersit juga kepengin menjalani hidup sendiri selamanya.. Astaghfirullah!

Namun, Alhamdulillah gue gak perlu waktu lama menikmati masa galau. Gimana caranya gue merdeka dari kegalauan? Gue menyibukkan diri dengan tenggelam dalam lubang hitam Korea, bisnis pempek, dan tentunya curhat sama Allah. Jadi…. imbang lah yaaa. Hahaha.

Gue memilih untuk nikmatin dulu rasanya sendirian, udah lama banget gak gue rasain. Gue paksain untuk jarang megang ponsel. Uninstall aplikasi sosmed yang memungkinkan setan berbisik menyuruh gue buat stalking. Awalnya sih susah. Susah banget.

Pelariannya adalah: Fangirling. Hasilnya? Wah, daebak! Gue berhasil!

Sampai saat ini, gue gak nyesel karena menghabiskan waktu untuk fangirling-an. Masa-masa di mana ponsel gue hanya rame karena chat OA fanbase KPOP atau BC dari Grup WA keluarga, gue lebih banyak menggunakan ponsel untuk mengunduh drakor sampe baper dan Youtube-an streaming Oppa-Oppa kecintaan gue. Walaupun gue sempet dikatakan agak freak sama temen-temen gue karena si lubang hitam Korea ini, gue gak jatuh sampai ke dasar jurangnya kok. Gue menjadikan ini sebagai pengalih perhatian. Positifnya, gue hafal huruf Hangul, gue tau beberapa kosakata bahasa Korea, belajar bahasa Inggris, dan yang paling penting gue jadi punya banyak teman baru dari berbagai belahan dunia karena kami adalah fangirl! Muahahaha. (Bahkan teman pertama hasil gue fangirling-an go internesyenel ini datang ke Indonesia bulan Januari kemarin. Dia ada urusan di sini dan ngajakin meet up. Tapi di Surabaya. Jauh! Gak jadi deh. Hehehe.) Jadi maksud gue, ambil positifnya. Bukan berarti karena Korea standar laki yang gue suka juga jadi berubah. Gak sama sekali kok, masih sama. Gue masih waras dan sadar banget. Gue masih suka cowok tulen, Indo, muslim, berkacamata, dan gak alay. Hehehe..

Alhamdulillah banget juga gue bisa mengatasi masa-masa sulit kemarin karena kakak gue memulai bisnis pempek. Jadi gue disibukkan bergelut di pasar dan dapur. Gak cuma makan doang. Gue diajarin turun langsung mulai ke pasar beli ikan dan bahan-bahan, belajar ngadonin dan masakin pempek, sampe bungkusin cuko. Ditambah promosi ke kerabat-kerabat, sampe nganterin langsung ke yang mesen. Gue sangat menikmati itu semua. Hasil dari ini, gue jadi mengenal pasar, gue bisa bikin sekitar 100-200 pempek dalam 8 jam sendirian, bahkan ketemu temen SD yang udah belasan tahun gak ketemu! Memang yaa bikin diri sendiri produktif itu sangat penting demi kesehatan jiwa. Serius, daripada gue tenggelam dalam kegalauan, nangis seharian inget masa lalu. Mending gue jualan. Belajar masaknya dapet, silaturahmi dapet, duit juga dapet. Ya kan? Tataplah ke depan. Sayangi dirimu sendiri. 😛

Terakhir udah pasti banget berserah diri ke Allah. Perbanyak ibadah. Ada banyak hal yang gue pikir gak bisa diceritakan ke orang, tapi bisa kita salurkan ketika duduk bersimpuh di atas sajadah, ngeluarin uneg-uneg semuanya ke Allah. Entah mengapa ini sangat melegakan. Super melegakan. Gimana ya, gue merasa Allah sangat menyayangi gue sedemikian besarnya padahal kemarin-kemarin gue malah menjauh dari-Nya. Gue malu sendiri. Pernah gak sih merasakan malu luar biasa pada diri sendiri? Pada Allah apalagi. Rasanya udah nyuci baju yang ada noda tapi teteeep aja noda itu gak ilang-ilang. Alhamdulillah banget, hidup gue rasanya menjadi lebih baik sekarang. Seperti dikembalikan ke jalan yang benar oleh-Nya. Terima kasih ya Allah, Engkau Mahakeren! Semoga tetap istiqomah ya, Nadia.

Mulai dari itu semua, gue menikmati masa-masa sendiri gue. Lumayan lama juga mengistirahatkan hati sambil perbaiki diri. Rasanya malah jadi kaku kalau mau deket sama lawan jenis. Sampai di bulan Desember kemarin, temen gue bercerita mengenai satu aplikasi bernama Tinder…

 

Bersambung, ya.